Rabu, 28 JANUARI 2026 • 15:05 WIB

Benarkah Manusia Hanya Menggunakan 10 Persen Otaknya?

Author

Ilustrasi otak manusia. (Pixabay/Geralt)

INDOZONE.ID - Mungkin pernah mendengar klaim populer bahwa manusia hanya memakai 10 persen dari kapasitas otaknya. Sisanya disebut-sebut sebagai “potensi tersembunyi” yang, jika bisa dibuka, konon akan membuat seseorang menjadi jenius luar biasa atau bahkan memiliki kemampuan supranatural seperti membaca pikiran dan telekinesis.

Kedengarannya memang menarik, tapi faktanya klaim ini tidak benar. Melansir dari laman Thoughtco, berbagai penelitian ilmiah justru menunjukkan bahwa manusia menggunakan hampir seluruh bagian otaknya setiap hari, meskipun tidak semuanya aktif secara maksimal pada waktu yang sama.

Meski telah lama dibantah oleh sains, mitos otak hanya menggungakan 10 persen tetap hidup dalam budaya populer. Film seperti Limitless dan Lucy menggambarkan tokoh utama yang memperoleh kekuatan luar biasa setelah “mengaktifkan” bagian otak yang sebelumnya tidak terpakai.

Baca juga: Otak Astronot Alami Perubahan Usai Misi Antariksa, Ini Penyebabnya!

Bahkan, sebuah studi pada 2013 menemukan bahwa sekitar 65 persen orang dewasa di Amerika Serikat masih mempercayai mitos ini.

Lebih mengejutkan lagi, penelitian lama menunjukkan bahwa sepertiga mahasiswa psikologi yang mempelajari otak secara langsung juga mempercayainya.

Apa Kata Ilmu Saraf?

Dalam dunia neuropsikologi, para ilmuwan mempelajari bagaimana struktur dan fungsi otak memengaruhi perilaku, emosi, serta kemampuan berpikir manusia. Dari hasil penelitian selama puluhan tahun, para ahli sepakat bahwa setiap bagian otak memiliki peran penting.

Dengan bantuan teknologi modern seperti PET scan dan fMRI, ilmuwan dapat melihat aktivitas otak secara langsung. Hasilnya jelas, tidak ada bagian otak yang benar-benar “mati” atau tidak berguna.

Baca juga: Seperti Apa Isi Otak Ted Bundy? Jadi Barang Langka yang Diincar Para Peneliti

Saat kalian membaca artikel ini, otak manusia bekerja di banyak area sekaligus, mulai dari pusat penglihatan, pemahaman bahasa, hingga koordinasi tangan yang memegang ponsel.

Terkadang, gambar hasil pemindaian otak justru menimbulkan salah paham. Area yang tampak lebih terang sering dianggap sebagai satu-satunya bagian otak yang aktif. Padahal, warna terang hanya menandakan aktivitas yang lebih tinggi dibanding kondisi istirahat, sementara area lain tetap bekerja, hanya pada intensitas yang lebih rendah.

Bukti dari Kasus Kerusakan Otak

Bukti paling kuat untuk membantah mitos otak hanya menggungakan 10 persen justru datang dari kasus kerusakan otak. Jika benar manusia hanya menggunakan sebagian kecil otaknya, maka kerusakan pada area tertentu seharusnya tidak berdampak besar. Kenyataannya, kerusakan kecil saja bisa menimbulkan konsekuensi serius.

Sebagai contoh, kerusakan pada area Broca dapat membuat seseorang kesulitan berbicara, meskipun pemahaman bahasanya masih utuh. Dalam kasus ekstrem, kekurangan oksigen yang merusak sebagian besar otak seseorang dapat menghilangkan kemampuan berpikir, mengingat, hingga merasakan emosi, hal-hal yang sangat mendasar bagi kehidupan manusia.

Baca juga: Lobotomi: Operasi Otak Terseram dalam Sejarah Medis Dunia

Dilihat dari Sudut Pandang Evolusi

Secara evolusi, mitos otak hanya menggungakan 10 persen juga tidak masuk akal. Otak manusia hanya sekitar 2 persen dari berat tubuh, tetapi menghabiskan lebih dari 20 persen energi yang kita miliki. Jika sebagian besar otak tidak digunakan, tubuh tidak akan “membuang” energi sebanyak itu untuk mempertahankannya.

Seleksi alam selama jutaan tahun hanya mempertahankan organ yang benar-benar berguna untuk kelangsungan hidup. Jadi, sangat tidak logis jika otak berevolusi menjadi organ yang mahal secara energi, namun sebagian besarnya tidak dipakai.

Baca juga: Proses Ajaib Otak Saat Melupakan Sakit Hati

Dari Mana Asal Mitos Ini?

Daya tarik utama mitos otak hanya menggungakan 10 persen terletak pada gagasan bahwa manusia sebenarnya bisa menjadi jauh lebih hebat jika mampu “menggali potensi tersembunyi”. Narasi ini sangat selaras dengan buku-buku pengembangan diri yang menjanjikan kesuksesan dan peningkatan diri.

Salah satu contoh terkenal muncul dalam buku How to Win Friends and Influence People, yang menyebut bahwa manusia rata-rata hanya mengembangkan sebagian kecil dari kemampuan mentalnya. Pernyataan ini sering disalahartikan sebagai penggunaan otak secara fisik, padahal yang dimaksud adalah potensi keterampilan, bukan bagian otak yang aktif.

Baca juga: Axolotl: Hewan Imut yang Bisa Regenerasi Jantung dan Otak!

Selain itu, penelitian ilmu saraf lama juga ikut menyumbang kesalahpahaman. Pada era 1930-an, beberapa area otak tampak “diam” karena teknologi saat itu belum cukup canggih untuk mendeteksi fungsinya. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, area-area tersebut termasuk lobus prefrontal ternyata memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan dan kepribadian.

Berapa Persen Otak yang Kita Gunakan?

Jawabannya sederhana, manusia menggunakan hampir seluruh bagian otaknya, hanya saja tidak semuanya bekerja secara bersamaan atau pada tingkat aktivitas yang sama. Otak adalah sistem yang sangat efisien, bekerja sesuai kebutuhan, bukan mesin yang menyala penuh setiap saat.

Baca juga: Kisah Buford Pusser, Sang Sheriff Legendaris yang Jago Menangkap Penjahat Sekaligus Otak Pembunuh

Alih-alih mencari cara “mengaktifkan” bagian otak yang tidak terpakai, yang lebih realistis adalah mengoptimalkan cara kita belajar, berpikir, dan beristirahat, karena di situlah potensi manusia sebenarnya berkembang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Thoughtco.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU