INDOZONE.ID - Momen pemotongan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha kerap memicu beragam respons emosional. Salah satunya rasa iba ketika melihat sapi yang tampak mengeluarkan air mata.
Hal ini memicu spekulasi di masyarakat bahwa sapi tersebut sedang menangis karena takut.
Lantas, bagaimanakah pandangan sains mengenai fenomena ini? Apakah air mata itu murni ekspresi kesedihan atau ada faktor fisiologis lain yang memengaruhinya?
Simak pembahasan lengkapnya berikut ini.
Baca juga: Kenapa Sapi Sering Menghadap Utara–Selatan saat Makan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Benarkah Sapi Bisa Menangis saat Disembelih?
Fenomena air mata yang keluar dari mata sapi menjelang penyembelihan sering kali disalahartikan sebagai ekspresi kesedihan.
Secara medis, kondisi ini disebut lakrimasi, yaitu sekresi cairan oleh kelenjar lakrimal yang berfungsi melindungi mata dari kontaminasi luar dan kekeringan.
Berbeda dengan asumsi emosional yang beredar, sebuah studi justru menemukan bahwa struktur air mata sapi kaya akan protein jika dibandingkan dengan mamalia lain seperti anjing dan kambing.
Karakteristik inilah yang menyebabkan volume air mata yang dihasilkan sapi tampak lebih banyak dan mencolok.
Air Mata Sapi bukan Tanda Kesedihan
Sekresi air mata pada sapi dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa melibatkan aspek emosional.
Umumnya, fenomena ini merupakan reaksi terhadap paparan partikel asing seperti debu dan kotoran di lingkungan terbuka.
Sebagai hewan yang tidak memiliki kemampuan mekanis untuk mebersihkan mata, sapi memanfaatkan air mata sebagai mekanisme pertahanan alami untuk meluruhkan kotoran.
Secara biologis, aktivitas ini dikontrol oleh sistem saraf otonom yang mengatur fungsi refleks tubuh.
Dengan demikian, keluarnya air mata pada sapi adalah murni respons fisiologis yang bersifat otomatis.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana, Yeremia Sitompul, menyatakan bahwa secara psikologis belum ada bukti ilmiah yang membuktikan sapi dapat menangis karena faktor emosional.
Ia memaparkan bahwa ekskresi cairan berlebih pada mata sapi umumnya disebabkan oleh hiperlakrimasi.
Fenomena tersebut merupakan kondisi medis di mana produksi air mata meningkat sebagai respons terhadap iritasi, infeksi, maupun indikasi penyakit tertentu seperti tumor.
Apakah Sapi Memiliki Emosi?
Berbagai penelitian mengonfirmasi bahwa sapi memiliki kapasitas untuk merasakan spektrum emosi yang luas, termasuk rasa takut, stres, dan kegembiraan.
Manifestasi emosi ini dapat diamati melalui perilaku dan ekspresi fisiologisnya.
Sebagai contoh, indikator rasa takut pada sapi ditandai dengan posisi telinga yang siaga serta melebarnya area sklera (bagian putih mata).
Selain itu, kondisi stres, seperti akibat pemisahan maternal atau lingkungan yang tidak nyaman—dapat memicu perubahan kognitif.
Baca juga: Fakta Unik: Sapi Ternyata Sulit Turun Tangga, Ini Alasannya
Salah satunya adalah penurunan kemampuan dalam menilai situasi ambigu, sebuah fenomena psikologis yang juga kerap dijumpai pada manusia.
Selain rasa takut, sapi juga mampu mengekspresikan kesenangan melalui aktivitas bermain dan interaksi sosial.
Indikator emosi positif ini dapat diidentifikasi dari bahasa tubuh mereka, seperti gerakan ekor, posisi telinga yang rileks, serta bentuk vokalisasi tertentu.
Fenomena tersebut menegaskan bahwa sapi memiliki sensitivitas emosional yang kompleks, bukan sekadar respons fisik terhadap lingkungan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa air mata sapi saat disembelih merupakan bentuk refleks fisiologis, bukan representasi dari emosi mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today, Scientific Reports