INDOZONE.ID - Kontroversi mengenai status kelapa sawit kembali memanas menyusul langkah Badan Bahasa yang merevisi definisinya dalam KBBI dari 'tumbuhan' menjadi 'pohon'.
Topik ini mendulang atensi publik setelah pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait korelasi sawit dan deforestasi viral, terutama di tengah duka akibat bencana banjir serta tanah longsor yang baru-baru ini menerjang wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Sebenarnya apakah sawit termasuk pohon? Sawit memang bisa disebut pohon, namun perannya tidak bisa disamakan dengan hutan alami.
Walaupun sama-sama berupa tanaman, pohon hutan memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih kompleks.
Baca juga: Pulau Buatan Palm Jumeirah di Dubai Ini Menyerupai Pohon Kelapa Sawit
Lantas, seperti apa penjelasan yang benar mengenai apakah sawit itu termasuk pohon? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Apakah Sawit Termasuk Pohon?
Meninjau dari sisi sains, peneliti BRIN Joko Witono mengungkapkan bahwa sawit secara visual memang layak disebut pohon.
Struktur batangnya yang kokoh dan tinggi ke atas, ditambah dengan kelompok daun yang hanya berada di bagian puncak, membuat profil sawit identik dengan definisi pohon yang dikenal masyarakat luas.
Penting untuk dicatat bahwa meski terlihat seperti pohon, sawit memiliki sifat haus air yang luar biasa menurut penjelasan Joko Witono. Penempatan kebun sawit di sekitar aliran sungai dapat mempercepat titik jenuh tanah.
Ketika tanah kehilangan kemampuannya untuk menyerap air lebih lanjut, terciptalah aliran permukaan yang masif, yang pada akhirnya menjadi pemicu utama terjadinya banjir di wilayah tersebut.
Pandangan lain menampik klasifikasi sawit sebagai pohon dengan merujuk pada anatomi tanamannya.
Mengingat definisi pohon sering kali identik dengan tanaman berkayu keras, sawit justru lebih tepat disebut sebagai tumbuhan monokotil dari suku palem-paleman (Arecaceae).
Karena tidak memiliki struktur kayu yang kokoh seperti pohon hutan pada umumnya, statusnya sebagai 'pohon' pun kerap dipertanyakan dalam konteks botani murni.
Perbedaan Sawit dengan Pohon Lainnya
Walaupun memiliki profil fisik yang menjulang tinggi, kelapa sawit menyimpan sejumlah perbedaan substansial jika dikomparasikan dengan karakteristik pohon hutan pada umumnya. Berikut adalah rincian perbedaan mendasarnya:
1. Klasifikasi Tumbuhan
Meskipun tampak besar, sawit secara biologis berada di kelompok monokotil, serupa dengan karakter tanaman jagung atau rumput-rumputan. Ini berbeda jauh dengan pohon dikotil seperti apel dan jati yang memiliki struktur kayu sejati.
Klasifikasi yang berbeda ini memengaruhi segala aspek, mulai dari cara akar menyebar hingga bagaimana batang tanaman bertambah lebar seiring waktu.
2. Struktur Batang
Ketiadaan kambium pada sawit menjadi alasan mengapa batangnya tidak bisa terus membesar secara lateral. Pertumbuhan diameternya akan menemui titik jenuh setelah mencapai ukuran tertentu.
Sementara itu, pohon dikotil memiliki mekanisme pertumbuhan sekunder melalui kambium yang menghasilkan lingkaran tahun, sebuah proses yang memungkinkan batang mereka terus mengekspansi ukurannya sepanjang hidup mereka.
3. Kulit Batang
Tampilan luar batang sawit yang kasar sebenarnya bukanlah kulit kayu sejati, melainkan kumpulan pangkal pelepah daun yang mengeras dan tetap melekat pada batang.
Hal ini berbeda fundamental dengan pohon dikotil yang memiliki epidermis atau kulit kayu asli sebagai perisai pelindung sekaligus sarana regenerasi jaringan saat batang mengalami kerusakan atau luka.
4. Daun dan Percabangan
Struktur vegetasi sawit terlihat sangat spesifik karena seluruh daunnya yang berbentuk pelepah hanya terkonsentrasi di bagian paling atas batang.
Jika pohon biasa dikenal dengan kerimbunan cabang-cabangnya, sawit justru tumbuh tegak lurus tanpa cabang sedikit pun.
Fenomena percabangan pada sawit hanya mungkin terjadi sebagai bentuk anomali apabila titik tumbuhnya mengalami cidera atau kerusakan.
5. Sistem Perakaran
Karakteristik akar sawit yang menyebar luas tanpa akar tunggang menjadikannya sangat dominan dalam menyedot ketersediaan air tanah.
Kerakusan sistem perakaran ini menjadi ancaman serius bagi daerah aliran sungai karena dapat mengakibatkan tanah kehilangan kapasitas infiltrasinya lebih cepat.
Akibatnya, saat hujan turun, air tidak meresap ke dalam bumi melainkan mengalir bebas di permukaan, yang berpotensi besar memicu limpasan air dan banjir bandang.
Apakah Sawit Bisa Menggantikan Fungsi Hutan?
Fungsi ekologis hutan alami tidak dapat digantikan oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit karena perbedaan struktur biologisnya yang mencolok.
Menurut WALHI, sistem monokultur pada perkebunan sawit menciptakan defisit biodiversitas yang signifikan.
Sementara hutan menyediakan jaringan kehidupan yang kompleks bagi berbagai organisme, lingkungan kebun sawit justru membatasi ruang hidup flora dan fauna, menjadikan keseimbangan ekosistemnya jauh lebih rapuh dibandingkan hutan rimba.
Baca juga: 7 Mitos Pohon di Indonesia yang Konon Dihuni Makhluk Halus, Nomor Terakhir Bikin Merinding
Lis Noer Aini, pakar Evaluasi lahan dan tata wilayah dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, juga menegaskan bahwa hutan memiliki struktur berlapis yang kompleks, mulai dari pohon besar, tumbuhan bawah, hingga mikroorganisme tanah.
Berbeda dengan hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia dan penstabil iklim, perkebunan sawit hadir lebih sebagai sistem industri pertanian.
Terlepas dari perdebatan statusnya yang kini resmi disebut pohon dalam KBBI, realitas ekologis menunjukkan bahwa sawit tidak sebanding dengan hutan alami.
Diversitas hutan tetap menjadi kunci yang tak tergantikan dalam menjaga kelestarian planet kita dari ancaman kerusakan lingkungan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Www.umy.ac.id, BRIN