Jumat, 21 JUNI 2024 • 06:40 WIB

Kisah Eugen Weidmann, Sang Napi Terakhir di Perancis yang Dihukum Pancung depan Publik

Author

Eugen Weidmann

INDOZONE.ID - Ini adalah kisah tentang Eugen Weidmann, seorang pria asal Frankfurt, Jerman kelahiran 5 Februari 1908. Dia berasal dari keluarga seorang pebisnis.

Pada masa Perang Dunia pertama, Eugen dititipkan ke rumah Kakek-Neneknya. Dari sinilah Eugen mulai menjadi seorang kriminal. Di awal karier kriminalnya, Eugen kerap melakukan pencurian. Sampai saat usianya berada di kisaran 20-an, Eugen mendapat ganjaran atas perbuatannya, dimana Ia dipenjara selama 5 tahun.

Pada saat dipenjara, Eugen bertemu dengan Roger Million dan Jean Blanc, 2 narapidana yang nantinya menjadi rekan Eugen dalam melancarkan aksi kriminalnya selepas bebas. Usai bebas, ketiga residivis itu mulai melakukan tindakan penculikan terhadap sejumlah turis untuk direbut hartanya. Ketiga residivis ini beroperasi di Paris, Perancis.

Baca Juga: Menyingkap Finlandia, Negara Paling Bahagia di Dunia yang Ternyata Punya Sisi Gelap

Pada awalnya, usaha mereka masih belum membuahkan hasil. Sampai di bulan Juli 1937, mereka berhasil mendapat korban pertamanya, yaitu seorang penari balet asal Boston, Massachusetts, AS bernama Jean de Koven.

Dengan "pesonanya", Eugen berhasil memancing Jean ke sebuah villa yang ternyata adalah sarangnya Eugen dan rekan kriminalnya. Setelah itu, Eugen menghabisi nyawa Jean dan mengambil semua harta yang Ia bawa.

Lanjut ke tanggal 1 September 1937, Eugen dan komplotannya kembali beraksi dengan menghabisi nyawa seorang sopir sewaan bernama Joseph Couffy. Selang 2 hari kemudian, seorang suster bernama Janine Keller menjadi korban berikutnya. Ia dibunuh di dalam sebuah Gua di pedalaman Hutan Fontaineblau.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Misteri Pesugihan di Gunung Kawi: Fakta atau Mitos?

Maju ke tanggal 16 Oktober 1937, Eugen dan komplotannya menargetkan seorang produser seni teater bernama Roger LeBlond. Dengan mengiming-imingi sang produser sejumlah uang, Mereka berhasil memancing Roger dan membunuhnya, tak lupa juga dengan menggasak semua hartanya.

Pada 22 November 1937, trio residivis bertemu dengan Fritz Frommer, salah satu mantan napi yang pernah satu lapas dengan mereka. Dengan modus mengajak Fritz untuk berbisnis, Eugen dkk sukses menghabisi nyawa dan mengambil hartanya Fritz. Selang 5 hari berikutnya, mereka berhasil memancing seorang agen real estate bernama Raymond Lesobre ke dalam sarang mereka. Tentu saja, itu adalah saat terakhir Raymond berada di dunia ini.

"Sepandai-pandainya Tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga". Ya, itulah ungkapan yang tepat bagi trio residivis ini. Usai menghabisi nyawanya Raymond, Eugen tak sengaja meninggalkan kartu namanya di kantor Raymond. Dengan begitu, Polisi dapat melacak keberadaan Eugen.

Baca Juga: Siapakah Sosok Wanita yang Jadi Model Lukisan Mona Lisa? Ini Dia Jawabannya

Usai menemukan kartu bisnis tersebut, Polisi bergegas mendatangi villa yang menjadi sarang trio residivis itu. Beruntung, Eugen berada di villa itu bersama dengan rekan-rekannya.

Kedatangan Polisi ke villa trio residivis disambut baik dengan Eugen. Mereka sempat menjamu para tamunya dengan baik. Di tengah perjamuan, Eugen tiba-tiba mencoba untuk menembak mati para Polisi. Beruntung, para Polisi ini bisa menghindar dan langsung meringkus Eugen dan rekan-rekannya. Karena berusaha memberontak, Polisi memukul kepalanya Eugen menggunakan palu hingga Ia pingsan.

Eugen saat ditangkap Polisi

Singkat cerita, proses persidangan pun digelar. Eugen mengakui semua tindak kriminalnya, termasuk bagaimana caranya Ia membunuh semua korbannya. Cara yang dilakukan Eugen adalah dengan menembak bagian belakang lehernya. Pada saat proses penangkapan, ada 4 orang yang ditangkap Polisi, Eugen, Roger, Jean dan Colette Tricot, wanita simpanannya Roger.

Atas perbuatan mereka, Eugen dan Roger mendapat vonis hukuman mati, Jean mendapat hukuman penjara selama 1 tahun 8 bulan dan Colette dibebaskan dari semua tuntutan karena tidak ada bukti keterlibatannya dengan aksi kriminal yang dilakukan trio residivis.

Di tanggal 17 Juni 1939, Eugen menjalani proses hukuman matinya dengan cara dipancung. Tak tanggung-tanggung, proses tersebut dilakukan di luar penjara dan disaksikan langsung oleh para warga sekitar.

Baca Juga: Kisah Biyung Tulung: Hantu Misterius yang Meneriakkan Minta Tolong

Proses hukuman pancung Eugen di depan publik

Mengetahui hal tersebut, Presiden Perancis saat itu, Albert Lebrun melarang proses hukuman pancung di depan publik. Perintah Presiden itu masih berlaku sampai sekarang, namun soal proses hukuman pancung di Perancis, baru resmi diberhentikan usai Hamida Djandoubi dipancung pada 10 September 1977. Tidak hanya Perancis, hukuman pancung di negara Barat juga resmi dihentikan pasca proses eksekusi matinya Hamida.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Murderpedia.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU