Selasa, 07 APRIL 2026 • 09:15 WIB

Misi DART Berhasil, NASA Ubah Jalur Asteroid untuk Pertama Kalinya

Author

Ilustrasi asteroid. (Pixabay/??anoh)

INDOZONE.ID - Melalui misi DART pada 2022, NASA membuktikan bahwa lintasan asteroid dapat diubah melalui intervensi manusia secara sengaja. 

Awalnya, misi ini diketahui berhasil mengurangi durasi orbit pasangan asteroid Didymos-Dimorphos hingga 32 menit, namun riset terbaru menunjukkan skala keberhasilan yang lebih luas, yakni pergeseran jalur orbit sistem tersebut mengelilingi Matahari. 

Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah sebagai kali pertama manusia berhasil mengintervensi dan mengubah rute alami objek di Tata Surya secara langsung.

Baca juga: Daftar 6 Negara dengan Fenomena Matahari Tengah Malam selain di Wilayah Antartika

Misi DART oleh NASA

Misi Double Asteroid Redirection Test (DART) dirancang sebagai pilar utama dalam strategi pertahanan planet. 

Walaupun belum ada ancaman asteroid besar yang diprediksi menghantam Bumi dalam waktu dekat, para ilmuwan berupaya memastikan kesiapan manusia melalui simulasi strategi mitigasi yang nyata. 

Target utama misi ini adalah sistem asteroid ganda, yang terdiri dari Didymos berdiameter 780 meter dan satelit alaminya, Dimorphos, yang berukuran 160 meter. 

Dimorphos dipilih sebagai sasaran tabrakan terkontrol karena dimensinya yang lebih kecil memungkinkan perubahan lintasan terdeteksi lebih akurat.

Perubahan Lebih Besar dari yang Diprediksi

Sistem Didymos dan Dimorphos dipilih lantaran periode orbitnya sudah dipahami dengan sangat baik, sehingga perubahan sekecil apa pun bisa diukur dengan akurat. 

Melampaui prediksi awal 7 menit, misi DART sukses mengubah periode orbit Dimorphos hingga 33 menit, sebuah kemenangan besar bagi teknologi mitigasi asteroid. 

Efektivitas metode ini telah terbukti secara lokal, namun para peneliti kini mengejar target yang lebih ambisius. 

Mereka tengah menganalisis apakah dampak fisik dari tabrakan tersebut juga mampu mengubah jalur orbit keseluruhan sistem Didymos-Dimorphos dalam skala Tata Surya, bukan sekadar memengaruhi interaksi di antara kedua objek langit tersebut.

Tabrakan Picu Efek "Dorongan"

Sebagai sistem biner, Didymos dan Dimorphos terikat secara gravitasi pada titik pusat massa bersama yang dikenal sebagai barycenter. 

Ketika wahana DART menghantam Dimorphos, benturan tersebut tidak hanya memberikan dorongan langsung, tetapi juga memicu ejeksi material ke ruang hampa. 

Lontaran material ini membawa momentum keluar dari sistem, sehingga menciptakan efek dorongan balik atau recoil. 

Para ilmuwan telah memproyeksikan bahwa fenomena fisik ini cukup signifikan untuk memengaruhi trayektori keseluruhan pasangan asteroid tersebut dalam orbitnya mengitari Matahari.

Konfirmasi atas prediksi awal muncul melalui analisis data pasca-September 2022, yang menunjukkan adanya perlambatan pada kecepatan orbit sistem biner tersebut. 

Baca juga: Artemis II Menuju Bulan, Astronot NASA Pecahkan Rekor Jarak Terjauh dari Bumi

Dengan magnitudo perubahan sebesar 11,7 mikrometer per detik (setara 42 milimeter per jam), intervensi kinetik ini telah mengukir sejarah. 

Meski dalam skala astronomis pergeseran ini tampak minimal, signifikansinya sangat besar sebagai pembuktian bahwa manusia mampu mengintervensi jalur alami benda langit secara sengaja.

Pencapaian Double Asteroid Redirection Test membuktikan bahwa manusia kini tidak hanya mampu mengamati, namun juga memengaruhi dinamika Tata Surya. 

Meski skalanya masih kecil, langkah ini menjadi fondasi penting bagi upaya perlindungan Bumi dari ancaman asteroid di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: NASA, Www.science.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU