INDOZONE.ID - Kebudayaan manusia dapat dilihat melalui tiga bentuk utama: ide, perilaku, dan artifak.
Sementara ide bersifat abstrak dan tidak tampak secara fisik, perilaku mencerminkan pola-pola tertentu yang bisa diamati, dan artifak, seperti benda atau alat yang digunakan manusia, dapat dikenali secara langsung melalui panca indera.
Salah satu artifak paling terkenal dari sejarah Tiongkok kuno adalah bi disc, sebuah benda yang memiliki makna simbolis dan budaya yang mendalam.
Bi disc adalah sebuah artefak berbentuk cakram datar dengan lubang di tengahnya, umumnya terbuat dari bahan giok atau jade.
Artefak ini pertama kali muncul pada budaya Liangzhu yang berkembang di Delta Sungai Yangtze sekitar 3400 hingga 2250 SM, menjadikannya sebagai salah satu bentuk kebudayaan yang paling tua dari Tiongkok kuno.
Dalam penemuan arkeologis, bi disc sering ditemukan dalam makam-makam para bangsawan atau orang-orang berstatus tinggi di masyarakat Tiongkok kuno.
Penemuan ini sering kali diartikan sebagai simbol adanya perbedaan kelas yang mencolok antara bangsawan dan lapisan masyarakat lainnya. Bi disc pertama kali dikenal pada periode Neolitik dan terus diproduksi hingga dinasti Shang (1600-1046 SM), Zhou (1046-256 SM), dan Han (202 SM–220 M).
Baca Juga: Peradaban Sungai Kuning: Membedah Asal Usul Kebudayaan Cina Kuno
Dalam kebudayaan Tiongkok kuno, bi disc memiliki makna simbolis yang dalam. Beberapa sejarawan percaya bahwa bentuk cakram dengan lubang di tengahnya melambangkan langit.
Bi disc sering ditemukan berpasangan dengan artefak lain, seperti cong (sejenis pipa segi empat), yang melambangkan bumi.
Konsep ini selaras dengan pandangan kosmologi kuno Tiongkok yang menyatakan bahwa langit meliputi bumi, sementara hubungan antara keduanya diajarkan dan dipelihara oleh para shaman, pemimpin spiritual yang memiliki pengetahuan mendalam tentang alam semesta.
Fungsi asli dari bi disc masih menjadi misteri, tetapi posisinya yang sering ditemukan di dekat jenazah bangsawan menunjukkan peranannya sebagai simbol langit yang melindungi jiwa di alam baka.
Bi disc biasanya diletakkan di sekitar area perut atau dada jenazah, yang diyakini dapat melindungi roh orang yang telah meninggal dari energi jahat. Selain itu, ukiran motif naga pada bi disc juga memperkuat simbolisme, karena naga dalam budaya Tiongkok melambangkan kekuatan, keberuntungan, dan perlindungan.
Material yang digunakan untuk membuat bi disc juga memiliki nilai simbolis yang penting. Giok (jade), sebagai bahan yang paling sering digunakan, dianggap sebagai simbol moralitas, kemurnian, dan kedudukan sosial yang tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Invaluable