Kilas Balik Kasus Andrei Chikatilo: Pembunuh Berantai Terkeji di Uni Soviet yang Makan Organ Intim Korbannya
INDOZONE.ID - Pembunuhan berantai terjadi di Uni Soviet puluhan tahun lalu. Lebih dari 50 orang menjadi korban dari sang pembunuh berantai, yaitu Andrei Chikatilo.
Dengan kelainan dan trauma masa kecil, Andrei menjelma jadi sosok jahat yang mampu menghabiskan puluhan nyawa.
Nah, INDOZONE akan menceritakan kisah kelam Andrei Chikatilo kepada kamu. Bagaimana pria ini berkembang menjadi pembunuh berantai yang diklaim paling keji di Uni Soviet.
Baca Juga: Kilas Balik Kisah Joseph Metheny: Pembunuh Berantai Gemoy yang Jadikan Daging Korbannya Burger
Masa kecil Andrei di Ukraina penuh penderitaan, ditambah pengalaman seksual memalukan di masa remaja, menjadi asal-usul perilaku menyimpang yang membawanya di dalam rangkaian kejahatan brutal.
Kehidupan Masa Kecil
Andrei Romanovich Chikatilo adalah nama lengkap sang pembunuh berantai ini. Ia lahir pada 16 Oktober 1936, di Yablochnoye, sebuah desa di jantung pedesaan Ukraina di Uni Soviet.
Masa kecilnya dipenuhi dengan kesulitan akibat kelaparan besar yang melanda Ukraina pada 1930-an karena kebijakan kolektivitas pertanian Josef Stalin.
Dampak kelaparan meluas di Uni Soviet. Salah satu yang terdampak adalah keluarga Andrei.
Kondisi memburuk ketika Perang Dunia II dimulai, membawa serangan bom besar-besaran ke Ukraina.
Bahkan, ayah Andrei ditangkap dan menjadi tawanan perang oleh Jerman. Akan tetapi, sang ayah dicap pengecut ketika kembali sehingga ejakan pun jadi makanan sehari-hari keluarga Andrei.
Masalah sosial bukan satu-satunya permasalah dalam kehidupan Andrei kecil. Perlu diketahui, Andrei pun juga menderita hidrosefalus, yang menyebabkan gangguan saluran kemih dan masalah seksual
Penyakit itu membuatnya mengompol hingga masa remaja. Tak hanya itu, ia juga tidak mampu mempertahankan ereksi meski bisa ejakulasi.
Masalah medis itu pun membuat kehidupan Andrei makin sulit. Ejakan pun didapatkan Andrei saat pengalaman seksual pertamanya berakhir dengan memukul seorang gadis dan mengalami ejakulasi spontan.
Setelahnya, ia gagal masuk Universitas Negeri Moskow. Lalu, Andrei menjalani dinas militer dan bekerja sebagai teknisi telepon pada 1960.
Ia menjalani Dinas Nasional dan pindah ke Rodionovo-Nesvetayevsky bersama adik perempuannya.
Ia kemudian bertemu dengan Fayina, gadis lokal yang menjadi pujaan hatinya. Dia menikahi Fayina pada 1963.
Pernikahan mereka dianugerahi dua anak meski Andrei punya masalah seksual. Pada 1971, Andrei beralih profesi menjadi guru sekolah.
Akan tetapi, ia menghadapi tuduhan pelecehan terhadap anak-anak. Ujungnya, ia berpindah-pindah sekolah sebelum menetap di sekolah pertambangan, di Shakhty, dekat Rostov.
Kejahatan Dimulai
Kejahatan Andrei dimulai pada awal 1980-an setelah dipecat dari pekerjaannya sebagai guru karena tuduhan pelecehan seksual.
Ia bekerja sebagai juru tulis di sebuah pabrik bahan mentah di Rostov. Pekerjaan ini membuat Andrei mendapatkan akses ke korban-korbannya dalam sembilan tahun ke depan.
Korban pertama Andrei, Lena Zakotnova (9), dibunuh secara tragis. Nahasnya, kejahatan Andrei justru dilimpahkan ke pria lain, Alexsandr Kravchenko (25).
Kravchenko dijadikan tersangka atas kejahatan itu. Bahkan, Kravchenko dihukum mati pada 1984 setelah interogasi brutal yang menghasilkan pengakuan palsu.
Larisa Tkachenko, 17 tahun, menjadi korban berikutnya. Pada 3 September 1981, Andrei mencekik, menusuk, lalu menyumpal mulutnya dengan tanah dan daun untuk mencegahnya menangis.
Andrei mulai mengembangkan pola serangannya. Ia berteman dengan korban-korbannya di stasiun kereta dan halte bus, sebelum mengajak ke daerah hutan di dekatnya.
Di sana, ia akan menyerang, mencoba memperkosa, dan menggunakan pisau untuk memutilasi para korbannya.
Dalam sejumlah kasus, ia memakan organ seksual dan membuang bagian tubuh lain, seperti ujung hidung atau lidah mereka.
Dalam kasus-kasus awal, pola umum adalah menimbulkan kerusakan pada area mata, menyayat rongga mata, dan membuang bola mata dalam banyak kasus.
Tindakan itu didasari kepercayaan, bahwa mata dapat menyimpan bayangan wajah pembunuh mereka.
Polisi Bergerak
Ketika kasus pembunuhan meningkat, Mayor Mikhail Fetisov dari Moskow memimpin penyelidikan pada 1983. Fetisov menunjuk Victor Burakov sebagai kepala tim investigasi.
Sebetulnya, polisi sudah mencurigai adanya pembunuhan berantai. Akan tetapi kurangnya teknologi forensik modern dan kebijakan pengakuan palsu di Uni Soviet, memperlambat kemajuan penyelidikan.
Saat 15 korban lainnya ditambahkan selama tahun 1984, upaya polisi meningkat drastis.
Polisi melancarkan operasi pengawasan besar-besaran yang meliputi sebagian besar pusat transportasi lokal.
Baca Juga: Fenomena Anak-anak di Bawah Umur Direkrut Jadi Pembunuh Bayaran oleh Anggota Geng di Swedia
Upaya polisi pun membuahkan hasil. Mereka menangkap Andrei karena berperilaku mencurigakan di stasiun bus saat itu.
Namun, ia mampu terhindar dari kecurigaan atas tuduhan pembunuhan. Sebab, golongan darahnya tidak sesuai dengan profil tersangka.
Perlu diketahui, Andrei mengidap "non-sekretor" yang membuat golongan darahnya tidak terdeteksi dalam cairan tubuh selain darah.
Setelah dibebaskan, ia melanjutkan pembunuhannya selama bertahun-tahun. Total korban pembunuhan Andrei lebih dari 50 orang.
Penangkapan, Pengadilan, dan Hukuman Mati
Setelah lolos dalam beberapa penangkapan, nasib apes pun menimpa Andrei. Pada 6 November 1990, setelah membunuh korban terakhirnya, Sveta Korostik, perilaku mencurigakan Andrei dicatat oleh polisi yang berpatroli di kantor polisi di dekatnya.
Namanya dikaitkan dengan penangkapan sebelumnya pada 1984 sehingga mulai ditempatkan di bawah pengawasan.
Akhirnya, Andrei ditangkap pada 20 November 1990. Akan tetapi, ia menolak mengakui tindakan kejinya.
Namun, polisi patut berterima kasih kepada Psikiater Alexandr Bukhanovsky, yang menyusun profil pelaku. Bukhanovsky mulai mengungkapkan detail kejahatannya, termasuk beberapa lokasi mayat yang belum ditemukan.
Andrei pun mengaku telah merenggut nyawa 56 korban meski hanya 53 di antaranya yang dapat diverifikasi.
Angka ini jauh melebihi 36 kasus yang awalnya dikaitkan polisi dengan pembunuh berantai mereka.
Pada 14 April 1992, Andrei diadili di sebuah pengadilan yang berisi keluarga-keluarga korban.
Selama persidangan, ia menunjukkan perilaku aneh, termasuk bernyanyi, berbicara tidak masuk akal, hingga melepas celananya.
Namun, hakim memutuskan ia bersalah atas 52 dari 53 pembunuhan dan menjatuhakan hukuman mati.
Setelah proses pengadilan selesai, Andrei dieksekusi dengan tembakan di bagian belakang kepala pada 14 Februari 1994 di Rostov-on-Don, Rusia. Itu menjadi akhir dari Andrei, sang pembunuh berantai.
Penulis: Eliani Kusnedi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Biography.com