INDOZONE.ID - Komet Halley identik dengan Edmond Halley, astronom yang mendeskripsikan orbitnya secara ilmiah pada abad ke-18. Namun, klaim Halley sebagai penemu pertama sifat periodik komet ini kini mulai dipertanyakan oleh para peneliti.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa keteraturan orbit komet yang melintasi Bumi secara rutin tersebut kemungkinan besar sudah diketahui oleh pihak lain sebelum tahun 1705.
Sebuah penelitian yang dimuat dalam buku Dorestad and Everything After (2025) menuturkan bahwa seorang biarawan asal Inggris, Eilmer dari Malmesbury atau Aethelmaer, diduga telah mengaitkan dua pengamatan komet tersebut.
Baca juga: Astronom Perancis Ini Menjadi Pemegang Rekor Peneliti Komet Terbanyak Sepanjang Masa
Temuan terbaru ini menggeser garis waktu sejarah, menunjukkan bahwa keteraturan komet tersebut telah disadari sejak enam abad sebelum masa Edmond Halley.
Mengenal Eilmer: Sosok Penerbang Pertama yang Terpikat oleh Langit
Eilmer adalah sosok di balik upaya penerbangan pertama yang legendaris di Inggris. Dengan sayap buatan yang terinspirasi dari mitos Icarus, ia terjun dari menara tinggi pada awal abad ke-11 demi mengejar impian terbangnya.
Peristiwa itu memang mematahkan kedua kakinya, namun gagal mematahkan semangat sang pengamat langit ini untuk terus menelusuri rahasia alam semesta.
Selain ketertarikannya pada penerbangan, Eilmer juga mempunyai minat yang tajam pada astronomi.
Berdasarkan kronik abad ke-12 yang ditulis oleh William dari Malmesbury, Eilmer muda sempat menyaksikan penampakan komet yang benderang di langit Inggris pada tahun 989. Puluhan tahun berselang, tepatnya pada 1066, ia kembali menjumpai benda langit yang serupa.
Simon Portegies Zwart, seorang astronom dari Universitas Leiden, meyakini bahwa Eilmer telah menyadari bahwa kedua fenomena tersebut bukanlah kejadian terpisah, melainkan kemunculan kembali dari objek yang sama.
Berdasarkan catatan William, saat melihat komet pada 1066, Eilmer berseru, "Kamu datang juga, ya?... Sudah lama sekali sejak aku melihatmu; tetapi saat aku melihatmu sekarang, kamu jauh lebih mengerikan, karena aku melihatmu mengancam kejatuhan tanah airku."
Kondisi Inggris yang sedang mengalami gejolak kekuasaan setelah wafatnya Raja Edward Sang Pengaku menjadi latar belakang pengamatan kedua Eilmer.
Apabila catatan sejarah yang disusun William akurat, maka hal ini membuktikan bahwa Eilmer mampu mengidentifikasi hubungan periodik antara dua fenomena langit yang ia saksikan sepanjang hidupnya, jauh sebelum ilmu astronomi modern memetakannya secara resmi.
Perjalanan Panjang Komet Halley
Dalam dunia astronomi, Komet Halley dikenal sebagai komet pertama yang teridentifikasi memiliki siklus berulang. Dengan orbit berbentuk elips, ia mendekati Bumi dalam rentang waktu 72 hingga 80 tahun.
Catatan historis mengenai komet ini disinyalir sudah ada sejak tahun 239 SM melalui kronik kuno Tiongkok. Secara tradisional, fenomena ini sering ditafsirkan sebagai pertanda buruk bagi penguasa.
Salah satu dokumentasi paling ikonik adalah Tapestri Bayeux, yang mengabadikan penampakan komet tersebut di tahun 1066 bersamaan dengan peristiwa penaklukan Inggris oleh William sang Penakluk.
Baca juga: Menakjubkan! Wanita Ini Rekam Pecahan Komet yang Tiba-tiba Melaju Kencang di Langit Portugal
Edmond Halley baru menyatukan data penampakan komet tahun 1531, 1607, dan 1682 untuk memprediksi kepulangannya pada 1758. Walaupun ia meninggal sebelum ramalannya terbukti, tetapi namanya abadi sebagai identitas komet tersebut.
Peran Eilmer dalam sejarah sains dunia kini mendapatkan validasi baru melalui penelitian bersama antara Portegies Zwart dan Michael Lewis.
Jika akurasi catatan sejarah ini dipadukan dengan data astronomi masa kini, tampak jelas bahwa Eilmer memiliki ketajaman luar biasa dalam mengenali keteraturan alam semesta jauh melampaui zamannya.
Komet Halley, sang pengunjung abadi yang mungkin pantas menyandang nama Eilmer, diprediksi akan kembali melintas di cakrawala kita pada Juli 2061.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Live Science