INDOZONE.ID - Pelangi sering dikenal sebagai lengkungan berwarna-warni yang muncul setelah hujan, yang ternyata memiliki jnis-jenis pelanginya tersendiri.
Ia terbentuk dari interaksi cahaya matahari dengan tetesan air di atmosfer melalui proses pembiasan, pemantulan, dan pemecahan cahaya menjadi berbagai warna.
Fenomena ini berkaitan erat dengan konsep Dispersi Cahaya, yaitu peristiwa ketika cahaya putih terurai menjadi spektrum warna karena perbedaan panjang gelombang.
Berikut ini ada beberapa jenis-jenis pelangi yang dikutip dari beberapa referensinya, seperti NASA dan weather.metoffice.gov.uk.
Baca juga: Iris, Dewi Pelangi yang Menjadi Pelayan Pribadi Ratu Para Dewa
1. Pelangi Primer atau Primary Rainbow
Pelangi primer adalah jenis pelangi yang paling umum terlihat oleh manusia. Pelangi ini muncul sebagai busur dengan warna yang tersusun dari merah di bagian luar hingga ungu di bagian dalam.
Proses terbentuknya terjadi ketika cahaya matahari masuk ke dalam tetesan air, kemudian dipantulkan satu kali di dalamnya sebelum keluar kembali.
Hasilnya adalah spektrum warna yang terang dan jelas. Karena intensitas cahayanya cukup tinggi, pelangi jenis ini mudah diamati setelah hujan ketika matahari mulai bersinar.
2. Pelangi Ganda atau Secondary Bow
Pelangi ganda merupakan fenomena ketika pelangi kedua muncul di luar pelangi utama.
Pelangi ini biasanya tampak lebih redup dan memiliki urutan warna yang terbalik, dengan ungu di bagian luar dan merah di bagian dalam. Hal ini terjadi karena cahaya mengalami dua kali pemantulan di dalam tetesan air sebelum keluar.
Baca juga: Viral Semburan Air Setinggi Belasan Meter yang Disertai Munculnya Pelangi di Madura
Proses tambahan ini menyebabkan sebagian energi cahaya hilang, sehingga pelangi kedua terlihat lebih samar. Fenomena Pelangi Ganda ini menunjukkan bagaimana perubahan kecil dalam jalur cahaya dapat menghasilkan variasi visual yang signifikan.
3. Pelangi Merah atau Monochrome Rainbow
Pelangi merah biasanya muncul saat matahari berada sangat rendah di cakrawala, seperti saat matahari terbit atau terbenam.
Pada kondisi ini, cahaya matahari harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal, sehingga warna-warna dengan panjang gelombang pendek seperti biru dan hijau tersebar lebih dahulu.
Akibatnya, warna yang tersisa dan mendominasi adalah merah atau jingga. Fenomena ini berkaitan dengan Hamburan Rayleigh, yang juga menjelaskan perubahan warna langit pada waktu-waktu tertentu dalam sehari.
4. Pelangi Kabut atau Fogbow
Fogbow adalah jenis pelangi yang terbentuk di dalam kabut, bukan hujan. Berbeda dengan pelangi biasa, fogbow memiliki warna yang sangat pucat hingga tampak hampir putih.
Hal ini disebabkan oleh ukuran tetesan air dalam kabut yang jauh lebih kecil dibandingkan tetesan hujan.
Ukuran yang kecil ini menyebabkan cahaya mengalami difraksi yang lebih dominan daripada dispersi, sehingga warna-warna tidak terpisah dengan jelas. Hasilnya adalah lengkungan putih yang sering tampak seperti bayangan atau “pelangi hantu”.
Baca juga: Indahnya Penampakan Pelangi Melingkari Awan di China, Fenomena Apa?
5. Pelangi Bulan atau Moonbow
Moonbow merupakan salah satu jenis pelangi paling langka karena terbentuk pada malam hari. Fenomena ini terjadi ketika cahaya dari bulan dipantulkan dan dibiaskan oleh tetesan air di udara, seperti pada air terjun atau hujan ringan di malam hari.
Karena intensitas Cahaya Bulan jauh lebih lemah dibandingkan cahaya matahari, moonbow biasanya terlihat putih atau sangat redup bagi mata manusia. Namun, dengan kamera berpaparan panjang, warna-warnanya dapat terlihat lebih jelas.
Keberadaan moonbow memerlukan kondisi yang sangat spesifik, seperti langit yang gelap, bulan yang terang, dan posisi pengamat yang tepat.
Pelangi bukan hanya fenomena alam yang indah, tetapi juga merupakan hasil interaksi kompleks antara cahaya dan air di atmosfer.
Baca juga: NASA Pamer Penampakan Pelangi Terbalik di Langit Italia, Fenomena Apa?
Berbagai jenis pelangi yang ada menunjukkan bahwa alam memiliki banyak variasi yang sering luput dari perhatian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NASA, Weather.metoffice.gov.uk.