Pabrik Gula Mojo di Kabupaten Sragen
INDOZONE.ID - Bagi siapa pun yang melintas di jantung Kabupaten Sragen, sosok bangunan megah dengan gaya arsitektur kolonial yang mencolok tentu akan menarik perhatian. Pabrik Gula (PG) Mojo berdiri bukan hanya sebagai fasilitas produksi, melainkan juga monumen hidup yang merekam pasang surut industri gula di Tanah Jawa. Sejak cerobong asapnya pertama kali mengepul pada akhir abad ke-19, pabrik ini menjadi saksi bisu transformasi ekonomi, mulai dari era kolonial hingga masa kemerdekaan. Hal tersebut menjadikannya sebagai salah satu warisan sejarah paling bernilai yang masih beroperasi hingga saat ini.
Dibangun pada 1883 oleh perusahaan swasta Belanda, PG Mojo mengusung garis desain Indische Empire Style yang sangat tegas. Tembok-tembok tebal, jendela-jendela tinggi dengan sirkulasi udara maksimal, serta struktur baja kokoh yang didatangkan langsung dari Eropa mencerminkan kemajuan teknologi industri pada masanya. Berbeda dengan bangunan modern yang lebih mengutamakan fungsi, PG Mojo tetap mempertahankan estetika klasik yang menghadirkan nuansa nostalgia, seolah setiap sudut bangunan menyimpan kisah para teknisi dan pekerja yang telah mengabdikan diri lintas generasi.
Baca juga: Pabrik Gula Gondang Winangoen: Dari Jejak Kolonial ke Layar Bioskop yang Bikin Merinding
Salah satu daya tarik utama PG Mojo adalah tetap hidupnya tradisi lokal di tengah deru mesin-mesin pabrik. Setiap kali musim giling tiba, masyarakat Sragen merayakannya melalui tradisi Cembengan. Puncak prosesi ini ditandai dengan upacara “Pengantin Tebu”, yakni dua batang tebu terpilih yang dihias menyerupai pengantin Jawa dan diarak mengelilingi area pabrik. Ritual ini tidak sekadar menjadi upacara seremonial, tetapi juga bentuk penghormatan spiritual dan doa bersama agar musim giling berjalan lancar tanpa kendala teknis, sekaligus membawa kesejahteraan bagi para petani tebu.
Sejarah PG Mojo tak dapat dipisahkan dari keberadaan jalur lori yang dahulu membelah jalan utama Sragen. Pada masanya, deretan gerbong lori yang ditarik lokomotif uap menjadi pemandangan ikonik penanda geliat ekonomi wilayah tersebut. Seiring waktu, moda transportasi lori memang digantikan armada truk demi efisiensi. Namun, sisa-sisa rel serta keberadaan lokomotif tua di area pabrik tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti dan pecinta sejarah transportasi. Elemen ini menegaskan bahwa PG Mojo pernah menjadi pusat transportasi yang sangat vital di masa kejayaannya.
Keberlangsungan PG Mojo hingga kini mencerminkan komitmen dalam menjaga warisan industri nasional. Di bawah pengelolaan PTPN (Perkebunan Nusantara), pabrik ini secara bertahap melakukan pembaruan mesin tanpa menghilangkan nilai historis bangunannya. Keberadaan PG Mojo membuktikan bahwa situs warisan kolonial masih mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal maupun nasional. Lebih dari sekadar bangunan tua, PG Mojo merupakan pusat ekonomi aktif yang menopang kehidupan ribuan keluarga petani tebu di sekitarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Anri.go.id