Selasa, 03 MARET 2026 • 21:45 WIB

Mengapa Bulan Tampak Merah saat Gerhana Total? Ini Penjelasan Sainsnya

Author

ilustrasi Gerhana Bulan (Freepik/ wirestock)

INDOZONE.ID - Fenomena Gerhana Bulan Total akan menyambangi seluruh wilayah Indonesia pada 3 Maret 2026. Momen puncaknya ditandai dengan munculnya Blood Moon, di mana Bulan berubah warna menjadi merah bata alih-alih menghilang sepenuhnya. 

Transformasi warna ini terjadi secara alami karena pengaruh atmosfer Bumi terhadap cahaya matahari yang melaluinya. 

Ingin tahu alasan teknis mengapa Bulan tidak gelap total melainkan berubah menjadi merah darah? Simak penjelasan ilmiahnya berikut ini!

Baca juga: Apa Itu Solstis? Fenomena Astronomi Penentu Panjang Siang dan Malam

Mengenal Fenomena "Hamburan Rayleigh"

Penyebab Bulan berwarna merah saat gerhana dan langit berwarna biru adalah hal yang sama, yaitu Hamburan Rayleigh. 

Fenomena ini terjadi saat cahaya matahari disebarkan oleh partikel atmosfer yang lebih kecil dari panjang gelombangnya. 

Di bawah terik matahari, molekul gas nitrogen dan oksigen membiarkan spektrum gelombang panjang (merah, jingga, kuning) menembus langsung ke permukaan Bumi, sementara spektrum gelombang pendek dihamburkan ke atmosfer.

Sementara itu, panjang gelombang yang lebih pendek, seperti warna lembayung dan biru, diserap dan dihamburkan ke segala arah. 

Oleh karena itu, warna biru saat pagi hingga siang hari dan lembayung saat petang ke malam hari lebih mudah ditangkap oleh mata.

Mengapa Bulan Bisa Jadi Merah saat Gerhana?

Selama fase gerhana Bulan total, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus yang sempurna. Dalam konfigurasi ini, Bumi bertindak sebagai penghalang cahaya matahari yang seharusnya menyinari permukaan Bulan. 

Meskipun terhalangi, cahaya matahari tetap merambat melalui tepian atmosfer Bumi yang kemudian dibelokkan (refraksi) ke arah Bulan. 

Namun, sebelum mencapai tujuannya, cahaya tersebut harus melewati lapisan atmosfer kita. Proses ini menyebabkan spektrum cahaya biru yang memiliki panjang gelombang pendek terhambur sepenuhnya, sehingga hanya menyisakan rona merah dan jingga yang akhirnya mendarat di permukaan Bulan.

Warna Merah Gerhana Bulan Terlihat di Lembayung Senja

Perubahan warna langit menjadi lembayung saat terbit dan terbenam terjadi karena perubahan posisi matahari. Di siang hari, kita melihat langit biru karena cahaya tersebut paling banyak dihamburkan ke mata manusia. 

Sebaliknya, saat matahari berada di posisi rendah (terbenam), cahaya biru menghilang lebih awal karena jarak tempuh atmosfer yang lebih panjang, sehingga hanya menyisakan spektrum merah dan jingga yang bisa tertangkap oleh penglihatan kita.

Baca juga: Siklus Batuan di Bumi: Perjalanan Panjang dari Magma Hingga Kembali Lagi ke Dalam Perut Bumi

Wajah Candra Berubah di Setiap Tahap Gerhana

Selain faktor alamiah seperti hamburan Rayleigh, keadaan atmosfer juga bisa memengaruhi kecerahan warna Bulan saat gerhana. 

Salah satu contohnya adalah ketika muncul partikel lain di atmosfer, seperti abu dari kebakaran hutan atau letusan gunung berapi. Ini dapat membuat warna Bulan berwarna merah gelap saat gerhana.

Sementara itu, Bulan tidak selalu bersembunyi di balik bayangan Bumi. Saat fenomena gerhana bulan parsial, tatanan Matahari, Bumi, dan Bulan sedikit meleset sehingga bayangan Bumi hanya menutupi sebagian Bulan. 

Paling jarang tertangkap, saat gerhana bulan penumbra, Bulan berada di bawah bayang-bayang penumbra Bumi.

Itulah penjelasan mengapa Bulan berubah warna menjadi merah darah saat fase totalitas gerhana. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: NASA, NASA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU