Ilustrasi hutan di Indonesia. (Dok. Kementerian Pariwisata.)
INDOZONE.ID - Ketua PP Muhammadiyah Kiai Saad Ibrahim menegaskan bahwa Islam mewajibkan umatnya menjaga alam.
Bahkan bukan sebagai anjuran sampingan, tapi bagian inti dari keimanan.
Merusak lingkungan, katanya, dalam pandangan Alquran, punya konsekuensi serius.
Kiai Saad menjelaskan dua konsep yang kontras dalam Alquran.
Pertama, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yaitu negeri yang baik, dengan Tuhan yang pengampun.
Kedua, kebalikannya. Negeri yang rusak dan penuh azab akibat ulah manusianya sendiri.
"Yang paling ideal adalah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Jangan sampai menjadi baldatun khabitsatun wa rabbun mu'adzibun, negeri yang rusak dan mendapatkan azab," ujar Saad dikutip dari laman Muhammadiyah, Selasa (10/3/2026).
Baca juga: 7 Nama Iblis-Setan dalam Teologi Islam: Ternyata Punya Tugas Masing-masing
Kiai Saad menjadikannya kerangka untuk menjelaskan bahwa kondisi lingkungan suatu tempat mencerminkan kualitas moral kolektif masyarakatnya.
Salah satu poin konkret yang disampaikan Kiai Saad adalah keseimbangan antara menebang dan menanam pohon.
"Upayakan keseimbangan antara menebang dengan menanam. Bahkan jauh lebih banyak menanam," tegasnya.
Kiai Saad mengutip hadis Nabi Muhammad, yakni jika seseorang tahu kiamat akan terjadi besok, ia tetap dianjurkan menanam bibit yang ada di tangannya.
"Andai kata seseorang tahu besok kiamat, di tangannya ada bibit tanaman, maka tanamlah," kata Kiai Saad menirukan sabda Nabi.
Pesannya bukan soal eskatologi tapi soal orientasi jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Muhammadiyah