Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 11:01 WIB

Tradisi Nyekar Jelang Ramadan: Sejarah, Hukum dan Makna Spiritualnya

Tradisi Nyekar Jelang Ramadan: Sejarah, Hukum dan Makna SpiritualnyaIlustrasi Ziarah Kubur Jelang Ramadhan. (Antara Foto/Saiful Bahri)

INDOZONE.ID - Tradisi ziarah kubur atau nyekar menjelang puasa sudah menjadi identitas budaya Muslim di Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Setiap daerah punya sebutan uniknya sendiri, mulai dari nyadran, kosar, hingga munggahan. 

Meski namanya beragam, tujuannya tetap selaras, yaitu menghormati para pendahulu dan mempersiapkan diri secara spiritual untuk menyambut bulan Ramadan yang penuh berkah.

Menariknya, tradisi nyekar sebelum puasa ini telah mengalami akulturasi budaya yang harmonis antara ajaran Islam dan tradisi lokal. 

Melalui pendekatan yang humanis, Wali Songo berhasil menyisipkan nilai-nilai tauhid ke dalam praktik ziarah ini, mengubahnya menjadi media dakwah yang santun tanpa menghapus jati diri budaya setempat. 

Baca juga: Panduan Ziarah Makam Wali Menurut Islam

Strategi ini terbukti ampuh dalam melestarikan warisan nenek moyang sekaligus memperkuat akidah. 

Lantas, apa sejarah hingga makna di balik tradisi ziarah kubur menjelang puasa? Simak ulasannya di bawah ini!

Sejarah dan Perkembangan Tradisi Ziarah Kubur di Indonesia

Melansir laman NU, catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sudah lama mengenal ritual di area pemakaman. Dalam perjalanan syiar Islam, praktik ini awalnya dibatasi oleh Rasulullah SAW sebagai langkah preventif terhadap syirik. 

Namun, perubahan terjadi saat pondasi Islam sudah mantap; ziarah diubah statusnya menjadi anjuran spiritual yang berfungsi sebagai pengingat akan kefanaan dunia.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:

قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

"Sesungguhnya aku dulu telah melarang kalian berziarah kubur. Maka (sekarang) ziarahlah karena akan bisa mengingatkan kepada akhirat."

Indonesia memiliki cara unik dalam merawat tradisi ziarah setelah bersentuhan dengan ajaran Islam. Wali Songo berhasil memadukan adat lama dengan napas islami, melahirkan ritual seperti Nyadran yang jamak dilakukan pada bulan Rajab atau Syaban. 

Kini, tradisi tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan batin menjelang Ramadan. Sebuah momen di mana membersihkan makam dan menabur bunga menjadi simbol dari ketulusan doa bagi para leluhur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: NU Online

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tradisi Nyekar Jelang Ramadan: Sejarah, Hukum dan Makna Spiritualnya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!