Rabu, 27 MEI 2026 • 14:15 WIB

Begini Cara Sistem Peringatan Dini Gempa Bekerja

Author

Ilustrasi gempa. (Earth)

INDOZONE.ID - Sistem peringatan dini gempa atau Earthquake Early Warning System (EEWS) bekerja dengan mendeteksi gelombang awal gempa yang muncul beberapa detik setelah gempa terjadi.

Gelombang ini bergerak lebih cepat daripada guncangan utama, sehingga sistem masih punya waktu untuk mengirim peringatan sebelum gempa besar terasa di permukaan.

Buat negara rawan gempa seperti Jepang dan Indonesia, jeda beberapa detik itu bisa sangat penting.

Cukup untuk menghentikan kereta cepat, mematikan mesin industri, atau memberi waktu orang berlindung.

EEWS bukan alat ramalan gempa. Sistem ini baru bekerja setelah aktivitas gempa terdeteksi oleh sensor.

Cara Sistem Peringatan Dini Gempa Bekerja

Peneliti dari Meteorological Research Institute - Japan Meteorological Agency, Mitsuyuki Hoshiba, menjelaskan bahwa sistem membaca gelombang awal gempa yang disebut gelombang P.

Gelombang ini biasanya muncul lebih dulu dan bergerak lebih cepat dibanding gelombang S yang menyebabkan guncangan besar dan kerusakan.

“Komunikasi bergerak jauh lebih cepat dibanding gelombang gempa. Karena itu, peringatan bisa dikirim lebih dulu sebelum guncangan kuat tiba,” jelas Hoshiba dikutip dari laman BRIN.

Baca juga: 20 Tahun Gempa Jogja, Gempa yang Menggetarkan DIY dan Jawa Tengah

Setelah sensor mendeteksi aktivitas gempa, data langsung dikirim dan diproses secara real time.

Sistem kemudian memperkirakan lokasi, magnitudo, dan potensi dampak guncangan.

Karena sinyal komunikasi jauh lebih cepat daripada pergerakan gelombang gempa, notifikasi bisa dikirim ke masyarakat hanya dalam hitungan detik.

Jepang Punya 4.400 Sensor Gempa

Jepang menjadi salah satu negara dengan sistem peringatan dini gempa paling maju di dunia.

Negara itu memiliki sekitar 4.400 titik pemantauan gempa yang aktif selama 24 jam.

Sensor-sensor tersebut tersebar di berbagai wilayah dan terus membaca aktivitas seismik secara real time.

Peringatan gempa di Jepang muncul lewat banyak jalur. Mulai dari televisi, radio, ponsel, sampai pengeras suara pemerintah daerah.

Kalau pernah lihat video warga Jepang tiba-tiba menerima alarm keras di HP sebelum gempa, itu bagian dari sistem ini.

Teknologi tersebut juga terhubung langsung dengan sektor transportasi dan industri.

Shinkansen Bisa Rem Otomatis saat Gempa

Salah satu contoh paling terkenal adalah sistem di kereta cepat Shinkansen.

Saat sensor mendeteksi gempa, sistem otomatis memutus aliran listrik dan mengaktifkan rem darurat sebelum guncangan besar mencapai jalur kereta. Semua berlangsung otomatis tanpa menunggu operator manusia.

Di sinilah pentingnya kecepatan sistem. Dalam kondisi darurat, keterlambatan beberapa detik saja bisa berdampak besar.

Hoshiba menegaskan bahwa EEWS bukan teknologi prediksi masa depan seperti yang sering muncul di film bencana.

“EEWS bukan prediksi gempa, tetapi sistem untuk memberikan peringatan secepat mungkin agar dampak gempa bisa dikurangi,” ujarnya.

Kenapa Sistem Harus Akurat?

Masalah terbesar sistem seperti ini adalah alarm palsu.

Karena itu Jepang terus mengembangkan metode untuk membedakan sinyal gempa asli dengan getaran lain yang bukan berasal dari aktivitas seismik. Tujuannya untuk mengurangi kepanikan masyarakat.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, mengatakan sistem cepat dan akurat sangat penting untuk membantu mengurangi korban jiwa serta kerusakan saat bencana terjadi.

Indonesia sendiri sebenarnya punya tantangan serupa. Wilayahnya aktif secara tektonik, sementara kepadatan penduduk di kota-kota besar terus meningkat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BRIN

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU