Selasa, 13 JANUARI 2026 • 10:56 WIB

Misteri Encephalitis Lethargica, Penyakit Langka yang Muncul Bersamaan dengan Spanish Flu

Author

Ilustrasi Encephalitis Lethargica. (Wikipedia)

INDOZONE.ID - Sejarah dunia medis mencatat berbagai wabah mematikan yang pernah mengguncang umat manusia. Salah satu yang paling dikenal adalah Spanish Flu yang merebak pada 1917 dan menewaskan jutaan orang di seluruh dunia.

Namun, di balik wabah besar tersebut, terdapat satu penyakit lain yang muncul hampir bersamaan dan hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar bagi dunia kedokteran.

Sekitar tahun 1916-1917, ketika pengetahuan medis masih terbatas, rumah sakit di berbagai negara mulai menerima pasien dengan keluhan yang tidak biasa. Mereka datang dalam kondisi sangat lemah, tubuh bergetar tanpa henti, dan sebagian mengalami keadaan ekstrem yang disebut katatonik.

Baca juga: Kilas Balik Kisah Tragis Keluarga Burari di India, 11 Orang Mati Serempak: Ritual atau Penyakit Mental?

Katatonik adalah kondisi di mana seseorang tampak hidup dan sadar, tetapi tidak mampu bergerak, berbicara, maupun merespons rangsangan apa pun. Napas penderita tetap normal, mata terbuka, namun tubuh mereka seolah “terkunci”. Kondisi ini sering disamakan dengan ketindihan, tetapi berlangsung jauh lebih lama dan jauh lebih menyiksa.

Fenomena ini tidak terjadi pada segelintir orang. Jutaan pasien di berbagai belahan dunia dilaporkan mengalami gejala serupa. Karena belum ditemukan penyebab yang jelas, para dokter kala itu menyebutnya sebagai "sleeping sickness", penyakit tidur yang membuat penderitanya terperangkap di dalam tubuhnya sendiri.

Kasus ini kemudian menarik perhatian seorang dokter dan ahli saraf ternama, Constantin von Economo. Ia meneliti penyakit tersebut secara mendalam dan memberinya nama Encephalitis Lethargica, yang berarti peradangan otak yang menyebabkan kondisi lesu ekstrem. Penyakit ini sering disingkat sebagai "L".

Sepanjang periode 1917 hingga sekitar 1928, jumlah pasien terus bertambah. Bahkan, sebagian penderita datang dalam kondisi koma. Anehnya, meski penelitian dilakukan secara luas, tidak ditemukan bakteri, virus, maupun penyebab biologis lain yang dapat menjelaskan penyakit ini. Lalu, tanpa penjelasan apa pun, Encephalitis Lethargica perlahan menghilang begitu saja.

Beberapa dekade kemudian, seorang neurolog bernama Oliver Sacks kembali mengangkat misteri ini. Ia menemui para penyintas Encephalitis Lethargica yang telah terbaring di rumah sakit selama 30 hingga 40 tahun. Dalam penelitiannya, Sacks mencoba memberikan obat L-dopa, yang digunakan untuk meningkatkan produksi dopamin di otak.

Baca juga: Kisah Tragis Etika, YouTuber Anak Pejabat Ghana yang Meninggal karena Penyakit Mental

Hasilnya mengejutkan. Sejumlah pasien menunjukkan respons dramatis: mereka terbangun, bisa berbicara, tertawa, menangis, dan berinteraksi kembali dengan lingkungan sekitar. Namun, kebahagiaan itu bersifat sementara. Efek obat tersebut perlahan menghilang, dan sebagian besar pasien kembali ke kondisi semula.

Kisah ini kemudian menginspirasi film terkenal berjudul The Awakenings, yang dibintangi oleh Robert De Niro, dan menjadi pengingat betapa rapuhnya pemahaman manusia terhadap otak.

Hingga hari ini, penyebab pasti Encephalitis Lethargica masih belum terungkap. Penyakit ini tetap menjadi salah satu misteri terbesar dalam sejarah medis.

Pertanyaan pun muncul: apakah Encephalitis Lethargica benar-benar telah lenyap, ataukah ia masih ada hingga sekarang, hanya muncul dengan nama dan bentuk yang berbeda?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube @risyadandson

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU