Minggu, 21 DESEMBER 2025 • 16:20 WIB

Jejak Karma di Papan Permainan: Sejarah Ular Tangga dari India Kuno

Author

Sejarah ular tangga. (Freepik)

INDOZONE.ID - Jejak bidak yang berhenti di kotak bergambar ular kini kerap dimaknai sebatas kemalangan kecil dalam permainan anak-anak. Padahal, ratusan tahun lalu di India, posisi itu melambangkan kemerosotan spiritual yang serius. 

Digelar di atas kain atau lembaran kertas dengan tata cara yang sarat makna, permainan ini dahulu dipahami sebagai representasi perjalanan batin manusia menuju keabadian.

Setiap petak tidak hanya merepresentasikan bilangan, tetapi menyimbolkan hukum karma yang menjerat manusia dalam putaran kelahiran yang berulang. 

Permainan ini mula-mula dikenal sebagai Gyan Chaupar atau “Permainan Pengetahuan”, yang pada masanya berfungsi sebagai medium pembelajaran spiritual bagi masyarakat India kuno, bukan sekadar sarana hiburan.

Baca juga: Gagak Disebut 'Detektif Pembunuhan' di Dunia Burung, Menyelidiki TKP Sesamanya yang Tewas

Perubahan besar-besaran terjadi saat material kain yang mudah rusak itu melintasi samudera dan berubah identitas menjadi produk komersial di tangan bangsa Barat.

Lalu, bagaimana media pembelajaran spiritual yang sarat makna ini bertransformasi menjadi permainan papan berbasis angka dan nasib semata? Nilai apa yang tergerus ketika simbol ular tak lagi memuat pesan tentang dosa dan kebajikan?

Peta Karma dalam Labirin Spiritual

Sejarah Gyan Chaupar tergolong panjang dan masih menyisakan perbedaan pandangan. Mengacu pada catatan Ancient Origins, identitas penciptanya belum dapat dipastikan, namun permainan ini diperkirakan telah dikenal sejak abad ke-2 Masehi. 

Sejumlah ahli menilai tokoh suci Marathi abad ke-13, Dnyaneshwar atau Dnyandev, berperan besar dalam penyebarannya, meskipun naskah Rishabh Panchasika dari abad ke-10 menunjukkan bahwa permainan tersebut telah ada lebih awal.

Menurut Asia Research News, contoh fisik tertua yang berhasil ditemukan berasal dari Mewar abad ke-17, sementara sebagian besar koleksi yang tersisa di museum saat ini berasal dari abad ke-18.

Pada periode abad pertengahan, rancangan papan Gyan Chaupar menunjukkan variasi yang luas dan sarat dengan simbol teologis. 

Dalam tradisi Hindu, papan permainan umumnya terdiri atas 72 kotak, dengan sejumlah petak, seperti 24 yang dikaitkan dengan pergaulan buruk, 44 dengan pengetahuan semu, dan 55 dengan ego, dipandang sebagai rintangan spiritual. 

Tujuan permainan adalah mencapai kotak ke-68 yang merepresentasikan alam Dewa Shiva.

Adapun dalam tradisi Jain, khususnya di wilayah Gujarat dan Rajasthan, papan permainan biasanya berisi 84 kotak dan kerap dimainkan selama perayaan Paryushan sebagai bagian dari praktik devosi saat menjalani puasa.

Di kawasan Punjab, berkembang varian Vaishnava dengan struktur yang jauh lebih rumit, terdiri atas lebih dari 300 kotak. 

Versi ini bahkan menempatkan Vaikuntha, kediaman Dewa Vishnu, beberapa petak sebelum garis akhir, sebagai pengingat agar pemain tidak terjerumus pada sikap angkuh.

Baca juga: Payung, Penemuan Jenius Perajin Tiongkok Kuno, Ketika Eropa Masih Percaya Hujan Kutukan Dewa

Evolusi dan Pengikisan Makna di Tangan Kolonial

Makna utama permainan ini terletak pada ketimpangan jumlah ular dan tangga. Menurut Asia Research News, ular dibuat jauh lebih banyak sebagai simbol bahwa jalan menuju pencerahan jauh lebih sulit daripada godaan untuk jatuh pada sifat-sifat buruk.

Ular dan tangga berperan sebagai simbol karma, dengan tangga mencerminkan kebajikan dan pengetahuan, sementara ular menggambarkan berbagai sifat buruk dan ilusi duniawi. Melalui lemparan kauri atau dadu, pemain menapaki papan dari bawah ke atas dengan tujuan akhir mencapai moksha.

Ancient Origins mencatat bahwa adaptasi tersebut menyederhanakan pesan filosofis permainan. Unsur religius diganti dengan ilustrasi bergaya Victoria, jumlah ular dan tangga diseimbangkan, dan pada 1943 permainan ini dipasarkan di Amerika Serikat sebagai Chutes and Ladders, dengan ular diubah menjadi perosotan agar lebih ramah bagi anak-anak.

Pesan moral yang dahulu melekat kuat pada permainan ini kini tidak lagi dijumpai, meninggalkan bentuk permainan mekanis yang tersimpan sebagai benda sejarah di institusi seperti British Library dan National Museum di New Delhi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: National Geographic

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU