Fakta Kasus Edmund Kemper: Pembunuh Berantai Bertubuh Besar dengan IQ Tinggi yang Mengecoh Psikiater
INDOZONE.ID - Sosoknya sering disebut sebagai pembunuh berantai bertubuh besar dengan tinggi 203 cm. Ya, dia adalah Edmund Kemper, yang juga sering disebut dengan panggilan Ed Kemper atau Big Ed.
Sosoknya adalah pembunuhan yang terlihat sopan dan cerdas karena memiliki IQ setinggi 136. Namun, banyak yang terkecoh dengan sisi gelapnya lantaran ia seolah memiliki Jekyll dan Hyde dalam dirinya.
Berikut ini adalah beberapa fakta tentangnya yang dirangkum dari crimeinvestigation.uk
Masa Kecil Edmund Kemper yang Penuh Tekanan
Edmund Kemper lahir pada 18 Desember 1948 di California dalam keluarga yang penuh konflik. Hubungannya dengan sang ibu, Clarnell, sangat bermasalah. Ia sering direndahkan, disalahkan, dan diperlakukan dengan keras secara emosional.
Sejak kecil, Kemper menunjukkan tanda-tanda gangguan perilaku, termasuk fantasi kekerasan dan tindakan agresif terhadap hewan. Ia juga memainkan permainan bertema kematian serta mengucapkan pernyataan yang mencerminkan pola pikir berbahaya. Meski tanda-tanda ini mengkhawatirkan, orang tuanya tidak mencari bantuan psikologis yang memadai.
Baca juga: Siapa Samuel Little, Mengapa Dianggap Pembunuh Berantai Paling Mematikan di AS?
Pembunuhan Kakek-Nenek dan Perawatan Psikiatri Edmun Kemper
Pada usia 14 tahun, setelah dikirim tinggal bersama kakek-neneknya karena sulit dikendalikan, Kemper membunuh keduanya menyusul pertengkaran keluarga. Ia kemudian menyerahkan diri kepada polisi. Dalam pemeriksaan, ia mengaku merasa marah dan terasing dari dunia sekitarnya.
Karena masih di bawah umur, ia diadili sebagai remaja dan dikirim ke Rumah Sakit Jiwa Atascadero. Di sana, ia dinilai sangat cerdas dan kooperatif. Ia bahkan dipercaya membantu pelaksanaan tes psikologis terhadap narapidana lain. Namun, selama masa perawatan tersebut, ia juga belajar memahami sistem hukum dan cara memanipulasi persepsi orang lain.
Kembali ke Masyarakat dan Citra “Normal”
Pada usia 21 tahun, Kemper dibebaskan bersyarat dan kembali tinggal bersama ibunya di Santa Cruz. Bertubuh sangat tinggi dan besar, ia dijuluki “Big Ed.” Dengan IQ 136, ia dikenal sopan, ramah, dan mudah bergaul. Ia sering menghabiskan waktu di bar lokal tempat polisi berkumpul dan bercita-cita menjadi polisi, meski ditolak karena postur tubuhnya.
Dari luar, ia tampak sebagai pemuda yang stabil dan tidak berbahaya. Pada tahun 1972, dua psikiater bahkan menyatakan ia tidak lagi menjadi ancaman, dan catatan kriminal remajanya dihapus. Padahal keduanya terkecoh.
Baca juga: Edmund Kemper, Psikopat 'Raksasa' Pintar yang Bunuh Ibu Sendiri
Rangkaian Pembunuhan Para Gadis yang 'Nebeng'
Di balik citra tersebut, Kemper mulai membunuh perempuan muda yang menumpang kendaraannya. Ia mengaku awalnya ingin berteman, tetapi merasa ditolak dan terasing. Dalam waktu sekitar 11 bulan antara 1972 hingga 1973, ia membunuh delapan wanita, termasuk ibunya sendiri dan sahabat ibunya.
Ia memanfaatkan kecerdasannya untuk menghindari kecurigaan. Fakta bahwa ia sering berinteraksi dengan polisi membuatnya semakin tidak dicurigai. Kejahatannya dilakukan secara terencana dan berulang hingga akhirnya mencapai puncak ketika ia membunuh ibunya pada Paskah 1973.
Penangkapan dan Hukuman
Setelah membunuh ibunya dan seorang kenalan keluarga, Kemper melarikan diri ke Colorado. Ia akhirnya menghubungi polisi dan mengakui seluruh perbuatannya. Dalam persidangan, ia mengajukan pembelaan tidak bersalah karena gangguan jiwa, tetapi dinyatakan bersalah atas delapan dakwaan pembunuhan tingkat pertama.
Karena hukuman mati saat itu ditangguhkan di California, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Kehidupan di Penjara
Selama menjalani hukuman, Kemper dikenal sebagai narapidana teladan. Ia aktif dalam kegiatan keagamaan, membuat kerajinan keramik, dan merekam buku untuk tunanetra. Dalam beberapa sidang pembebasan bersyarat, ia menyatakan bahwa masyarakat belum siap menerima dirinya kembali dan ia sebaiknya tetap dipenjara.
Hingga kini, ia tetap menjalani hukuman seumur hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Crimeinvestigation.co.uk