INDOZONE.ID - Berakhirnya La Nina lemah pada Februari 2026, setelah berlangsung selama empat bulan sejak Oktober tahun lalu, menandai perubahan pola cuaca di Indonesia. Dengan demikian, persiapkan diri karena musim kemarau diprediksi akan segera tiba.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kita telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.
Musim kemarau 2026 di Indonesia diperkirakan tiba secara bertahap, diawali dari kawasan Nusa Tenggara sejak April mendatang.
Puncak peralihan musim diprediksi terjadi pada Mei dan Juni, yang mencakup hampir 50% dari total Zona Musim (ZOM) di tanah air.
Menariknya, data menunjukkan bahwa awal kemarau di banyak wilayah (46,5%) cenderung datang lebih awal dibandingkan rata-rata tahunan, sedangkan sebagian kecil wilayah lainnya tetap stabil sesuai jadwal normalnya.
Arti Fenomena Ini
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Edvin Aldrian menyebutkan bahwa La Nina memiliki sifat berlawanan dengan El Nino.
La Nina cenderung menyebabkan peningkatan curah hujan, sementara El Nino biasanya mengurangi curah hujan.
"Indonesia merupakan daerah pintu masuk dari El Nino. Anomali tinggi muka laut di wilayah Indonesia menunjukkan korelasi negatif dengan indeks El Nino di Samudra Pasifik," jelas Edvin, dikutip dari situs resmi BRIN, Senin (16/3/2026).
Suhu Samudra Pasifik kian meningkat akibat kombinasi pemanasan global serta siklus El Nino dan La Nina.
Khusus pada periode La Nina, suhu permukaan laut di sektor tengah dan timur Pasifik akan menurun atau mendingin.
Ketidakseimbangan suhu ini dilaporkan menjadi faktor utama yang mengacaukan pola cuaca dunia, di mana Indonesia menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh fenomena tersebut.
Pengaruh dari El Nino dan La Nina
Selain mengubah pola curah hujan, La Nina memiliki konsekuensi nyata bagi sektor pertanian, perikanan, dan kelestarian laut.
Edvin menyoroti peran Great Ocean Conveyor Belt sebagai sabuk pengangkut arus laut global yang mendistribusikan panas ke seluruh Bumi. Dalam mekanisme ini, energi panas dari Indonesia bergeser ke arah tengah Samudra Pasifik.
Fenomena perpindahan panas yang terjadi saat siklus El Nino dan La Nina ini membuktikan bahwa perubahan di satu titik samudra dapat memengaruhi cuaca di seluruh dunia.
Kelautan Indonesia sebagai pintu masuk utama arus lintas Indonesia (arlindo) dapat digunakan sebagai prekursor kedatangan El Nino dengan tingkat keyakinan tinggi.
La Nina Sebabkan Kekeringan
La Nina juga bisa memicu kekeringan hebat yang kadang disertai dengan kebakaran hutan, serta peningkatan potensi gagal panen pada sektor pertanian, terutama padi.
Di sisi lain, sektor perikanan bisa mendapatkan manfaat dari La Nina karena suhu laut yang lebih dingin membuat ikan berenang lebih dekat ke permukaan, sehingga memudahkan penangkapan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN