Ilustrasi Red Car Theory. (Freepik)
INDOZONE.ID - Pernahkah kamu merasa seolah semesta sedang mengirimkan sinyal tertentu?
Sesuatu yang baru saja terlintas di pikiran tiba-tiba menampakkan diri di setiap sudut jalan, entah itu keberadaan mobil merah yang mendadak mencolok, hingga istilah asing yang mendadak akrab di telinga, seolah-olah topik tersebut sedang mengikuti langkah kamu.
Fenomena ini disebut Red Car Theory, sebuah konsep dalam psikologi kognitif yang menggambarkan cara pikiran manusia memfilter dan memusatkan perhatian di tengah banjir stimulus sehari-hari.
Red Car Theory menggambarkan cara otak menjadi lebih peka terhadap hal tertentu setelah fokus diarahkan ke sana.
Baca juga: Eksperimen Monster yang Mengguncang Dunia Psikologi: Cerita Kelam di Balik "The Monster Study"
Konsep ini bukan istilah medis, melainkan gambaran populer dari selective attention dan frequency illusion. Saat sesuatu dianggap relevan, otak akan lebih cepat menangkap kemunculan hal serupa.
Setiap hari, manusia dibombardir oleh ribuan rangsangan visual dan suara. Untuk menghindari kelelahan mental, otak memilahnya melalui mekanisme perhatian.
Mengacu pada American Psychological Association, perhatian selektif memungkinkan seseorang memusatkan fokus pada informasi yang dianggap penting dan mengesampingkan sisanya.
Dalam konteks ini, Red Car Theory bekerja bukan karena lingkungan berubah, melainkan karena persepsi kita menjadi lebih tajam.
Hal ini biasanya terjadi saat perhatian kita terkunci pada satu objek spesifik. Sebagai contoh, ketika pikiran kita sedang tertuju pada becak, otak secara otomatis akan lebih sensitif untuk mendeteksi keberadaan becak lain di jalan raya yang sebelumnya mungkin luput dari pandangan.
Meskipun Red Car Theory dapat melatih otak untuk lebih fokus dalam belajar, terdapat sisi lain yang perlu diwaspadai. Fenomena ini bisa menjebak kita dalam bias kognitif, di mana sesuatu terasa sangat penting hanya karena kita sedang sering memikirkannya.
Studi di bidang psikologi menunjukkan bahwa ilusi frekuensi ini sering kali mendistorsi cara kita memandang realitas dan mengevaluasi bahaya di sekitar kita.
Kesadaran diri memegang peranan penting. Memahami bahwa persepsi manusia bekerja secara selektif dapat membantu tetap berpikir objektif.
Dengan mengendalikan paparan informasi yang berulang dan membuka ruang bagi beragam sudut pandang, potensi bias dapat ditekan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Psychological Association