Minggu, 19 JANUARI 2025 • 14:10 WIB

Kilas Balik Kisah Mbah Jiwo, Nenek yang Mutilasi Cucunya Jadi 79 Bagian: Hendak Dimasak Gulai!

Author

Ilustrasi pembunuhan.

INDOZONE.ID - Seorang gadis berusia lima tahun ditemukan meninggal dan jasadnya dipotong menjadi 79 bagian oleh neneknya sendiri, Mbah Jiwo.

Faridathul (5) atau dikenal ramah dengan Farida tumbuh besar di Desa Kandangjati Kulon, Probolinggo, Jawa Timur (Jatim). 

Baca Juga: Asal Usul Kota Depok, Ternyata Merupakan Nama Singkatan!

Diduga, Mbah Jiwo mendapatkan bisikan gaib, bahwa ia harus memakan daging anak kecil sehingga tega membunuh, memutilasi, dan menguliti Farida tanpa perasaan bersalah.

Kejadian tragis ini terjadi pada 1992. Kejadian ini pun perlahan-lahan menjadi urban legend terkenal di kawasan Probolinggo yang sering digunakan orang tua untuk menasehati anak-anak bandel.

“Kalo kamu tidak mau pulang sebelum Maghrib, Mbah Jiwo bakal nyulik kalian,” ujar mereka.

Latar Belakang Farida dan Keluarganya

Farida besar di Desa Kandangjati bersama kedua orang tuanya, Haryanto dan Eni Diningsih.

Farida mempunyai kebiasaan untuk mengikuti pengajian di masjid dekat rumahnya jelang Maghrib. Kemudian, ia akan kembali pulang sekira pukul 08.00 WIB.

Farida yang Tak Kunjung Pulang

Suatu malam, teriakan milik orang tua Farida membanjiri seluruh sisi desa. Ternyata, anak gadisnya belum pulang usai pengajian tersebut.

Tidak hanya panik, tetapi kedua orang tuanya menangis. Mereka meminta kepala desa serta warga setempat untuk membantu mencarikan Farida.

Mereka sudah mencari ke pelosok kampung dan rumah warga setempat. Akan tetapi, usaha mereka tidak membuahkan hasil. Pencarian Farida berlanjut selama enam jam.

Potongan Tangan di Rumah Mbah Jiwo

Sang kepala desa masih berusaha untuk mencari Farida di beberapa rumah warga. Secara tidak sengaja, sang kepala desa menyenggol sebuah tambah di atas baskom.

Kaget bukan main, ia tidak sengaja melihat potongan tangan dalam baskom tersebut. Tidak jauh dari baskom tersebut, ia melihat sebuah sendal anak kecil di dekat tungku.

Potongan tangan tersebut berada di belakang rumah Mbah Sujiwo atau para warga desa sering memanggilnya Mbah Jiwo. Rumah Mbah Jiwo terletak sekitar 15 meter dari rumahnya Farida.

Ilustrasi jenazah (FREEPIK)

Sang kepala desa berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik. Ia pun menghampiri nenek tersebut dan bertanya mengenai jasad yang ia temukan.

Mirisnya, Mbah Jiwo menjawab, “Memang saya yang menyembelih Farida.”

Pelaksanaan Panggilan Gaib Mbah Jiwo

Mbah Jiwo dikenal sebagai sosok nenek biasa di desa tersebut. Akan tetapi, suatu hari, ia mendapatkan sebuah panggilan gaib yang memintanya untuk memakan daging anak kecil.

Awalnya, Mbah Jiwo menghiraukan suara tersebut. Akan tetapi, seperti yang diketahui, Mbah Jiwo akhirnya menuruti bisikan tersebut.

Sementara itu, usai salat Isya, Farida, yang merupakan cucu dari Mbah Jiwo, datang untuk bertemu dengan sang nenek.

Farida sering bermain di rumah Mbah Jiwo. Mbah Jiwo pun sering memberikan kerak nasi goreng seperti biasa.

Saat Farida sedang mampir, panggilan gaib tersebut kembali muncul di telinga Mbah Jiwo. Entah apa yang dipikirnya, Mbah Jiwo yakin harus memakan daging anak kecil kali ini.

Farida diminta oleh Mbah Jiwo untuk tidur di atas lantai yang terbuat dari tanah tersebut. Farida, yang berumur lima tahun, dengan polos menuruti perintah neneknya.

Tiba-tiba, Mbah Jiwo menusuk leher Farida. Dari tusukan yang dalam tersebut, terdapat banyak darah keluar sehingga mulai membanjiri tubuh Farida.

Kesadaran sang anak pun mulai menurun, dengan suara yang lemas Farida bertanya, “Mbah, kenapa saya dibunuh?”

Baca Juga: Pohon Bidara Dapat Menangkal Sihir Menurut Islam, Apa Benar?

Namun, hal itu hanya membuat Mbah Jiwo makin gila. Tubuh Farida, yang sudah tidak bernyawa, dibawa keliling rumah Mbah Jiwo sebelum jasadnya dipotong menjadi 79 bagian.

Tidak hanya dipotong, ia juga menguliti tubuh Farida hingga pukul 10 malam. Setelahnya, potongan daging tersebut dicuci.

Mbah Jiwo pun mulai meracik bumbu gulai untuk dimasak. Tanpa rasa bersalah, Mbah Jiwo bergumam, “Pokoknya, saya bisa pesta dengan iringan lagu dangdut!”

Saat sedang meracik bumbu gulai, sang kepala desa tidak sengaja menyenggol baskom yang ditutupi tampah di luar rumahnya.

Kondisi Jiwa Mbah Jiwo dan Orang Tua Farida

Mbah Jiwo diduga mempunyai gangguan jiwa usai kematian kakaknya 20 tahun yang lalu. Selepas itu, tingkah laku Mbah Jiwo pun mulai aneh.

Pihak Kapolres Probolinggo pun membenarkan, bahwa Mbah Jiwo mempunyai gangguan jiwa.

Terkadang, ia akan mencegat orang-orang yang lewat depan rumahnya. Mbah Jiwo juga suka memukul ibu dan anak perempuannya yang suka lewat depan rumah.

Di sisi lain, orang tua Farida merasa terguncang atas kematian sang putri. Ayah Farida tidak terima bahwa Farida harus meninggal dengan cara tragis.

Orang tua Farida pun mengalami rasa traumatis begitu hebat. Setiap sedang makan, mereka akan teringat putrinya yang sudah terpotong-potong oleh Mbah Jiwo.

Dengan demikian, kisah Mbah Jiwo meninggalkan rasa trauma terhadap warga sekitar.

Kisah tersebut menjadi sebuah urban legend yang akan digunakan orang tua terhadap anak-anaknya apabila mereka tidak nurut atau nakal. 

Penulis: Gadis Kinamulan Esthiningtyas

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube RJL 5 – Fajar Aditya, YouTube Hirotada Radifan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU