Tradisi Bukber Era Modern yang Perlu Diperhatikan: Salah Satunya Tidak Berlebihan dan Memberatkan
INDOZONE.ID - Tradisi buka puasa bersama atau bukber sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim setiap Ramadan. Mulai dari keluarga, teman sekolah, hingga rekan kerja sering menjadikan momen ini sebagai ajang berkumpul.
Namun di balik tradisi tersebut, sebenarnya ada nilai yang jauh lebih dalam dari sekadar makan bersama saat azan Magrib. Hal ini dijelaskan oleh Kalsum Minangsih, dosen di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam sebuah wawancara mengenai makna bukber dalam perspektif Islam.
Menurutnya, esensi buka puasa bersama tidak hanya soal hidangan, tetapi juga tentang memperkuat iman, kepedulian sosial, dan kebersamaan dalam kebaikan.
Menguatkan Ukhuwah dan Silaturahmi
Salah satu tujuan utama buka puasa bersama adalah mempererat hubungan antar sesama Muslim. Ramadan menjadi momen yang tepat untuk memperkuat ukhuwah atau persaudaraan.
Melalui kegiatan ini, orang-orang yang jarang bertemu bisa kembali menjalin komunikasi, memperbaiki hubungan, serta mempererat silaturahmi. Kebersamaan tersebut menjadi bagian dari nilai sosial yang dianjurkan dalam Islam.
Baca juga: Tradisi Bukber yang Sejarahnya Sudah Dilakukan dari Zaman Rasulullah SAW, Simak Manfaatnya
“Esensi buka puasa bersama dalam Islam itu untuk menguatkan ukhuwah, mempererat persaudaraan, dan menjalin silaturahmi,” jelas Kalsum Minangsih.
Momentum Berbagi dengan Sesama
Selain mempererat hubungan sosial, bukber juga memiliki nilai kepedulian terhadap sesama.
Dalam Islam, memberi makan orang yang berpuasa memiliki keutamaan besar. Bahkan dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa orang yang memberi makan kepada orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala yang sama seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang menjalankan puasa.
Karena itu, bukber bisa menjadi sarana berbagi bagi mereka yang memiliki rezeki lebih, baik dengan menyediakan makanan bagi teman, keluarga, maupun masyarakat yang membutuhkan.
Media Syiar dan Saling Menguatkan dalam Ibadah
Menurut Kalsum Minangsih, bukber juga dapat menjadi media syiar Islam.
Baca juga: Fakta Misteri Kematian Dini Nurdiani, Wanita yang Hilang Usai Pamit Bukber Ramadhan Lalu
Melalui kegiatan tersebut, umat Muslim dapat saling mengingatkan dalam kebaikan, memperkuat semangat ibadah, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Oleh karena itu, kegiatan bukber idealnya tidak hanya diisi dengan makan bersama, tetapi juga dapat disertai dengan doa bersama, tausiah singkat, atau kegiatan berbagi kepada orang lain.
Mensyukuri Nikmat dengan Kesederhanaan
Buka puasa bersama juga menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah. Namun, rasa syukur tersebut harus diwujudkan dengan sikap sederhana dan tidak berlebihan.
Dalam Islam, makan dan minum memang dianjurkan ketika berbuka, tetapi tidak boleh dilakukan secara berlebihan.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-A'raf ayat 31 yang menyebutkan bahwa manusia diperbolehkan makan dan minum, tetapi tidak boleh berlebihan karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Kemewahan dalam Bukber Bisa Bertentangan dengan Nilai Ramadan
Kalsum Minangsih menilai bahwa praktik bukber yang terlalu mewah atau berlebihan dapat bertentangan dengan nilai Ramadan.
Baca juga: Makna Weton Wage Dalam Tradisi Jawa: Ketika Malam Sunyi Jadi Ruang Dialog Batinnya
Selain berpotensi menimbulkan pemborosan, kemewahan dalam bukber juga bisa menghilangkan makna kesederhanaan yang menjadi salah satu ruh bulan suci.
Dalam Surah Al-Isra ayat 27 bahkan disebutkan bahwa orang-orang yang boros adalah saudara-saudara setan.
Karena itu, kegiatan bukber sebaiknya tetap dilakukan secara sederhana dan tidak berorientasi pada kemewahan atau gengsi.
Agar Bukber Tetap Inklusif dan Tidak Memberatkan
Agar tradisi buka puasa bersama tetap membawa manfaat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, kegiatan bukber sebaiknya berfokus pada makna kebersamaan, bukan kemewahan.
Kedua, kegiatan tersebut harus bersifat sukarela. Tidak seharusnya ada paksaan bagi seseorang untuk hadir atau membayar iuran yang memberatkan.
Ketiga, tempat dan menu yang dipilih sebaiknya ramah bagi semua kalangan, baik dari segi harga maupun selera.
Keempat, perlu ada sikap empati terhadap kondisi orang lain, baik dari sisi ekonomi maupun waktu.
Dengan demikian, tradisi bukber tetap dapat mempererat hubungan sosial tanpa menjadi beban bagi sebagian orang.
Tidak Perlu Memaksakan Diri untuk Hadir
Dalam beberapa kasus, ada orang yang merasa tidak enak menolak undangan bukber meskipun sebenarnya tidak memiliki waktu atau biaya untuk hadir.
Menurut Kalsum Minangsih, kondisi seperti itu sebaiknya tidak dipaksakan.
Jika memang tidak memungkinkan untuk hadir, seseorang bisa menyampaikan permohonan maaf dengan baik dan menjelaskan bahwa ia tidak dapat mengikuti acara tersebut.
Silaturahmi sendiri tidak hanya bisa dilakukan melalui bukber. Setelah Ramadan, masih ada berbagai kesempatan lain seperti halal bihalal atau pertemuan di waktu lain.
Bukber Harus Menguatkan, Bukan Membebani
Pada akhirnya, tradisi buka puasa bersama seharusnya menjadi kegiatan yang membawa kebaikan, mempererat hubungan, serta meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadan.
Bukan sekadar ajang makan bersama, tetapi juga sarana untuk memperkuat iman, memperbanyak amal, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
“Intinya, tradisi buka puasa bersama harus menguatkan, bukan membebani,” ujar Kalsum Minangsih.
Dengan menjaga nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan keikhlasan, bukber dapat menjadi salah satu cara untuk meraih tujuan utama Ramadan, yaitu menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara