INDOZONE.ID - Sinar UV merupakan radiasi elektromagnetik yang panjang gelombangnya lebih pendek dari cahaya yang bisa kita lihat namun lebih panjang dari sinar X, berada di kisaran 10 hingga 400 nanometer. Karena panjang gelombangnya, sinar ini tidak terlihat oleh mata manusia.
Sinar UV dihasilkan dari sinar matahari yang menembus atmosfer bumi, di mana sebagian besar diserap namun sebagian kecil masih sampai ke bumi. Selain itu, sinar UV juga bisa dibuat secara buatan melalui lampu UV untuk keperluan industri dan kesehatan.
Spektrum cahaya ultraviolet (UV), yang sering diilustrasikan dengan warna ungu, biru, dan sedikit hijau, merupakan bagian dari cahaya yang tidak dapat ditangkap oleh mata manusia. Meskipun demikian, sinar UV memiliki peran penting dalam kehidupan kita sehari-hari.
Misteri Ketidakmampuan Mata Manusia Melihat Sinar UV
Menurut Michael Bok, seorang ahli biologi dari Universitas Lund, lensa mata manusia berfungsi sebagai filter yang mencegah sinar UV mencapai sel kerucut, meskipun kerucut pendeteksi biru kita sebenarnya sensitif terhadap beberapa sinar UV.
Hal ini yang membuat kita tidak dapat melihat sinar UV secara langsung.
Inovasi Teknologi untuk Mendeteksi Sinar UV
Para ilmuwan telah terinspirasi oleh kemampuan kupu-kupu dalam mendeteksi sinar UV dan berhasil menciptakan sensor pencitraan yang menggunakan nanokristal perovskit.
Sensor ini mampu menangkap sinar UV dan membedakan sel kanker dari sel normal dengan akurasi tinggi.
Risiko Kesehatan dari Sinar UV
Dilansir dari halosehat, meskipun tidak terlihat, sinar UV dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk kemerahan pada kulit, penuaan dini, dan peningkatan risiko kanker kulit.
Oleh karena itu, sangat penting untuk melindungi diri dari paparan sinar UV yang berlebihan.
Baca Juga: Fakta Menarik RA Kartini yang Jarang Diketahui: Ternyata Ada Kaitannya dengan Mataram Islam
Sebagai contoh, UNIQLO telah meluncurkan koleksi pakaian dengan nilai UPF yang tinggi, yang mampu menghalangi hingga 90% sinar UV.
Penelitian Sains Terhadap Sinar UV
Dunia penelitian terus menggali lebih dalam tentang sinar UV dan dampaknya terhadap lingkungan kita. Jurnal seperti “Eksplorasi: Jurnal Sains dan Teknologi” menjadi salah satu media yang mempublikasikan penemuan terbaru di bidang ini.
Manfaat dari Sinar UV
Sinar UV, sumber energi yang vital dari matahari, memang tidak bisa dilihat oleh mata manusia, tetapi beberapa hewan seperti lebah, burung, dan kupu-kupu dapat melihatnya dengan jelas.
Lapisan ozon melindungi kita dari jenis-jenis sinar UV yang paling berbahaya, namun sinar UVA dan UVB tetap mencapai permukaan bumi.
Sinar UVA, dengan panjang gelombang 315-400 nm, adalah yang paling banyak mencapai bumi, sekitar 95%, dan dapat menembus awan serta kaca. Sementara sinar UVB, dengan panjang gelombang 280-315 nm, berdampak pada lapisan epidermis kulit kita.
Manfaat sinar UV bagi kesehatan tidak bisa diabaikan, terutama dalam produksi vitamin D yang meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfor, memperkuat tulang, gigi, serta otot, dan membantu mencegah penyakit seperti rakitis dan osteoporosis.
Baca Juga: Tabir Surya yang Terekspos Sinar UV untuk 2 Jam Bisa Berubah Menjadi Beracunhalosehat
Sinar UV juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh, memperbaiki kualitas tidur, mengobati penyakit kulit, mencegah depresi, dan bahkan mengurangi risiko beberapa jenis kanker.
Resiko mengerikan dari Sinar UV
Namun, paparan berlebihan dapat menyebabkan kulit terbakar, mempercepat penuaan, dan meningkatkan risiko kanker kulit. Terlalu lama menatap matahari dengan mata telanjang bisa menyebabkan penyakit katarak dan bahkan kebutaan.
Oleh karena itu, penting untuk berjemur pada waktu yang tepat, idealnya antara jam 7.00 - 10.00 pagi, selama 5-15 menit, 2-3 kali seminggu, dan menggunakan tabir surya untuk melindungi kulit dari sinar UV.
Dengan demikian, kita dapat memanfaatkan manfaat sinar UV sambil meminimalisir risiko yang ditimbulkannya bagi kesehatan dan lingkungan kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Halo Sehat