Jumat, 30 JANUARI 2026 • 12:00 WIB

Mengenal Modifikasi Cuaca: Teknologi BMKG untuk Kendalikan Hujan dan Cegah Bencana

Author

Ilustrasi cuaca ekstrem di kawasan Hawaii. (Weatherboy.com)

INDOZONE.ID - Istilah modifikasi cuaca semakin sering terdengar, terutama saat curah hujan tinggi memicu banjir di berbagai daerah.

Tidak sedikit masyarakat yang bertanya-tanya, apa sebenarnya modifikasi cuaca itu, bagaimana cara kerjanya, dan apakah aman dilakukan dalam jangka panjang?

Melansir laman BMKG, secara sederhana modifikasi cuaca adalah upaya ilmiah untuk mengelola curah hujan dengan cara memicu atau mengendalikan proses alami di dalam awan.

Di Indonesia, teknologi ini dikenal dengan sebutan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dan dijalankan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dikoordinasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Baca juga: Apakah Air Hujan Bersih dan Aman untuk Diminum? Ini Penjelasan Lengkapnya!

Apa Itu Teknologi Modifikasi Cuaca?

Teknologi modifikasi cuaca bukanlah upaya “menciptakan” hujan atau cuaca ekstrem baru. Sebaliknya, teknologi ini hanya bekerja pada awan yang sudah terbentuk secara alami dan telah memenuhi syarat meteorologis. Artinya, manusia tidak mengendalikan cuaca sepenuhnya, melainkan memicu proses fisika yang memang sudah terjadi di alam.

Dalam praktiknya, modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemai awan menggunakan bahan tertentu seperti natrium klorida (NaCl/garam) atau kalsium oksida (CaO/kapur).

Penyemaian ini bertujuan untuk mempercepat turunnya hujan atau, dalam kondisi tertentu, mengurangi intensitas hujan di wilayah rawan bencana.

Baca juga: Tragedi Banjir Bandang Terparah Quebec Kanada pada Abad ke-20: 1.718 Rumah Rusak dan 16 Ribu Orang Mengungsi

Tujuan Modifikasi Cuaca di Indonesia

BMKG menegaskan bahwa pelaksanaan modifikasi cuaca di Indonesia bertujuan murni untuk mitigasi bencana, terutama bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

Langkah ini bertujuan sebagai respons atas meningkatnya curah hujan ekstrem dan menurunnya daya dukung lingkungan akibat perubahan iklim dan alih fungsi lahan.

Di tengah berbagai narasi yang beredar di media sosial, BMKG meluruskan anggapan bahwa OMC dapat menyebabkan cuaca menjadi tidak stabil atau menciptakan “bom waktu”. Salah satu isu yang kerap disalahpahami adalah fenomena cold pool atau kolam udara dingin.

Baca juga: Apa Itu Siklon Tropis Senyar? Begini Penjelasannya Menurut BMKG

BMKG menjelaskan bahwa cold pool merupakan fenomena alami yang selalu terjadi setiap kali hujan turun, baik hujan alami maupun hujan hasil modifikasi cuaca.

Fenomena ini terbentuk ketika udara di bawah awan hujan mendingin akibat penguapan air, lalu turun ke permukaan. Dengan demikian, mengaitkan cold pool sebagai dampak berbahaya dari modifikasi cuaca merupakan kekeliruan secara ilmiah.

Bagaimana Proses Modifikasi Cuaca Dilakukan?

Dalam pelaksanaannya, modifikasi cuaca dilakukan dengan perhitungan yang sangat matang. Tim BMKG terlebih dahulu memantau kondisi atmosfer menggunakan radar cuaca, citra satelit, dan data meteorologi lainnya. Penyemaian awan hanya dilakukan jika kondisi benar-benar memungkinkan dan aman.

Terdapat dua metode utama dalam operasi ini.

Pertama adalah Jumping Process Method, yaitu menyemai awan hujan yang masih berada di laut agar hujan turun sebelum awan mencapai daratan. Cara ini banyak digunakan untuk melindungi wilayah strategis dari curah hujan berlebih.

Baca juga: Fenomena Suhu Panas di Indonesia Mulai Turun, BMKG: Bukan Gelombang Panas

Metode kedua adalah Competition Method, yang diterapkan pada awan yang tumbuh langsung di atas daratan. Penyemaian dilakukan sejak dini untuk menghambat pertumbuhan awan agar tidak berkembang menjadi awan Cumulonimbus besar yang berpotensi menurunkan hujan ekstrem.

Metode tesebut dilakukan bukan untuk memindahkan hujan ke wilayah lain, melainkan mengendalikan intensitasnya.

Modifikasi Cuaca di Jakarta dan Jawa Barat

Sebagai contoh, modifikasi cuaca telah dilakukan di Jakarta pada Januari 2026 sebagai bagian dari penanganan siaga darurat bencana hidrometeorologi.

Operasi ini melibatkan BMKG, BPBD DKI Jakarta, BNPB, serta TNI Angkatan Udara, dengan penyemaian awan difokuskan di wilayah perairan sebelum awan bergerak ke daratan Jabodetabek.

Baca juga: Beda dari BRIN, BMKG Kaitkan Cuaca Buruk dengan Bibit Siklon Tropis, Ini Dampaknya

Selain itu, di Jawa Barat juga telah dilakukan modifikasi cuaca untuk mengantisipasi cuaca ekstrem dan membantu penanganan bencana tanah longsor.

Operasi tersebut diarahkan ke wilayah rawan dengan tujuan mengurangi intensitas hujan agar proses evakuasi dan distribusi bantuan dapat berjalan lancar.

Modifikasi Cuaca Bukan Solusi Tunggal

Meski berperan penting, BMKG menegaskan bahwa modifikasi cuaca bukan solusi tunggal dalam mengatasi banjir. Penataan lingkungan, pemulihan daerah resapan air, serta pengelolaan drainase tetap menjadi faktor utama.

Hilangnya banyak situ dan ruang terbuka hijau, khususnya di wilayah perkotaan, turut memperbesar risiko banjir meski hujan tidak ekstrem.

Baca juga: Terjadi di Jawa Tengah, Apa Perbedaan Banjir Rob dengan Banjir Bandang?

Karena itu, modifikasi cuaca diposisikan sebagai alat bantu untuk mengelola risiko cuaca di tengah keterbatasan daya tampung lingkungan saat ini, bukan sebagai pengganti upaya perbaikan lingkungan.

Modifikasi cuaca merupakan teknologi berbasis sains yang dijalankan secara terukur dan diawasi ketat oleh BMKG.

Tujuannya jelas, yaitu melindungi masyarakat dari dampak cuaca ekstrem di tengah tantangan perubahan iklim. Selama dilakukan secara ilmiah dan paralel dengan penataan lingkungan, modifikasi cuaca menjadi salah satu strategi penting dalam mitigasi bencana di Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BMKG

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU