INDOZONE.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan penemuan 29 jenis flora baru Indonesia sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Penemuan membuktikan bahwa hutan Indonesia masih menyimpan banyak spesies tumbuhan yang belum teridentifikasi secara ilmiah, terutama di wilayah Papua dan Kalimantan yang biodiversitasnya masih sangat besar.
Indonesia memang dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas dunia.
Jumlah spesies tumbuhannya diperkirakan mencapai 30.000 hingga 40.000 jenis. Tapi ironisnya, sebagian besar belum terdokumentasi secara lengkap.
Di saat yang sama, ancaman terhadap flora Indonesia juga makin nyata. Mulai dari perubahan iklim, pembukaan lahan, sampai berkurangnya jumlah peneliti taksonomi.
Baca juga: BRIN dan OceanX Temukan 14 Spesies Megafauna Laut di Sulawesi Utara
BRIN Sudah Temukan 712 Jenis Flora Baru
Penemuan flora baru ini merupakan bagian dari riset biodiversitas yang dilakukan BRIN lewat Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi.
Sepanjang 1967 sampai 2025, BRIN mencatat sudah menemukan 1.583 spesies baru. Dari jumlah itu, 712 di antaranya merupakan jenis flora.
Temuan terbaru kemudian diperkenalkan lewat acara “BRIN Goes to Stakeholders and Society: Exposing New Species – Flora” di Auditorium Gedung BJ Habibie, Jakarta, Senin (25/5).
Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian, mengatakan acara tersebut dibuat untuk mendekatkan hasil riset kepada publik.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya konservasi flora Indonesia, memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam riset biodiversitas, serta mendorong minat generasi muda pada bidang taksonomi dan eksplorasi biodiversitas,” ucapnya melansir laman BRIN.
Kenapa Penemuan Flora Penting?
Buat sebagian orang, menemukan spesies tumbuhan baru mungkin terdengar “kurang heboh” dibanding penemuan satwa langka. Padahal dampaknya bisa besar.
Beberapa tanaman punya potensi sebagai obat, penyerap karbon, sampai bahan teknologi ramah lingkungan.
Bahkan ada tumbuhan tertentu yang bisa dipakai untuk fitomining, metode menyerap logam dari tanah menggunakan tanaman.
Kepala BRIN, Arief Satria, mengatakan Indonesia sebenarnya punya potensi luar biasa di bidang biodiversitas.
“Berbagai tanaman di Indonesia memiliki potensi besar, mulai dari penyerap karbon, mendukung teknologi pertambangan ramah lingkungan melalui fitomining, hingga menjadi sumber obat-obatan,” kata Arief.
Menurutnya, sekitar 9.600 spesies tumbuhan Indonesia berpotensi menjadi tanaman obat. Tapi baru sedikit yang benar-benar dikembangkan menjadi obat modern.
Papua dan Kalimantan Jadi “Harta Karun” Biodiversitas
BRIN menilai wilayah Papua dan Kalimantan masih menjadi lokasi penting untuk eksplorasi biodiversitas. Banyak area hutan di sana yang belum dipetakan secara menyeluruh.
Ini menarik. Di tengah maraknya pembahasan soal hilirisasi dan eksploitasi sumber daya alam, ternyata Indonesia juga menyimpan “tambang” lain berupa pengetahuan hayati yang belum tergali.
Masalahnya, jumlah ahli taksonomi dan parataksonomi di Indonesia terus berkurang. Padahal mereka punya peran penting untuk mengidentifikasi spesies baru sebelum terlambat punah.
Arief menegaskan riset biodiversitas bukan sekadar urusan akademik.
“Alam tidak hanya penting untuk konservasi, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Melalui riset dan pengelolaan pengetahuan, BRIN berharap hasil-hasil penemuan baru dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan,” tegas Arief.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN