Mao Zedong (tengah) memimpin long march (britanica.com).
INDOZONE.ID - Bayangkan Kamu kehilangan 90% temanmu dalam satu tahun.
Kamu berjalan kaki dari dengan jarak yang sama dari Jakarta ke London tanpa sepatu yang layak, tanpa makanan cukup, sambil dikejar ribuan orang yang ingin membunuhmu.
Lalu bayangkan, justru di tengah kehancuran itu, Kamu menemukan kekuatan terbesar dalam hidupmu. Kedengarannya mustahil?
Itulah kisah Long March 1934-1935, sebuah peristiwa yang membuktikan bahwa kadang, jalan menuju kemenangan justru dimulai dari kekalahan terburuk (Couzens, 2025).
Baca juga: Menyingkap Rahasia Tahun Baru Bangsa Mesir: Dari Sungai Nil hingga Ritual Dewa
Oktober 1934. Partai Komunis Tiongkok terpojok: Mereka kalah total. Tidak ada kata lain untuk menggambarkannya.
Chiang Kai-shek dan pasukannya mengepung basis terakhir mereka di Jiangxi.
Kekalahan ini bukan karena musuh terlalu kuat, tapi karena kepemimpinan mereka sendiri ngotot menggunakan strategi yang salah (Habibi et al., 2020).
Mereka memilih strategi "perang posisi" dengan bertahan di benteng, bertempur frontal seperti pasukan konvensional.
Masalahnya, musuh punya tank, pesawat, dan artileri. Hasilnya bisa ditebak: Bencana.
Baca juga: Kisah "Silent Night", Lagu Natal Klasik yang Tercipta di Tengah Ketidakpastian
Akhir Oktober, 86 ribu orang memulai eksodus dalam kepanikan.
Mereka membawa segalanya dari mesin-mesin berat, arsip, bahkan furniture.
Bayangkan satu korps pindahan rumah yang bergerak di tengah zona perang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber