INDOZONE.ID - Matahari adalah bola gas raksasa yang jadi sumber utama panas dan cahaya bagi seluruh tata surya, termasuk bumi.
Inti Matahari, Titik Terpanas di Seluruh Tata Surya
Inti matahari adalah bagian paling dalam sekaligus paling panas dari seluruh strukturnya, dengan suhu mencapai lebih dari 15 juta derajat celsius.
Di sinilah reaksi fusi nuklir berlangsung, di mana atom-atom hidrogen dipadatkan hingga bergabung membentuk helium akibat tekanan luar biasa besar dari lapisan-lapisan di sekitarnya.
Baca juga: Berapa Lama Cahaya Matahari Sampai ke Bumi? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Proses fusi inilah yang menjadi mesin utama penghasil energi matahari, dan telah berlangsung selama lebih dari 4 miliar tahun.
Setelah dihasilkan di inti, energi panas tidak langsung "meloncat" keluar, melainkan merambat perlahan melalui dua lapisan berikutnya.
Di zona radiasi, suhu mulai menurun signifikan menjadi sekitar beberapa juta derajat celsius, dengan energi yang dipindahkan lewat proses radiasi, yakni foton yang diteruskan dari atom ke atom secara bertahap.
Proses ini berlangsung sangat lambat, bahkan foton dari inti bisa butuh waktu ratusan ribu tahun hanya untuk menembus zona ini.
Selanjutnya, energi memasuki zona konveksi, lapisan terluar dari interior matahari dengan suhu di bagian dasarnya sekitar 2 juta derajat celsius.
Berbeda dari zona radiasi, di sini energi berpindah lewat mekanisme konveksi, mirip air mendidih dalam panci, gas panas naik ke permukaan, melepaskan sebagian panasnya, lalu turun kembali untuk dipanaskan ulang.
Bagaimana Panas Matahari Bisa sampai ke Bumi?
Pertanyaan besar berikutnya adalah, bagaimana panas matahari bisa merambat melintasi ruang hampa udara sejauh 149,6 juta kilometer untuk sampai ke bumi, padahal ruang angkasa nyaris tidak memiliki materi sebagai penghantar panas?
Jawabannya terletak pada mekanisme radiasi elektromagnetik. Berbeda dari konduksi (perpindahan panas lewat kontak langsung antarmateri) atau konveksi (perpindahan panas lewat pergerakan fluida atau gas).
Radiasi elektromagnetik sama sekali tidak membutuhkan medium perantara. Energi dari matahari dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik, mencakup cahaya tampak, radiasi inframerah, hingga sinar ultraviolet.
Yang semuanya bisa merambat bebas melintasi ruang hampa dengan kecepatan cahaya, sekitar 300 ribu kilometer per detik.
Baca juga: Mengapa Planet Tidak Jatuh ke Matahari? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Berkat mekanisme inilah, meski ruang antara matahari dan bumi nyaris kosong tanpa materi, radiasi elektromagnetik tetap bisa menjalar dan sampai ke Bumi hanya dalam waktu sekitar 8 menit.
Begitu radiasi ini menembus atmosfer dan mengenai permukaan bumi, energinya diserap dan diubah menjadi panas, itulah sebabnya kita bisa merasakan hangatnya sinar matahari meski sumbernya berjarak puluhan juta kilometer jauhnya.
Suhu matahari ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar "dari panas ke dingin". Mulai dari inti yang mencapai belasan juta derajat celsius, menurun drastis di fotosfer yang jadi permukaan tampaknya, lalu kembali melonjak tak terduga di kromosfer dan korona.
Semua panas ini kemudian merambat ke seluruh tata surya, termasuk bumi, lewat radiasi elektromagnetik yang tidak membutuhkan medium apa pun untuk menjalar melintasi ruang hampa angkasa.
Fenomena ini jadi bukti betapa uniknya Matahari sebagai bintang yang menopang kehidupan di planet kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ruang Guru, Angkasa Tour