INDOZONE.ID - Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia semakin sering menghadapi cuaca ekstrem seperti hujan lebat berkepanjangan, angin kencang, hingga gelombang laut tinggi.
Salah satu faktor utama yang memicu kondisi tersebut adalah aktivitas siklon tropis dan bibit siklon tropis yang berkembang di sekitar wilayah perairan Indonesia.
Meskipun Indonesia jarang dilintasi langsung oleh siklon tropis, posisi geografis yang dikelilingi lautan membuat dampak tidak langsungnya tetap signifikan.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami apa itu siklon tropis, bagaimana proses terbentuknya, perbedaannya dengan bibit siklon, serta wilayah Indonesia yang berpotensi terdampak. Berikut penjelasannya.
Baca juga: BMKG Peringkatkan November-Desember Rawan Pembentukan Siklon Tropis di Sejumlah Wilayah Indonesia
BMKG deteksi bibit siklon tropis. (ANTARA/Iskandar Zulkarmaen)
Siklon tropis adalah sistem badai besar yang terbentuk di atas perairan laut hangat di wilayah tropis dan subtropis. Fenomena ini ditandai dengan adanya pusat tekanan udara rendah, angin yang berputar dengan kecepatan tinggi, serta awan konvektif tebal yang menghasilkan hujan lebat.
Secara global, siklon tropis dikenal dengan berbagai istilah, seperti hurricane, typhoon, atau cyclone, tergantung wilayah kemunculannya.
Namun secara ilmiah, ketiganya memiliki karakteristik yang sama. Di kawasan Asia Pasifik dan Australia, istilah siklon tropis lebih umum digunakan.
Bibit siklon tropis merupakan tahap awal dari terbentuknya siklon tropis. Pada fase ini, sistem cuaca masih berupa gangguan atmosfer dengan tekanan udara rendah, namun belum cukup kuat untuk dikategorikan sebagai siklon tropis.
Pemahaman mengenai perbedaan siklon tropis dan bibit siklon menjadi penting karena meskipun belum berkembang sempurna, bibit siklon tetap dapat memicu hujan lebat dan gelombang tinggi, terutama di wilayah perairan.
Siklon tropis tidak terbentuk secara instan. Ada sejumlah kondisi yang harus terpenuhi, seperti suhu permukaan laut yang hangat (di atas 26-27 derajat Celsius), atmosfer yang lembap, serta adanya gangguan awal berupa tekanan rendah.
Selain itu, pengaruh gaya Coriolis membuat sistem cuaca mulai berputar dan terorganisir. Jika kondisi ini terus berlanjut, bibit siklon dapat berkembang menjadi badai tropis hingga akhirnya menjadi siklon tropis yang kuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Penulis