INDOZONE.ID - Jauh dari hiruk pikuk kota, di sebuah kecamatan kecil bernama Tulung di Kabupaten Klaten, ada kisah yang tak banyak diketahui.
Kisah tentang warga desa yang tak menyerah pada nasib. Tentang dapur-dapur kecil yang menyala bukan hanya untuk memasak, tapi juga untuk bertahan hidup.
Tulung terdiri dari 18 desa. Wilayah ini dikenal sebagai lumbung pertanian. Sawah-sawah terbentang luas, tanahnya subur, udaranya sejuk.
Baca juga: Indigofera, Emas Biru Pemicu Kelaparan yang Jadi Mimpi Buruk Pribumi di Era Kolonial
Hidup dari bertani terasa cukup. Tapi semuanya mulai berubah saat krisis ekonomi menimpa Indonesia di era 1990-an.
Harga pupuk melambung, obat-obatan tanaman jadi mahal, dan yang paling sulit adalah ketika lahan pertanian semakin kecil karena terus diwariskan turun-temurun.
Banyak petani bingung harus bagaimana. Sawah tak lagi menjanjikan seperti dulu.
Di tengah tekanan ekonomi itu, lahirlah inovasi-inovasi baru. Warga mulai mencari celah untuk bertahan. Salah satunya yaitu membuat mie soun.
Ya, mie bening seperti bihun, yang dibuat dari pati pohon aren. Awalnya hanya beberapa rumah yang mencoba.
Baca juga: Potret Surabaya Abad ke-19: Bagaimana Tanam Paksa Mendorong Transformasi Wajah Kota
Produksi masih ala kadarnya, sekadar untuk mencukupi kebutuhan sendiri atau dijual ke tetangga. Tapi dari yang kecil itulah, harapan mulai tumbuh.
Lama-lama, usaha rumahan ini menyebar ke berbagai sudut desa. Ada yang mulai mempekerjakan tetangga, ada yang memperbesar skala produksi (Neni, 2012).
Mie soun buatan Tulung punya rasa yang khas, kenyal dan gurih, cocok untuk berbagai masakan. Tak heran kalau banyak diminati orang dari luar daerah.
Namun, jalan mereka tak selalu mulus. Tantangan datang dari berbagai arah. Bahan baku utama, yaitu pohon aren, makin langka.
Dulu cukup bahan baku bisa diambil dari sekitar desa, sekarang warga Tukung harus mencari sampai ke pelosok daerah lain. Persaingan pun makin ketat.
Produsen dari luar datang dengan teknologi yang lebih modern, kemasan yang lebih menarik. Tapi, warga Tulung tetap berdiri. Mereka sudah terlatih oleh kehidupan dan tak mudah goyah.
Apa yang membuat usaha ini bertahan? Mungkin karena bagi mereka, mie soun bukan sekadar barang jualan. Di dalamnya ada rasa cinta pada warisan desa. Ada semangat gotong royong. Ada keteguhan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca juga: Obsesi Kolonial di Balik Riset Fenomena Alam Nusantara Abad 19
Kini, saat kita melihat sehelai mie soun dari Tulung, mungkin kita tak menyangka di balik beningnya, ada cerita tentang tanah yang makin sempit, tangan-tangan yang tak berhenti bekerja, dan tekad yang tak pernah padam.
Mie soun itu mungkin terlihat sederhana, tapi ia lahir dari keberanian warga desa untuk tidak menyerah.
Dan siapa sangka, Dari dapur kecil yang dulu hanya menyala untuk bertahan hidup, kini lahir simbol kebanggaan. Mie soun Tulung bukan hanya soal makanan tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang bagaimana desa menaklukkan zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Skripsi