Kamis, 19 MARET 2026 • 16:19 WIB

Kisah Aminah, Penjual Gado-gado yang Jadi Pembunuh dengan Julukan Drakula Kebayoran Baru

Author

Sosok Aminah, pembunuh di era 1966 (X/@ceritaht)

INDOZONE.ID - Di balik wajah manis dan kulit cerahnya, nyonya Aminah menyimpan rahasia gelap yang mengejutkan Jakarta. Perempuan yang sehari-hari berjualan gado-gado dan cendol ini kemudian dijuluki “Dracula” oleh publik, karena tindakan sadis yang dilakukannya terhadap teman dekat sendiri. 

Keseharian yang tampak biasa, di balik kontrakan sederhana di Kebayoran Baru, ternyata menyembunyikan amarah, dendam, dan obsesi yang menakutkan.

Julukan “Dracula” bukan sekadar sensasi media. Aminah, yang tampak hangat dan ramah, ternyata mampu menumpahkan kekerasan dengan tenang dan terencana. Ia bukan hanya membunuh, tetapi juga memutilasi korban dan menyingkirkan jejaknya, seolah tindakan itu bagian dari ritual gelap. 

Sosoknya memaksa publik mempertanyakan: seberapa jauh kita mengenal orang-orang di sekitar kita, bahkan mereka yang tampak paling bersahabat sekalipun?

Baca juga: Kisah Robert Maudsley: Sosok Pembunuh yang Mengincar Pedofil, Bahkan di Penjara Sampai Dipindahkan ke Sel Isolasi

Awal Ketegangan di Jalan Ciomas

Selasa, 11 Oktober 1966, hujan deras mengguyur kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di rumah kontrakan sederhana di Jalan Ciomas 1, Ny Aminah, pedagang gado-gado dan cendol, tengah merajang sayuran untuk dagangannya. Hatinya yang panas karena pertengkaran kecil sebelumnya dengan tetangga dan teman dekatnya, Ny Siti Hasnah, tak mampu ditenangkan.

Dalam sekejap, kemarahan Aminah memuncak. Tanpa aba-aba, ia menjambak rambut Siti Hasnah dan menusukkan pisau yang masih basah sisa memotong sayuran. Korban meregang nyawa di lantai, mengenakan baju putih model shanghai dengan strip merah di leher dan sulaman bunga di dada. Darah menggenangi ruangan kontrakan.

Kronologi Awal Konflik

Pertengkaran itu berawal dari urusan uang. Siti Hasnah menagih Rp 3.000 dari Aminah, hasil penjualan perhiasan. Aminah menolak dengan alasan tidak punya uang, meski menerima fee dari penjualan jam tangan. 

“Bukannya sus tidak punya uang, tapi sus tidak niat bayar. Dasar tidak mau nolong teman,” kata Siti Hasnah, seperti dikutip Umbra Skull YouTube Channel.

Sosok Aminah, pembunuh di era 1966 (Youtube/Umbra Skull)

Setelah melayani pembeli gado-gado, Aminah kembali ke kontrakan dengan hati yang semakin panas. Pisau di tangan akhirnya digunakan untuk mengakhiri hidup Siti Hasnah. Setelah mayat korban disembunyikan di kolong tempat tidur, Aminah membersihkan lantai yang penuh darah.

Baca juga: Cold Case Tertua di Dunia: Detektif Modern Berhasil Bongkar Kasus Pembunuhan Berusia 430.000 Tahun

Tiba-tiba pintu diketuk. Aminah terkejut, namun tersadar saat melihat putri kecilnya, Neni, pulang sekolah bersama teman. Neni melihat noda merah di baju ibu, namun Aminah cepat-cepat menjelaskan itu tinta. Malam itu, Aminah, suaminya Ahmad, dan Neni tidur di ranjang, sementara mayat Siti Hasnah tetap tersembunyi di kolong.

Upaya Menutupi Jejak

Idris, adik Siti Hasnah, yang khawatir karena kakaknya tak pulang, melapor ke Ketua RT Kebayoran Baru, Sukarji. Setelah beberapa pengecekan di keluarga, rumah sakit, dan laporan ke Polres, keberadaan Siti Hasnah masih misterius.

Dua hari setelah pembunuhan, Aminah khawatir mayat korban mengeluarkan bau. Ia meminta bantuan Mursyidi, pedagang asinan dan anak pemilik rumah kontrakan, untuk memindahkan mayat. Pada 14 Oktober dini hari, mayat diseret ke belakang rumah dan ditimbun sementara. Rencana awal penguburan gagal karena orang lalu-lalang.

Pembuangan ke Sungai

Aminah kemudian merencanakan pembuangan mayat ke sungai. Pada 15 Oktober dini hari, mayat dimasukkan ke kantong plastik, bagian kaki dan tangan dipotong dengan golok agar muat. Karbol dan hair spray disiramkan untuk mengurangi bau.

Dengan menggunakan bemo carteran, Aminah dan Mursyidi membawa keranjang berisi mayat ke Manggarai. Di tempat sepi, mereka melemparkan jasad ke sungai dan pulang.

Penemuan Mayat dan Penyidikan

Sekitar pukul 10.00 WIB, warga heboh menemukan mayat perempuan terapung di sungai, tanpa tangan dan kaki. Ketua RT Sukarji dan keluarga korban mengidentifikasi jasad dari baju dan cincin pemberian keluarga. Polisi menemukan bukti di rumah Mursyidi: sisa plastik, karbol, dan darah di tanah kosong.

Mursyidi akhirnya mengakui membantu Aminah. Polisi segera menangkap Aminah, yang tetap tenang dan mengakui perbuatannya tanpa rasa sesal.

Baca juga: Ash Armand: Dari Bintang Reality TV Gigolo ke Kasus Pembunuhan

Penyidikan mengungkap Aminah juga pernah membunuh Ny Mangku Siswoyo (1959) dan Sumarni dari Garut. Ia mengaku melakukan tindakan sadis itu sebagai bagian dari ritual yang disarankan seorang dukun bernama A.D Harahap, meski dukun tersebut membantah klaim tersebut.

Aminah dijatuhi hukuman 20 tahun penjara dan ditempatkan di penjara wanita Bukit Duri, Jakarta, bercampur dengan tahanan politik. Dalam laporan media 1977, Aminah menegaskan bahwa ia bukan “drakula” seperti julukan publik, melainkan menderita hipertensi dan bertindak karena sakit hati karena ditagih utang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU