Eksperimen Kellogg: Saat Bayi Manusia dan Bayi Simpanse Dibesarkan Bersama, Berujung Kematian
INDOZONE.ID - Bagi kalian penikmat cerita petualangan, tentu sangat familiar dengan kisah Tarzan. Muncul pertama kali dalam novel “Tarzan of The Apes” karya Edgar Rice Burroughs yang terbit pada tahun 1912, kini sosok Tarzan menjelma jadi legenda dan melekat dalam kenangan banyak orang.
Dalam ceritanya, Tarzan merupakan seorang anak manusia yang tumbuh besar di hutan belantara di bawah asuhan orang tua kera. Karena hidup bersama kera, naluri kemanusiaan Tarzan menjadi tumpul, membuatnya berperilaku lebih mirip kera daripada manusia.
Cerita tersebut akhirnya menumbuhkan gagasan bahwa apabila seorang manusia tumbuh di alam liar dan terpisah dari kehidupan masyarakat sosial, mereka akan secara alami menjadi liar, bahkan hampir tidak dapat dibedakan dengan hewan.
Baca Juga: Aneh, Simpanse Afrika Timur Menggali Sumur Demi Air Bersih, Ngadopsi Kebiasaan Manusia
Namun, pernahkan kamu membayangkan, mungkinkah hal sebaliknya dapat terjadi?
Misalnya saja, jika seekor hewan diambil dari alam liar dan dirawat oleh manusia bukan sebagai hewan peliharaan melainkan sebagai anak-anak, apakah insting liar yang dimiliki hewan tersebut akan hilang? Mungkinkah perilaku hewan tersebut dapat berubah lebih mirip manusia?
Kisah ‘Bocah Serigala’ dari India adalah Pemicu
Sejak masih berstatus sebagai mahasiswa pasca sarjana di Universitas Columbia pada tahun 1927, Winthrop Kellogg telah memperlihatkan ketertarikannya akan gagasan seorang anak yang tumbuh dan berkembang di alam liar.
Dalam jurnal The Psychological Record (1982), Ludy T. Benjamin Jr. dan Darryl Bruce menduga bahwa ketertarikan Winthrop Kellogg ini dipicu oleh sebuah artikel ilmiah tentang ‘bocah serigala’ dari India yang dimuat dalam American Journal of Psychology (1927).
Fenomena bocah serigala dari India ini bisa dikatakan sebagai Tarzan di dunia nyata. bocah serigala dari India merupakan sebutan yang ditujukan kepada dua gadis muda yang ditemukan di sebuah gua yang dihuni oleh kawanan serigala. Kedua gadis ini berperilaku selayaknya serigala. Meski akhirnya kedua gadis itu diajari berjalan tegak, mereka tidak pernah bisa berlari selayaknya manusia normal. Meski terus berlatih, kemampuan berbicara mereka juga tak mengalami peningkatan, bahkan kebiasaan menerkam dan memangsa hewan-hewan kecil pun tak dapat dihilangkan. Kedua gadis tersebut akhirnya meninggal pada usia muda.
Rasa penasaran yang telah lama Winthrop Kellogg miliki akhirnya menjadi pendorong baginya dan Luella Kellogg (istrinya) untuk menjalankan sebuah eksperimen yang melibatkan putra mereka yang masih bayi dengan seekor bayi simpanse liar.
Bergabungnya Gua, Si Bayi Simpanse, dalam Keluarga Kellogg
Untuk mengawali eksperimen mereka, pasangan Kellogg mengadopsi seekor bayi simpanse bernama Gua. Pada 26 Juni 1931, Gua secara resmi menjadi bagian dari keluarga Kellogg sebagai ‘anak adopsi’.
Melansir dari All That’s Interesting, tujuan awal dari eksperimen tersebut adalah untuk melihat pengaruh lingkungan terhadap seorang ‘anak’. Dalam hal ini, pasangan Kellogg ingin mengetahui apa yang akan terjadi jika seekor simpanse dipelihara dalam lingkungan manusia.
Alur eksperimen tersebut menjadi sedikit berubah karena adanya variabel lain yang tak bisa dihindari, yaitu Donald, putra dari pasangan Kellogg. Ketika percobaan dimulai, usia saat itu Donald adalah 10 bulan, sedangkan Gua berusia 7½ bulan. Dalam prosesnya, Gua dan Donald pun akhirnya dibesarkan layaknya saudara kandung.
Rangkaian Eksperimen Dijalankan
Layaknya anak manusia, Gua didandani dengan pakaian yang sama dengan Donald. Kedua bayi berbeda spesies tersebut juga diberikan makanan yang sama, melakukan aktivitas yang sama hingga diajari dengan cara yang sama. Dengan begitu, secara alami perbandingan perkembangan mereka pun menjadi sesuatu aspek utama yang diamati.
Eksperimen tersebut berlangsung selama 9 bulan. Dalam kurun waktu tersebut, selama 12 jam setiap harinya, Donald dan Gua harus menjalani beberapa tes yang telah dipersiapkan oleh orang tua mereka. Tes ini bertujuan untuk memantau perkembangan Donald dan Gua, khususnya parameter yang merujuk pada kecerdasan dan perilaku.
Pada awal eksperimen, pasangan Kellogg dibuat sedikit terkejut karena Gua ‘lebih pintar’ daripada Donald.
Dalam berbagai tes yang telah dijalankan ketika usia Donald dan Gua belum menginjak satu tahun, Gua menunjukkan hasil yang unggul. Hal ini berbanding terbalik dengan Donald yang malah mengalami beberapa hambatan.
Meskipun demikian, pasangan Kellogg menganggapnya lumrah dan tak begitu mengejutkan. Hal ini karena secara teori, bayi manusia pada dasarnya tidak berdaya dan tidak dapat mengerti apa-apa sampai mereka mencapai usia yang lebih matang.
Sangat berbanding terbalik dengan simpanse yang tumbuh di alam liar, di mana mereka cenderung memiliki insting bertahan hidup yang lebih tinggi, bahkan meski mereka masih muda.
Seiring berjalannya waktu, ketika Donald dan Gua telah berusia lebih dari satu tahun, Donald mulai menunjukkan adanya peningkatan. Hal tersebut tak terlepas dari peran bahasa dalam perkembangannya.
Pada saat yang sama, Gua terus mendominasi pada sektor fisik, seperti berlari dan memanjat. Di mana sejujurnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang mengejutkan, sebab sudah pasti seekor simpanse dapat menguasainya dengan mudah.
Hasil yang Tak Sesuai Harapan
Pasangan Kellogg memiliki harapan untuk dapat melihat perkembangan bahasa manusia pada hewan. Meskipun demikian, mereka tetap tak dapat mengelak dari kenyataan bahwa akan sulit bagi Gua untuk dapat berkomunikasi selayaknya manusia, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Ketika Gua tak menunjukkan perkembangan bahasa, hal berbeda terjadi pada Donald. Namun sayangnya, alih-alih mengalami peningkatan, kemampuan bahasan Donald justru mengalami penurunan. Daripada bersikap seperti manusia, Donald justru mulai meniru tingkah laku dan suara Gua.
Perilakunya menjadi lebih agresif, tak segan menggigit orang, menyalak ketika menginginkan lebih banyak makanan hingga mulai beraktivitas dengan merangkak.
Perubahan perilaku Donald ini membuat pasangan Kellogg khawatir jika anak mereka akan semakin menyerupai simpanse.
Banyak orang yang kemudian berspekulasi bahwa hal inilah yang membuat keduanya memutuskan untuk mengakhiri eksperimen tersebut pada 28 Maret 1932.
Usai eksperimen tersebut diberhentikan secara resmi, Gua dikembalikan ke pusat primata, Orange Park, tempatnya berasal yang berlokasi di Florida. Hasil dari eksperimen yang telah mereka lakukan selama kurang lebih 9 bulan itu kemudian mereka muat dalam sebuah buku berjudul “The Ape and The Child”.
Meski telah resmi berakhir, pasangan psikolog Kellogg tak pernah mengungkapkan secara langsung alasan penghentian eksperimen tersebut. Semua hal yang saat ini diberitakan melalui media massa tak lain merupakan spekulasi publik.
Tak hanya karena perubahan perilaku Donald, publik juga berspekulasi bahwa mungkin saja pasangan Kellogg tersebut sudah bosan menjalani eksperimen yang tak kunjung membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Mengingat kemampuan Gua yang terlihat tak lagi bisa dikembangkan menyerupai manusia.
Akhir Hidup Donald dan Gua
Tak lama setelah dipisahkan dari ‘saudara laki-lakinya’, pada usia 3 tahun Gua meninggal dunia karena penyakit pneumonia yang dideritanya.
Baca Juga: Bayi Manusia dan Simpanse Pernah Dibesarkan Bersama, Eksperimen yang Berujung Kematian!
Hidup Donald bisa dikatakan berakhir tragis. Tak diketahui secara pasti bagaimana kehidupannya setelah eksperimen tersebut berakhir. Namun informasi yang pasti adalah saat berusia 43 tahun, Donald memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri pada tahun 1973.
Writer: Victor Median
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Psychological Record Journal