Kamis, 19 JUNI 2025 • 19:01 WIB

Jejak Kaki Tertua di Amerika Dipastikan Berusia 23.000 Tahun, Ciptakan Misteri Baru

Author

Jejak Kaki tertua di Amerika ditemukan. (IFL Science)

INDOZONE.ID - Sebuah analisis terbaru mengonfirmasi bahwa jejak kaki manusia tertua di Amerika Utara memang berusia sekitar 23.000 tahun. Penemuan di situs White Sands, New Mexico ini secara resmi menulis ulang sejarah kedatangan manusia di benua tersebut.

Namun penegasan ini justru melahirkan sebuah misteri baru yang lebih dalam tentang siapa sebenarnya para penjelajah kuno ini dan mengapa mereka seolah lenyap tanpa jejak.

Sebelumnya pada tahun 2021, para ilmuwan telah menentukan usia jejak kaki tersebut dengan metode penanggalan pada biji-bijian di lapisan sedimen yang sama. Hasilnya menunjukkan usia 21.000 hingga 23.000 tahun. Akan tetapi temuan itu menuai kritik. 

Baca juga: Patung Prajurit Terracotta Rusak Oleh Turis, Padahal Penemuan Arkeologi Terpenting di China

Sebagian peneliti berargumen bahwa tanaman tersebut mungkin menyerap 'air tua' dari dalam tanah sehingga hasil penanggalan diragukan. Keraguan ini membuat teori lama bahwa manusia baru tiba di Amerika sekitar 14.000 tahun lalu bersama "budaya Clovis" yang tetap bertahan.

Untuk menjawab keraguan itu, tim peneliti kembali ke situs White Sands. Mereka berhasil melacak lapisan sedimen merah tempat jejak kaki ditemukan hingga ke sebuah dasar danau kering di dekatnya. Dengan metode penanggalan radiokarbon langsung pada lapisan sedimen ini, mereka mendapatkan hasil yang konsisten dan meyakinkan. 

Profesor Vance Holliday dari University of Arizona menyatakan ada total 55 sampel dari tiga laboratorium berbeda kini sepakat dengan usia jejak kaki tersebut.

Dengan usia yang telah terkonfirmasi, kini muncul pertanyaan besar. Jika manusia sudah ada di sana 23.000 tahun lalu, di manakah peninggalan artefak mereka seperti alat-alat batu? Terdapat jeda waktu sekitar 10.000 tahun antara jejak kaki ini dengan kemunculan budaya Clovis.

Baca juga: Penemuan Kaki Pendaki Andrew di Gunung Everest Setelah 100 Tahun

"Ini seperti kisah Cinderella versi Paleo. Kita hanya tahu 'ukuran sepatu' mereka dari jejak kakinya, tapi kita tidak tahu apa-apa lagi tentang mereka," ujar Holliday kepada IFLScience.

Holliday berspekulasi bahwa penjelasan paling sederhana adalah tidak ada budaya berkelanjutan pada masa itu. Ia menduga bahwa populasi manusia yang datang adalah gelombang-gelombang kecil yang berhasil menyeberang ke Amerika Utara. 

Namun kelompok-kelompok kecil ini kemudian punah dan gagal berkembang. Baru pada era budaya Clovis manusia akhirnya berhasil beradaptasi secara luas dan membangun populasi yang solid di seluruh benua.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: IFL SCIENCE

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU