INDOZONE.ID - Tradisi ziarah kubur atau nyekar menjelang puasa sudah menjadi identitas budaya Muslim di Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Setiap daerah punya sebutan uniknya sendiri, mulai dari nyadran, kosar, hingga munggahan.
Meski namanya beragam, tujuannya tetap selaras, yaitu menghormati para pendahulu dan mempersiapkan diri secara spiritual untuk menyambut bulan Ramadan yang penuh berkah.
Menariknya, tradisi nyekar sebelum puasa ini telah mengalami akulturasi budaya yang harmonis antara ajaran Islam dan tradisi lokal.
Melalui pendekatan yang humanis, Wali Songo berhasil menyisipkan nilai-nilai tauhid ke dalam praktik ziarah ini, mengubahnya menjadi media dakwah yang santun tanpa menghapus jati diri budaya setempat.
Baca juga: Panduan Ziarah Makam Wali Menurut Islam
Strategi ini terbukti ampuh dalam melestarikan warisan nenek moyang sekaligus memperkuat akidah.
Lantas, apa sejarah hingga makna di balik tradisi ziarah kubur menjelang puasa? Simak ulasannya di bawah ini!
Sejarah dan Perkembangan Tradisi Ziarah Kubur di Indonesia
Melansir laman NU, catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sudah lama mengenal ritual di area pemakaman. Dalam perjalanan syiar Islam, praktik ini awalnya dibatasi oleh Rasulullah SAW sebagai langkah preventif terhadap syirik.
Namun, perubahan terjadi saat pondasi Islam sudah mantap; ziarah diubah statusnya menjadi anjuran spiritual yang berfungsi sebagai pengingat akan kefanaan dunia.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:
قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ
"Sesungguhnya aku dulu telah melarang kalian berziarah kubur. Maka (sekarang) ziarahlah karena akan bisa mengingatkan kepada akhirat."
Indonesia memiliki cara unik dalam merawat tradisi ziarah setelah bersentuhan dengan ajaran Islam. Wali Songo berhasil memadukan adat lama dengan napas islami, melahirkan ritual seperti Nyadran yang jamak dilakukan pada bulan Rajab atau Syaban.
Kini, tradisi tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan batin menjelang Ramadan. Sebuah momen di mana membersihkan makam dan menabur bunga menjadi simbol dari ketulusan doa bagi para leluhur.
Hukum dan Keutamaan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan
Dalam pandangan Islam, ziarah kubur memiliki landasan hukum yang akurat. Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain memaparkan beberapa keutamaan ziarah kubur, khususnya ziarah ke makam orang tua.
Beliau menyebutkan bahwa siapa saja yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jumat, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan mencatatnya sebagai anak yang berbakti.
Lebih lanjut, terdapat hadits yang diriwayatkan dalam Al-Mu'jam al-Kabir lit Thabrani yang menyebutkan:
مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمْعَةٍ غُفِرَ لَهُ وَكُتِبَ بَرًّا
"Barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jumat, maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya."
Penting untuk diketahui bahwa ada rambu-rambu tertentu dalam berziarah, khususnya bagi perempuan. Dalam literatur fikih seperti kitab I'anatut Thalibin, praktik ini dihukumi makruh bagi wanita.
Alasan utamanya adalah sebagai langkah preventif agar mereka tidak terlarut dalam kesedihan yang berlebihan atau meratap secara emosional saat berada di area pemakaman.
Makna dan Nilai Spiritual dalam Tradisi Nyekar
Ada dua makna utama di balik tradisi nyekar menjelang puasa. Pertama, sebagai refleksi spiritual untuk mengingat kematian, yang membantu umat Muslim menata niat sebelum berpuasa.
Kedua, sebagai sarana penguat ikatan kekeluargaan. Karena kerap kali dilakukan secara kolektif, momen ini menjadi kesempatan berharga untuk mempererat tali persaudaraan atau silaturahmi di ambang bulan Ramadan.
Baca juga: Soeharto dan Tradisi Kejawen: Kisah Ziarah ke Gunung Srandil
Ketiga, ziarah kubur menjadi sarana berbakti kepada orang tua dan leluhur, bahkan setelah mereka wafat. Seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar:
من زار قبر أبيه أو أمه أو عمته أو خالته أو أحد من قراباته كانت له حجة مبرورة, ومن كان زائرا لهم حتى يموت زارت الملائكة قبره
"Barang siapa berziarah ke makam bapak atau ibunya, paman atau bibinya, atau berziarah ke salah satu makam keluarganya, maka pahalanya adalah sebesar haji mabrur. Dan barang siapa yang istiqamah berziarah kubur sampai datang ajalnya maka para malaikat akan selalu menziarahi kuburannya."
Sebagai warisan turun-temurun, tradisi nyekar tetap relevan bagi masyarakat Indonesia saat ini. Jika dijalankan sesuai tuntunan agama, ziarah ini tidak hanya berfungsi untuk mendoakan mereka yang telah tiada, tetapi juga menjadi momentum refleksi diri dalam mempersiapkan batin menyambut kehadiran Ramadan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NU Online