Minggu, 21 APRIL 2024 • 11:30 WIB

Darimana Asal Petir yang Muncul dalam Erupsi Gunung Berapi? Begini Penjelasannya!

Author

Semburan lava dan kilatan petir akibat erupsi Gunung Ruang.

INDOZONE.ID - Indonesia, sebuah negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, dikenal memiliki banyak gunung berapi aktif.

Salah satu gunung berapi paling aktif di negara ini adalah Gunung Merapi. Tercatat erupsi gunung berapi di Indonesia sudah beraktivitas sekitar pada abad ke-3 Masehi.

Baru-baru ini, Gunung Ruang di Sulawesi Utara mengalami erupsi pada Selasa (16/4/2024), memunculkan muntahan lava setinggi lebih dari 30 meter, dengan kilatan petir yang memukau tetapi amat berbahaya.

Semburan lava dan kilatan petir akibat erupsi Gunung Ruang.

Baca Juga: Mengenal 'Red Sprite', Fenomena Langit Paling Misterius Muncul saat Badai Petir Besar

Nah, kamu pasti penasaran dari mana kilatan petir itu muncul? Simak penjelasannya berikut.

Petir Vulkanik

Fenomena ini dikenal sebagai petir vulkanik. Petir vulkanik berbeda dari badai petir biasa.

Dalam badai petir, sambaran petir biasanya terjadi setelah terbentuknya kristal es di awan. Namun, dalam letusan gunung berapi, sambaran petir dapat terjadi sebelum terbentuknya kristal es di awan abu.

Pengamatan paling awal tentang petir vulkanik tercatat pada tahun 79 M, saat Gaius Plinius Caecilius Secundus, atau yang lebih dikenal sebagai Pliny the Younger, menggambarkan letusan Gunung Vesuvius.

Dalam catatannya, Pliny the Younger menggambarkan bagaimana petir vulkanik muncul selama letusan, menciptakan pemandangan yang spektakuler namun menakutkan.

Petir vulkanik tidak terbentuk jauh di dalam kerak bumi, melainkan di gumpalan gunung berapi. Fenomena ini terjadi selama fase aktif letusan dan lebih sering terjadi pada letusan dengan gumpalan abu besar.

Ketika lava mencapai permukaan, ia meletus melalui titik-titik lemah di kerak bumi. Selain itu, ketika gunung berapi meletus, lahar biasanya disertai abu dan jelaga dalam jumlah besar. Kadang-kadang, jika partikel bermuatan, petir akan dihasilkan.

Semburan lava dan kilatan petir akibat erupsi Gunung Ruang.

Dilansir WorldAtlas, para ilmuwan telah mengidentifikasi dua fase produksi petir vulkanik selama letusan hebat.

Tahap pertama, disebut fase letusan, mewakili petir vulkanik yang terjadi segera setelah kawah meletus. Fase letusan petir diyakini disebabkan oleh partikel yang dikeluarkan bermuatan positif.

Tahap kedua, disebut fase bulu-bulu, mengacu pada petir yang terbentuk di bulu-bulu abu, yang disebabkan oleh partikel abu vulkanik yang terfragmentasi dan bertabrakan sehingga menghasilkan listrik statis.

Baca Juga: Kisah Horor Arwah Pendaki Tersambar Petir Titip Pesan untuk Bapak: Tolong Maafkan Aku

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya petir vulkanik, seperti ketinggian gumpalan abu gunung berapi dan suhu atmosfer.

Dalam gumpalan abu yang lebih pendek, sebagian besar partikel mendapatkan muatannya dari proses fragmentasi batuan di dekat lubang gunung berapi.

Sementara itu, suhu atmosfer yang sangat dingin membantu mengembunkan uap air di gumpalan gunung berapi sebelum membekukan partikel air menjadi es, yang kemudian mendorong pengisian es dan menghasilkan lebih banyak aktivitas listrik.

Selain itu, petir vulkanik juga menghasilkan produk sampingan yang dikenal sebagai bola vulkanik yang diinduksi petir atau LIVS. Bola kaca kecil ini terbentuk selama proses suhu tinggi, termasuk sambaran petir dari awan ke tanah.

Suhu sambaran petir bisa melebihi 30.000 derajat celcius, dan ketika sambaran petir menghantam partikel abu di gumpalan gunung berapi, salah satu dari dua hal dapat terjadi.

Sambaran petir dapat menguapkan abu sepenuhnya atau melelehkan abu, yang kemudian mengeras saat mendingin dan membentuk bentuk bola. Kehadiran LIVS menjadi bukti geologis adanya petir vulkanik, meski tidak diamati secara langsung.

Dengan pengetahuan ini, kita dapat lebih memahami dan menghargai kekuatan alam yang luar biasa ini.

Meskipun petir vulkanik adalah fenomena yang menakutkan, ia juga memberikan bukti tentang kekuatan dan keindahan alam.

Dengan penelitian dan pemahaman yang lebih baik tentang fenomena ini, kita dapat belajar bagaimana melindungi diri kita sendiri dan lingkungan kita dari dampak negatif letusan gunung berapi.

Writer: Putri Octavia Saragih


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Banner Z Creators.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: WorldAtlas

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU