INDOZONE.ID - Dekade 1970-an bukan sekadar potongan waktu dalam sejarah kriminal—ia adalah lanskap gelap tempat para pembunuh berantai beroperasi nyaris tanpa bayang-bayang hukum.
Di tengah gejolak sosial, budaya jalanan yang permisif terhadap tumpangan, dan teknologi forensik yang masih tertatih, muncul pola kejahatan yang saat itu belum sepenuhnya dipahami: pembunuhan berulang dengan motif yang terfragmentasi dan pelaku yang sulit dilacak.
Aparat sering tertinggal selangkah, sementara publik hidup dalam ketakutan yang tak selalu memiliki wajah.
Sebagian pelaku akhirnya tertangkap—kadang setelah bertahun-tahun—namun sejumlah kasus tetap menyisakan lubang hitam dalam arsip penegakan hukum.
Baca juga: Sosok Mengerikan Richard Ramirez, Pembunuh Berantai Paling Sadis Tahun 80-an
Identitas yang tak terungkap dan motif yang tak sepenuhnya terpecahkan menjadikan dekade ini sebagai salah satu periode paling disorot dalam studi kriminal modern.
Berikut adalah sejumlah nama pembunuh berantai yang jejak kekerasannya paling menonjol dan membentuk narasi kelam era tersebut seerti yag dikutip dari crimeinvestigation.co.uk
1. Peter Sutcliffe – “Yorkshire Ripper”
Dalam rentang lima tahun, Inggris bagian utara diliputi teror yang sistematis. Peter Sutcliffe menargetkan perempuan pada malam hari, menyerang dengan palu dan pisau setelah mendekati korban menggunakan mobil. Ia bertanggung jawab atas 13 pembunuhan dan sejumlah percobaan pembunuhan lain.
Penyelidikan awal tercemar oleh asumsi bahwa korban adalah pekerja seks—sebuah bias yang kemudian menuai kritik keras karena dianggap memperlambat respons aparat. Penangkapan Sutcliffe terjadi bukan melalui terobosan investigatif besar, melainkan dari pemeriksaan kendaraan dengan pelat nomor palsu. Dari sana, pengakuan membuka rangkaian kejahatan yang selama ini tersebar tanpa pola jelas.
2. Kenneth Bianchi & Angelo Buono Jr. – “Hillside Stranglers”
Los Angeles sempat lumpuh oleh serangkaian penemuan mayat perempuan di perbukitan terpencil pada akhir 1970-an. Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan—telanjang, mengalami kekerasan seksual, dan dicekik.
Awalnya, pola korban disalahartikan sebagai pekerja seks. Namun fakta kemudian menunjukkan target yang lebih luas, termasuk perempuan dari lingkungan kelas menengah. Pelaku, dua sepupu, memanfaatkan penyamaran sebagai aparat untuk mendapatkan kepercayaan korban.
Mereka menculik, menyiksa, lalu membunuh di lokasi tertutup sebelum membuang tubuh ke area terbuka. Total korban mencapai 10 orang dalam waktu singkat.
3. David Berkowitz – “Son of Sam”
New York mengalami gelombang kepanikan publik ketika penembakan acak menargetkan pasangan muda di dalam mobil. David Berkowitz menggunakan revolver kaliber .44 dan menyerang tanpa peringatan, menciptakan kesan bahwa siapa pun bisa menjadi korban berikutnya.
Yang memperparah situasi adalah surat-surat misterius yang ia kirim ke media dan polisi, penuh teka-teki dan ancaman lanjutan. Julukan “Son of Sam” muncul dari sana. Penyelidikan akhirnya menemukan titik terang dari hal yang tampak sepele: tilang parkir di dekat lokasi kejadian. Dari situ, polisi menelusuri kendaraan yang mengarah pada Berkowitz. Ia terbukti membunuh enam orang dan melukai sebelas lainnya.
4. John Wayne Gacy – “Killer Clown”
Di permukaan, John Wayne Gacy adalah warga terhormat—kontraktor sukses dan figur sosial yang aktif, bahkan menghibur anak-anak sebagai badut. Namun di balik citra itu tersembunyi salah satu kasus paling mengerikan dalam sejarah kriminal Amerika.
Gacy menargetkan remaja laki-laki dan pria muda, memikat mereka dengan janji pekerjaan sebelum melakukan pelecehan, penyiksaan, dan pembunuhan. Banyak korban dikuburkan di bawah rumahnya sendiri.
Baca juga: Kisah Tsui Po-ko: Perampok dan Pembunuh Berantai dri Hong Kong yang Ternyata Polisi
Kasus ini terbongkar setelah hilangnya seorang remaja mengarah pada penyelidikan properti Gacy, yang kemudian mengungkap puluhan jasad tersembunyi.
5. Ted Bundy
Berbeda dari banyak pelaku lain, Ted Bundy memanfaatkan pesona dan kecerdasan sebagai senjata utama. Ia mendekati korban di ruang publik dengan berpura-pura membutuhkan bantuan—sering kali dengan akting sebagai pria terluka.
Setelah mendapatkan simpati, ia menculik dan membawa korban ke lokasi terpencil. Bundy mengaku melakukan 30 pembunuhan, meskipun angka sebenarnya diyakini lebih tinggi. Salah satu serangan paling brutal terjadi di asrama mahasiswi di Florida, yang memperlihatkan eskalasi keberaniannya.
Penangkapannya terjadi secara kebetulan setelah ia dihentikan karena kendaraan curian. Namun bukti forensik dan kesaksian kemudian mengunci keterlibatannya dalam serangkaian pembunuhan lintas negara bagian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Crimeinvestigation.co.uk