Selasa, 04 NOVEMBER 2025 • 15:15 WIB

Dulu Manusia Tidur Dua Kali Semalam, ke Mana Pergi “Tidur Kedua” Itu?

Author

ilustrasi Tidur (freepik/ jcomp)

INDOZONE.ID - Kalau kamu pernah kebangun jam tiga pagi, mata melek, terus mulai mikir, “Kenapa sih aku nggak bisa tidur kayak orang normal?” tenang mungkin kamu justru lebih manusiawi dari yang kamu kira.

Karena ternyata, tidur nyenyak delapan jam tanpa bangun itu bukan kebiasaan alami manusia sejak dulu. Itu justru kebiasaan modern.

Selama ribuan tahun, manusia nggak tidur sekaligus kayak sekarang. Mereka tidur dalam dua bagian: ada yang namanya “tidur pertama” dan “tidur kedua.”

Tidur Dua Kali, Zaman Dulu

Bayangin hidup sebelum listrik. Begitu matahari terbenam, langit gelap nggak ada Netflix, nggak ada lampu neon. Orang-orang zaman itu biasanya tidur lebih awal, terus bangun lagi sekitar tengah malam. Setelah satu atau dua jam terjaga, baru tidur lagi sampai pagi.

Catatan sejarah dari Eropa, Afrika, sampai Asia semua bilang hal yang sama: tidur dua kali itu hal biasa. Ada yang bangun untuk nyalain api, periksa ternak, atau sekadar duduk merenung sambil mikirin mimpi barusan. Ada juga yang pakai waktu itu buat berdoa, baca, ngobrol pelan sama keluarga, bahkan urusan pasangan juga sering dilakukan di jam-jam itu.

Dalam literatur klasik pun banyak petunjuknya. Homer dan Virgil penyair Yunani dan Romawi kuno sama-sama pernah menyebut soal “jam setelah tidur pertama.” Jadi ini bukan cuma kebiasaan segelintir orang di Eropa abad pertengahan, tapi memang pola tidur manusia yang alami banget.

Baca juga: Ilmuwan Jepang Temukan Cara Menghapus Memori Manusia, Menggunakan 'Cahaya Biru'

Lalu, Kenapa “Tidur Kedua” Menghilang?

Jawabannya singkat: lampu.

Begitu manusia menemukan cara menerangi malam, mulai dari lampu minyak, gas, sampai listrik semua berubah. Orang jadi bisa begadang. Malam nggak lagi gelap gulita, dan waktu tidur mulai mundur.

Tubuh manusia punya jam biologis yang sensitif banget sama cahaya. Paparan cahaya terang di malam hari (bahkan lampu kamar biasa) bisa menekan hormon melatonin, yaitu sinyal alami tubuh untuk mulai ngantuk. Jadi kalau kamu sering susah tidur gara-gara main HP sebelum tidur ya, itu versi modern dari revolusi listrik 200 tahun lalu.

Selain itu, Revolusi Industri juga punya andil besar. Ketika pabrik-pabrik mulai butuh tenaga kerja dengan jadwal tetap, manusia jadi “dipaksa” punya pola tidur yang seragam: satu blok, delapan jam penuh. Dari situlah muncul standar “tidur ideal delapan jam tanpa putus” yang kita kenal sekarang.

Padahal, sebelum ada pabrik dan lampu listrik, orang bebas tidur dalam dua sesi tanpa dianggap aneh.

Sisa Jejak di Dalam Diri Kita

ilustrasi Tidur (Freepik/ tirachardz)

Meski kebiasaan tidur dua kali udah hilang dari budaya modern, tubuh manusia belum sepenuhnya “move on.”

Dalam eksperimen tidur yang dilakukan di laboratorium tanpa cahaya buatan, banyak peserta yang secara alami kembali ke pola tidur dua kali: tidur beberapa jam, bangun sekitar tengah malam selama satu jam, lalu lanjut tidur lagi.

Penelitian di komunitas pedesaan di Madagaskar yang hidup tanpa listrik juga menemukan hal serupa. Mereka masih tidur dalam dua sesi, biasanya bangun sekitar tengah malam. Jadi, kalau kamu sering kebangun jam 2–3 pagi tanpa sebab jelas, mungkin tubuhmu cuma “mengingat” pola tidurnya yang lama.

Cahaya, Waktu, dan Persepsi Kita

Cahaya bukan cuma bikin kita melek, tapi juga mengatur persepsi waktu. Di musim dingin, ketika matahari muncul lebih lambat dan cahayanya lebih redup, banyak orang ngerasa waktu berjalan lebih lambat, suasana hati lebih muram efek yang dikenal sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD).

Penelitian di Swedia dan Inggris bahkan menunjukkan bahwa suasana dan persepsi waktu manusia berubah tergantung tingkat pencahayaan. Dalam cahaya redup, dua menit bisa terasa kayak lima. Dan menariknya, orang dengan mood rendah cenderung merasa waktu berjalan lebih lambat. Jadi, bangun jam 3 pagi dan ngerasa waktu nggak jalan-jalan? Itu bukan cuma perasaanmu. Secara ilmiah, waktu memang terasa melar.

Baca juga: Fakta Unik Penguin Chinstrap, Tidur 600 Kali Per Jam di Tengah Ancaman Predator

“Bangun Tengah Malam” Bukan Tanda Gagal Tidur

Jadi, apa artinya semua ini buat kita yang hidup di era modern dan sering kebangun tengah malam?

Para ahli tidur bilang, itu nggak selalu tanda insomnia. Otak manusia memang dirancang untuk punya beberapa fase bangun singkat di malam hari, terutama saat transisi antar fase tidur. Yang bikin kita stres adalah ketika kita mulai ngitung waktu “Aduh, tinggal tiga jam lagi alarm bunyi”, lalu makin cemas, makin susah tidur.

Pendekatan yang disarankan mirip dengan terapi perilaku kognitif untuk insomnia: kalau udah 20 menit belum bisa tidur lagi, bangun sebentar. Baca buku, minum air hangat, tapi jangan nyalain lampu terang. Kunci utamanya: jangan panik, jangan ngitung waktu, dan jangan ngelawan tubuhmu sendiri.

Karena mungkin, kamu cuma lagi mengalami sisa naluri purba manusia atau fase kecil dari “tidur pertama dan tidur kedua” yang dulu pernah jadi hal paling alami di dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Sciencealert.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU