Ilustrasi Orang Meninggal. (Healthline)
INDOZONE.ID - Pernah dengar istilah Lazarus Sign? Kedengarannya seperti cerita horor atau tentang orang yang “hidup kembali” setelah mati, ya. Padahal sebenarnya, ini adalah fenomena medis yang nyata. Biasanya terjadi pada pasien dengan kondisi serius, di mana otak mereka sudah berhenti bekerja sepenuhnya.
Meski terdengar menakutkan, memahami Lazarus Sign justru bisa membuat kita lebih paham tentang batas antara hidup dan mati, sekaligus bagaimana refleks tubuh manusia masih bisa muncul meski otak sudah berhenti berfungsi.
Lazarus Sign, atau yang juga disebut Lazarus reflex, adalah gerakan refleks otomatis yang kadang sangat mengejutkan. Bayangkan, pasien yang sudah dinyatakan “mati otak” tiba-tiba menggerakkan lengan, lalu lengan itu terangkat dan bersilang di dada, seolah-olah “bangkit” sebentar. Namun, tenang, gerakan ini bukan tanda otaknya kembali aktif. Semua itu sebenarnya berasal dari sumsum tulang belakang, bukan otak atau batang otak.
Dalam dunia medis, bahkan ketika pasien sudah memenuhi semua kriteria brain death, refleks dari sumsum tulang belakang seperti Lazarus Sign masih bisa muncul. Karena gerakannya dramatis, tangan terangkat dan bersilang di dada, banyak keluarga atau staf rumah sakit bisa kaget, bahkan sempat berpikir pasien “hidup lagi.” Makanya, penting memahami secara ilmiah bahwa gerakan ini hanya refleks, bukan pertanda pasien sadar atau hidup kembali.
Baca juga: Fenomena Mati Suri dan Kesaksian Orang yang Pernah Mengalaminya, Bikin Merinding
Menurut riset terbaru, Lazarus Sign muncul karena refleks spinal, artinya saraf dari sumsum tulang belakang merespons rangsangan, bisa karena kekurangan oksigen (hipoksia), tekanan, nyeri, atau saat ventilator dilepas. Otak dan batang otak memang sudah “mati”, tetapi jalur refleks di sumsum tulang belakang masih bisa bekerja.
Penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa neuron-neuron motorik di area servikal sumsum tulang belakang, ketika terstimulasi, dapat memicu gerakan kompleks seperti lengan terangkat dan gerakan silang di dada. Menariknya, ada kasus langka di mana pasien yang mengalami Lazarus Sign bisa bertahan puluhan hari setelah dinyatakan brain death. Contohnya, ada dua pasien yang tetap hidup lebih dari 100 hari setelah diagnosis, padahal biasanya cardiac arrest terjadi dalam satu minggu.
Intinya, meskipun secara medis otak sudah tidak aktif sama sekali, sumsum tulang belakang masih bisa “hidup” dalam bentuk refleks. Inilah yang membuat gerakan seperti Lazarus Sign terlihat mengejutkan, meski bukan tanda kesadaran.
Lazarus Sign sering menimbulkan salah paham. Gerakan tangan yang tiba-tiba terangkat dan bersilang di dada terlihat dramatis, sampai banyak orang, terutama keluarga pasien langsung berpikir, “Kok bisa bangkit lagi padahal dokter bilang sudah meninggal?”
Sebelumnya, istilah “mati” dianggap identik dengan kondisi tanpa gerak sama sekali. Namun kemampuan refleks dari sumsum tulang belakang ini mematahkan anggapan tersebut.
Karena fenomena ini langka dan jarang dibahas publik, keluarga bahkan tenaga medis yang kurang familiar bisa kaget, trauma, atau menolak menerima kenyataan. Makanya, riset medis menekankan pentingnya komunikasi dan edukasi. Dokter dan perawat sebaiknya memberi tahu keluarga sejak awal bahwa gerakan ini hanyalah refleks spinal, bukan tanda pasien kembali hidup. Dengan penjelasan yang tepat, kebingungan dan kecemasan dapat diminimalkan.
Banyak orang sering bingung membedakan dua istilah yang mirip, tetapi sangat berbeda: Lazarus Syndrome dan Lazarus Sign.
Perlu digarisbawahi, pada Lazarus Sign tidak ada pemulihan fungsi otak, kesadaran, atau kehidupan. Gerakan yang terlihat spontan itu murni refleks dan tidak berarti pasien “hidup kembali.” Secara medis, status pasien tetap dinyatakan “mati otak”.
Baca juga: Bukan Horor, Ini Alasan Mayat Bisa Kedut dan Tubuh Berubah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: PubMed, Sciencedirect.com