Apa Itu Piringan Emas Voyager? Pesan Sunyi Manusia agar DItemukan Makhluk Lain di Jagat Raya
INDOZONE.ID - Pernah dengar tentang piringan emas Voyager? Benda itu berfungsi sebagai 'pesan dalam botol' yang dibuat oleh manusia bumi untuk ditemukan oleh kehidupan lain di alam bebas.
Pada tahun 1977, dua wahana legendaris NASA—Voyager 1 dan Voyager 2—diluncurkan bukan hanya sebagai alat penelitian, tetapi juga sebagai pembawa pesan. Di dalamnya tersimpan sebuah artefak unik bernama Voyager Golden Record, sebuah piringan berlapis emas yang dirancang sebagai kapsul waktu umat manusia.
Ia bukan sekadar benda, melainkan “suara” peradaban yang dilempar ke kesunyian kosmos, dengan harapan suatu hari ditemukan oleh makhluk cerdas di luar Bumi.
NASA sendiri menyebut piringan ini sebagai semacam “message in a bottle”—pesan dalam botol kosmik—yang menggambarkan kehidupan, budaya, dan identitas manusia. Kemungkinan ditemukan memang kecil, tetapi maknanya sangat besar: manusia mencoba memperkenalkan dirinya kepada alam semesta.
Baca juga: Mengenal Pesan Arecibo Sang Surat Radio Pertama Manusia untuk Alien
Isi Piringan: Potret Kehidupan di Bumi
Isi Voyager Golden Record dirancang oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Carl Sagan. Mereka hanya memiliki waktu kurang dari enam minggu untuk memilih apa yang dianggap mewakili seluruh umat manusia.
Hasilnya adalah sebuah kompilasi yang luar biasa: 115 gambar, suara alam seperti petir, angin, dan ombak, serta rekaman suara hewan dan manusia. Di dalamnya juga terdapat musik dari berbagai budaya—mulai dari komposisi klasik hingga musik tradisional dunia—serta salam dalam 55 bahasa, termasuk bahasa-bahasa kuno yang sudah lama tidak digunakan.
Piringan ini bahkan menyimpan pesan tertulis dari pemimpin dunia, serta instruksi simbolik tentang cara memutar rekaman dan lokasi Bumi di alam semesta. Ia bukan hanya arsip, tetapi juga panduan—seolah manusia sadar bahwa penerimanya mungkin benar-benar asing.
Bahasa Universal: Dari Petir hingga Musik
Yang membuat piringan ini begitu filosofis adalah cara manusia memilih “bahasa” untuk berkomunikasi. Tidak ada asumsi bahwa makhluk luar angkasa memahami bahasa manusia. Maka, yang dipilih adalah sesuatu yang lebih universal: suara alam, musik, dan gambar.
Baca juga: Mengenal Teori The Great Filter dan Alasan Kenapa Kita Belum Bisa Bertemu Alien?
Petir yang menggelegar, detak jantung, tawa anak-anak—semuanya menjadi representasi emosi dan kehidupan. Musik dipilih karena dianggap sebagai bahasa universal yang melampaui budaya dan spesies.
Bahkan, salam dalam berbagai bahasa menunjukkan keberagaman manusia, sekaligus upaya menyampaikan satu pesan sederhana: “Kami ada.”
Menariknya, rekaman salam dimulai dari bahasa Akkadia kuno hingga bahasa modern, menciptakan jembatan waktu yang memperlihatkan evolusi peradaban manusia.
Kapsul Waktu yang Melampaui Peradaban
Secara ilmiah, Voyager Golden Record adalah kapsul waktu yang dirancang untuk bertahan miliaran tahun. Piringan ini dibuat dari tembaga berlapis emas, dilengkapi pelindung aluminium dan bahkan elemen uranium-238 sebagai penanda waktu kosmik.
Dalam kajian ilmiah modern seperti penelitian di arXiv, Golden Record sering disebut sebagai upaya awal komunikasi antar peradaban—sebuah eksperimen besar tentang bagaimana manusia mendefinisikan dirinya sendiri di hadapan alam semesta.
Lebih dari sekadar teknologi, piringan ini adalah refleksi: apa yang manusia anggap penting untuk diwariskan jika suatu hari ia lenyap.
Antara Sains dan Kerinduan Akan Ditemukan
Pada akhirnya, Voyager Golden Record bukan hanya proyek astronomi, tetapi juga karya filosofis. Ia membawa pertanyaan mendasar: jika kita harus memperkenalkan diri kepada makhluk asing, siapa kita sebenarnya?
Di tengah luasnya ruang antarbintang, piringan ini terus melaju—sunyi, tanpa jawaban, tanpa kepastian. Namun justru di situlah maknanya.
Ia adalah simbol harapan, bahwa di suatu titik di masa depan, mungkin ada yang akan mendengarkan suara petir Bumi, musik manusia, dan salam sederhana dari planet kecil bernama rumah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NASA Science