Jumat, 20 FEBRUARI 2026 • 13:15 WIB

Setan Dibelenggu Saat Bulan Ramadhan: Tapi Kok Masih Banyak Orang yang Berbuat Jahat dan Maksiat?

Author

Ilustrasi setan atau iblis yang dianggap menganggu saat bulan Ramadhan (Gemini AI)

INDOZON.ID - Setiap memasuki bulan suci Ramadhan, tak terkecuali bulan ini, selalu ada dalil yang mentakan bila setang selalu dibelenggu saat bulan Ramadan datang. Mendengar dalil ini, kita bersukacita sehingga berharap segala hal yang baik-baik terjadi selama bulan tersebut.

Seperti yang kita tahu, makhluk Allah SWT semacam setan dan iblis ini memang selalu disebut sebagai penganggu dan penggoba anak turun Nabi Adam A.S untuk berbuat jahat, maksiat, sehingga lupa akan akhirat. Sehingga dengan adanya dalil tersebut, kita yakin bahwa tak ada godaan para setan tersebut di bulan Ramadhan.

Namun, kejahatan dan kemaksiatan ternyata tidak serta merta padam. Banyak dari kita manusia yang melakukan hal-hal buruk tersebut.

Jadi, mengapa kejahatan dan kemaksiatan sementara sumber penggoda untuk berbuat jahat, yakni setan saat ini sedang terbelnggu?

Baca juga: Sejarah Puasa Ramadhan: Dari Nabi Adam hingga Rasulullah, Begini Proses Perintahnya!

Makna di balik Setan yang dibelenggu

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya ada sedikit penjelasan secara menyeluruh.Ramadhan juga dikenal sebagai bulan ampunan, di mana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. K

Nah, makna "setan dibelenggu" harus dipahami secara harfiah atau ada tafsir lain dari para ulama. Mengutip situs NU Online dan Muhammadiyah Hadits berikut sering kali menjadi rujukan dalam pembahasan ini bersumber dari Hadis Imam Muslim:   

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ 

“Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”  

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hajar. Mereka meriwayatkannya dari Ismail bin Ja‘far, dari Abu Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah dari Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Baca juga: Dhandangan, Tradisi Menyambut Bulan Ramadhan Masyarakat Kabupaten Kudus

Hadits ini termasuk dalam Shahih Muslim (nomor 1079), salah satu dari dua kitab hadits paling otoritatif dalam Islam. Dalam redaksi lain disebutkan: 

"Jika masuk malam pertama bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu," dengan tambahan redaksi, "Sebuah suara menyeru, ‘Wahai pencari kebaikan, menghadaplah! Wahai pencari keburukan, batasilah! Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka.’ Seruan itu terjadi setiap malam.” 

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (nomor 682) dari Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Ala bin Kuraib, dari Abu Bakar bin ‘Abbas, dari Al-A‘masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Banyak ulama lain yang meriwayatkan hadits serupa.   

Mengapa Masih Ada Maksiat di Bulan Ramadhan? 

Terkait pertanyaan tersebut, Ustadz M Tatam Wijaya, Pengasuh Majelis Taklim Syubbanul Muttaqin, Sukanagara-Cianjur dalam tulisannya yang dimuat di NU Online menjelaskan arti dari hadits tersebut. 

Makna hakiki dari hadits di atas, para ulama hadits sendiri memiliki pendapat beragam.

Ragam makna 'belenggu' 

Al-Halimi yang dikutip oleh Badruddin Al-Aini dalam ‘Umdatul Qari mengatakan, mungkin saja makna 'belenggu' menjelaskan tentang makna lain. 

Hadits ini bermakna bahwa setan senantiasa mencuri-curi dengar informasi langit. Namun, pada bulan suci Ramadhan, mereka tidak dapat melakukan hal itu karena dibelenggu, termasuk menggoda manusia. 

Baca juga: Kisah Mistis Patak Setan di Warung Sego Megono: Ada Misteri di Balik Hidangan Legendaris

Sebagaimana diketahui, zaman Al-Qur‘an diturunkan mereka senantiasa dihalang-halangi mencuri tahu wahyu yang turun. Itu terjadi antara lain demi menjaga keotentikan wahyu. 
Tidak terlalu leluasa.

Tidak terlalu leluasanya setan

Mungkin pula hadits ini bermakna, pada bulan Ramadhan setan tidak terlalu leluasa menggoda manusia layaknya pada bulan-bulan lain karena kesibukan manusia berpuasa, membaca Al-Qur‘an, berzikir, dan seterusnya. 

Dengan demikian, istilah “dibelenggu” menjadi ungkapan atas kelemahan setan menyelewengkan, menggoda manusia, dan memperindah keinginan syahwat manusia. 

Terbelenggu hanya untuk orang-orang beriman

Walhasil, menurut Abu Muhammad penulis Kitab ‘Umdatul Qari, mengapa kemaksiatan masih merebak pada bulan Ramadhan walau setan dibelenggu? 

Jawabannya setan terbelenggu pada bulan itu bagi orang-orang berpuasa yang menjaga syarat, rukun, dan adabnya. (Syekh Badruddin Al-Aini, ‘Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari, juz X, halaman 270). 

Baca juga: Gereja Setan Bakal Beri Program Keagamaan di SD Edgewood: Duh, Bakal Menyembah Setan?

Hanya sebagian yang dibelenggu

Ada lagi yang berpendapat bahwa setan yang dibelenggu hanya sebagian saja, tidak seluruhnya. 

Maksud hadits ini hanya membatasi ruang gerak setan dan jin-jin jahat saja. Itu pun dilakukan oleh orang-orang yang berpuasa. 

Manusia tetap punya hawa nafsu 

Kemudian, pembelengguan setan tidak berhubungan langsung dengan keburukan dan kemaksiatan manusia.  

Sebab, dalam diri manusia masih terdapat pemicu atau pendorong keburukan lain, yakni nafsu, kebiasaan buruk, dan setan manusia. Adakalanya, tanpa setan, kebiasaan buruk akan mendorong manusia untuk berbuat buruk. 

Saat tidak dibelenggu pun, setan hanya mendorong dan memperindah keburukan. Ada pula yang menafsirkan ungkapan hadits ini sebagai kiasan, seperti Abu ‘Umar Yusuf Al-Qurthubi. 

Ia mengatakan, “Menurut hemat saya, maksud ‘dibelenggu’ di sana adalah majas (kiasan). Maknanya, wallahu a‘lam, Allah senantiasa menjaga kaum Muslimin yang taat di bulan Ramadhan dari godaan setan sehingga mereka mampu menghindari kemaksiatan. Dengan begitu, setan tidak leluasa menggoda mereka yang berlainan halnya dengan bulan-bulan di luar Ramadhan,” (Lihat Al-Istidzkar, juz III, halaman 377). 

Dengan demikian, pengertian setan dibelenggu dalam hadits tadi tidak dapat dimaknai sepenuhnya secara harfiah. Mayoritas ulama hadits bahkan menafsirkannya secara kiasan. Artinya, setan terbelenggu dan terbatasi ruang geraknya oleh orang-orang yang berpuasa dengan senantiasa memenuhi syarat, rukun, dan adabnya.

Baca juga: Dhandangan, Tradisi Menyambut Bulan Ramadhan Masyarakat Kabupaten Kudus

 Pada saat yang sama, Allah memelihara mereka dari perbuatan tercela. Oleh karena itu, berusahalah untuk menjauhi kebiasaan buruk, menjauhi manusia setan, dan mengendalikan nafsu yang kerap ditumpangi setan jin dalam menyesatkan manusia.

Nah, itulah mengapa kemaksiatan dan kejahatan tetap terjadi kendati setan disebut sudah belenggu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Nu Online

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU