Apa Itu Hilal? Mengenal Metode Menentukan Ramadhan dan Syawal Berdasarkan Sunnah dan Sains
INDOZONE.ID - Setiap menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, umat Islam selalu menunggu penampakan hilal (bulan sabit) untuk menentukan awal bulan. Bahkan ada sidang isbatnya.
Menentukan awal bulan Hijriah penting bagi kita karena berkaitan dengan waktu ibadah, terutama di bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzul Hijjah.
Namun, apa sebenarnya arti hilal? Berikut penjelasannya seperti yang dikutip dari situs muslimpro.com.
Pengertian Hilal
Hilal dalam bahasa Arab merupakan kata isim yang dibentuk dalam 3 huruf asli ha-lam-lam (ل – ل- ﻫ). Bentukannya sama antara kata fi'il هَلَّ dan اَهَلَّ.
Baca juga: Peristiwa Pertempuran di Zaman Rasulullah pada Bulan Syawal, Salah Satunya Perang Uhud
هَلَّ dan اَهَلَّ dalam konteks hilal memiliki arti sebagai berikut:
هَلَّ اْلهِلاَلُ dan اَهَلَّ اْلهِلاَلُ berarti bulan sabit yang terlihat, sedangkan هَلَّ الرَّجُلُ berarti seseorang melihat atau memandangi bulan sabit, dan اَهَلَّ اْلقَوْمُ اْلهِلاَلَ artinya orang banyak bersorak ketika melihat bulan sabit. Dan هَلَّ الشَّهْرُ artinya bulan (yang baru) diawali (dengan munculnya bulan sabit).
Jadi, hilal adalah penampakan bulan baru (bulan sabit) setelah ijtimak (konjungsi) yang terlihat di awal bulan pada malam pertama, kedua, dan ketiga.
Penampakannya diumumkan (diberitakan) oleh orang-orang yang melihatnya dan mungkin diberitahukan kepada orang-orang yang tidak melihatnya sebagai tanda dimulainya bulan dalam sistem kalender.
Hilal Menurut Al-Quran
Surah Al-Baqarah ayat 189 mengajukan pertanyaan dari para sahabat Nabi ﷺ kepada Nabi ﷺ tentang penciptaan dan hikmah ahillah (bentuk jamak dari hilal ). Atas perintah Allah, Rasulullah ﷺ menjawab bahwa ahillah atau hilal adalah kalender untuk ibadah dan aktivitas manusia, termasuk haji.
Baca juga: 3 Fenomena Langit Menarik di Akhir Ramadhan 2026 yang Bisa Disaksikan Tanpa Teleskop
Pertanyaan ini muncul karena para sahabat sebelumnya telah melihat penampakan bulan sabit.
Dalam Shafwatut Tafasir juz I halaman 125, Ash-Shabuni menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:
يسالونك يامحمد عن الهلال لم يبدو دقيقا مثل الخيط ثم يعظم ويستدير ثم ينقص ويدق حتى يعود كما كان؟
“Mereka bertanya kepadamu, wahai Muhammad, tentang bulan sabit (hilal), mengapa ia tampak lembut seperti benang, kemudian membesar dan terus membulat, lalu menyusut dan melunak sehingga kembali ke keadaan semula?”
Sedangkan Sayyid Quthub dalam tafsirnya Fii Zhilalil Quran juz I halaman 256 menafsirkannya sebagai berikut:
Apa yang Harus Dilakukan … Apa yang Harus Dilakukan? ما بال القمر يبدو هلالا ثم يكبر حتى يستدير بدرا ثم يأخذ فى التناقص حتى يرتد هلالا ثم يختفى ليظهر هلالا من جديد؟
“Maka mereka bertanya tentang ahillah (hilal)… bagaimana keadaan ahillah (hilal)? Mengapa keadaan qamar (bulan) menunjukkan bulan sabit (hilal) lalu membesar hingga menjadi bulan purnama, kemudian berangsur-angsur mengecil hingga kembali menjadi hilal lagi dan menghilang sehingga menjadi tak terlihat, lalu tampak kembali menjadi hilal (bulan) yang baru?”
Berdasarkan ayat dan tafsirnya, jelas bahwa hilal atau bulan sabit harus terlihat.
Baca juga: Apa Itu Mudik? Pengertian dan Asal Usulnya
Hilal Menurut Sunnah
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud, dari sahabat Nabi ﷺ Rib'i bin Hirasy, menyatakan bahwa terdapat perbedaan pendapat di antara para Sahabat mengenai akhir bulan Ramadan. Orang-orang yang melakukan ru'yah meriwayatkan dengan kata-kata berikut:
بِاللهِ لاَهَلَّ اْلهِلاَلُ اَمْسِ عَشِيَّةً
“Demi nama Allah, bulan sabit telah muncul kemarin siang.”
Hadits ini menyatakan bahwa hilal harus terlihat. Demikian pula dalam hadits-hadits lainnya.
Hilal Menurut Sains
Hilal dikenal sebagai 'bulan sabit ' dalam istilah astronomi. Ini adalah bagian bulan yang memperlihatkan cahayanya yang terlihat dari bumi. Hilal muncul sesaat setelah matahari terbenam pada hari terjadinya ijtimak (konjungsi).
Berdasarkan terminologi Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ilmu pengetahuan yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa cahaya hilal (bulan sabit) harus terlihat dari bumi pada awal bulan. Dan pemikiran atau dugaan tentang bulan baru tidak dapat disebut sebagai hilal.
Oleh karena itu, jika tidak terlihat, maka tidak dapat disebut bulan baru. Berkaitan dengan kriteria munculnya hilal , Rasulullah ﷺ memerintahkan umat Islam untuk melakukan rukyah , atau melihat dan mengamati secara langsung munculnya hilal .
Metode Melihat Hilal
Sebagian orang menggunakan metode ru'yatul hilal setiap bulan Hijriah untuk melihat hilal. Sedangkan sebagian lainnya hanya menggunakan metode ru'yatul hilal untuk menentukan awal bulan Ramadan dan dua hari raya Islam (Idul Fitri dan Idul Adha).
Prosedur melihat hilal terjadi pada tanggal 29 bulan Hijriah. Pada sore hari, tim ru'yah yang kompeten yang ditunjuk oleh pihak berwenang mengunjungi tempat yang memungkinkan untuk melihat hilal.
Tempat tersebut bisa berada di pegunungan atau di laut. Pada zaman dahulu, mereka menggunakan mata telanjang untuk melihat hilal , tetapi sekarang orang dapat menggunakan alat canggih seperti teropong untuk melihatnya.
Jika tim ru'yah melihat penampakan bulan baru, maka hari berikutnya akan ditentukan sebagai awal bulan baru. Namun, jika tim ru'yah tidak melihat hilal karena bulan baru tidak terlihat atau karena gangguan cuaca, maka mereka harus melengkapinya hingga 30 hari dalam bulan tersebut yang biasa disebut istikmal (melengkapi 30 hari dalam sebulan).
Bagaimana Jika Hilal Tidak Terlihat di Semua Area?
Ada pertanyaan yang sering diajukan mengenai hilal, bagaimana jika orang-orang di satu daerah melihat hilal tetapi orang-orang di daerah lain tidak melihatnya?
Baca juga: Intip, Berbagai Tradisi Unik Rayakan Bulan Syawal di Indonesia
Jika ada satu orang atau tim yang melihat hilal dan berani bersumpah atas kesaksiannya, hal itu dapat dijadikan acuan bahwa besok akan ditetapkan sebagai tanggal Hijriah yang baru. Oleh karena itu, orang-orang di daerah lain yang tidak dapat melihatnya juga harus mengikuti orang-orang atau tim yang telah berhasil melihat hilal .
Terutama, jika pemerintah sebagai ulil amri telah mengadakan sesi isbat untuk mengambil keputusan dan mengumumkannya kepada seluruh warganya.
Jika semua orang sadar dan menaati pemerintah sebagaimana mestinya, setidaknya hal itu dapat meminimalkan perbedaan. Karena terkadang hal ini memicu permusuhan terkait awal dan akhir bulan puasa dan Idul Fitri.
Kepatuhan terhadap keputusan pemerintah sebagai pihak yang meratifikasi hilal juga dijelaskan dalam Surah An-Nisa 4:59.
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta orang-orang yang berwenang di antara kalian. Dan jika kalian berselisih tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian memang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat. Itulah jalan yang terbaik dan hasil yang terbaik pula.
Nah, itulah penjelasan tentang hilal dilihat dari berbagai perspektif serta metode meliht hilal yang perlu kamu ketahui.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Muslimpro.com