Kamis, 13 NOVEMBER 2025 • 16:35 WIB

Bandung Lautan Api: Ketika Warga Rela Membakar Kotanya Demi Kemerdekaan

Author

Ilustrasi Gedung Sate Bandung (freepik).

INDOZONE.ID - “Halo-halo Bandung, ibu kota Parahyangan...”

Siapa sih yang nggak kenal lagu ini? Lagu legendaris karya Ismail Marzuki ini ternyata punya cerita kelam dan heroik di baliknya — tentang perjuangan rakyat Bandung di tahun 1946 yang rela membakar kotanya sendiri demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Awal Mula Keributan

Begitu Jepang menyerah ke Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Belanda nggak terima. 

Mereka balik lagi ke Indonesia membonceng pasukan Sekutu (AFNEI), pura-pura mau bebaskan tawanan perang. 

Baca juga: Eksperimen Monster yang Mengguncang Dunia Psikologi: Cerita Kelam di Balik "The Monster Study"

Tapi sebenarnya, mereka bawa serta NICA, pemerintahan sipil Belanda, yang mau balik lagi jajah Indonesia. Ya, warga pun gerah.

Ultimatum yang Bikin Geram

Awalnya Sekutu bersikap baik, tapi lama-lama minta ini-itu. Mereka suruh rakyat menyerahkan senjata dan ngosongin Bandung Utara. 

Ya mana mau? Pertempuran pun pecah di mana-mana, dari Hotel Homann sampai Tegalega.

Tanggal 23 Maret 1946, Sekutu ngasih ultimatum lebih gila lagi: seluruh Bandung harus dikosongin sejauh 11 kilometer! 

Pemerintah pusat menyarankan mundur biar korban nggak berjatuhan. Tapi bagi pejuang Bandung, mundur bukanlah pilihan.

Baca juga: Marsinah, Buruh Pejuang Hak Pekerja yang Kini Resmi Jadi Pahlawan Nasional

Keputusan Pahit yang Bikin Merinding

Di bawah pimpinan Kolonel A.H. Nasution, para pejuang dan tokoh masyarakat akhirnya ambil keputusan yang bikin bulu kuduk merinding: mereka sepakat untuk membumihanguskan Bandung.

Bukan karena benci kotanya, tapi biar Sekutu nggak bisa manfaatin Bandung sebagai markas.

Malam 24 Maret 1946, sekitar jam 9 malam, api mulai berkobar. Dalam hitungan jam, seluruh kota jadi lautan api. Rumah, toko, gedung-gedung, semua dilalap si jago merah. 

Ratusan ribu warga ngungsi cuma bawa baju yang melekat di badan.

Yang bikin nangis, banyak dari mereka yang bakar rumahnya sendiri tanpa disuruh. Rela kehilangan segalanya, asalkan jangan sampai dimanfaatin musuh.

Aksi Nekat si Pemberani, Muhammad Toha

Di tengah kobaran api, ada cerita heroik dari Muhammad Toha, pejuang muda umur 19 tahun. Dia nyelundup ke gudang amunisi Sekutu di Dayeuhkolot bawa granat dan dinamit. 

Baca juga: Oranje Nassau: Jejak Industri Tambang Batu Bara di Kalimantan Selatan Abad ke-19

Meski tertembak dan terluka parah, dia berhasil ledakkan gudang senjata itu. Toha gugur, tapi berhasil lumpuhkan persenjataan musuh. 

Dari Puing, Tumbuh Semangat Baru

Setelah Bandung jadi abu, perjuangan belum berakhir. Para pejuang terus melawan lewat perang gerilya dari luar kota. 

Semangat mereka nggak pernah padam, meski kota yang mereka cintai tinggal puing.

Kisah heroik ini kemudian diabadikan dalam lagu "Halo-halo Bandung" dan Monumen Bandung Lautan Api setinggi 45 meter di Tegalega. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube/Nessie Judge

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU