The Ballad of Narayam, film yang mengangkat budaya Ubasute.
INDOZONE - Ubasute secara harfiah memiliki makna “meninggalkan seorang wanita tua”, yaitu salah satu legenda kelam di Jepang, yang menggambarkan masa-masa kelaparan dan kesulitan ekstrem.
Legenda ini menyebutkan, bahwa pada masa paceklik, keluarga-keluarga di Jepang terpaksa meninggalkan orang tua mereka di hutan atau bahkan puncak gunung.
The Ballad of Narayam, film yang mengangkat budaya Ubasute.
Apa tujuannya? Ternyata, tindakan tidak manusiawi itu untuk mengurangi beban ekonomi mereka.
Meski keabsahan sejarah dan praktik ini diragukan, tradisi Ubasute menarik perhatian. Bahkan, tradisi ini dipandang sebagai simbol pengorbanan dalam situasi krisis.
Tradisi Ubasute diduga berasal dari masa lalu Jepang yang penuh dengan bencana alam, seperti letusan Gunung Asama pada 1783 yang menandai dimulainya masa kelaparan.
Kejadian itu menyebabkan produksi pertanian merosot. Dalam situasi ini, banyak keluarga yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah krisis.
Hal tersebut melatarbelakangi bagaimana sebuah keluarga dengan terpaksa mengorbankan salah satu anggota mereka. Nah, orang yang lemah, yaitu lansia, kerap menjadi pilihan untuk dikorbankan.
Baca Juga: Peristiwa 3 Oktober 1945: Perang untuk Mengusir Jepang yang Tersisa dari Kota Pekalongan
Mereka dibawa ke tempat jauh terpencil, seperti di puncak gunung atau hutan belantara, lalu ditinggalkan dan dibiarkan mati.
Hal ini menyoroti penderitaan dalam kondisi kelaparan dan kesulitan ekonomi yang tidak dapat dihindari pada masa itu.
Meski tidak ada bukti konkret bahwa Ubasute pernah menjadi praktik yang meluas, legenda ini telah menjadi bagian dari budaya rakyat Jepang.
Bahkan, tradisi ini dikaitkan dengan Hutan Aokigahara yang dikenal sebagai “Hutan Bunuh Diri” yang terletak di kaki Gunung Fuji.
Beberapa pendapat menyebutkan, bahwa hutan ini mungkin pernah menjadi tempat praktik Ubasute terjadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Telegrafi