Kamis, 25 DESEMBER 2025 • 15:58 WIB

Kisah The Dating Game Killer Rodney Alcala: Pembunuh Pemikat Wanita yang Menang di Acara Kencan TV

Author

Sosok The Dating Game Killer Rodney Alcala (People)

INDOZONE.ID - Terkedang cowok yang terlihat luar biasa dang dianggap mengerti wanita ternyata bisa sangat mengerikan. Contohnya Rodney James Alcala, seorang cowok flamboyan yang terlihat jago 'speak'  yang ternyata seorang pembunuh berantai.

Mengutip Britannica, Rodney Alcala adalah seorang pembunuh berantai asal Amerika Serikat yang dikenal dengan julukan “Dating Game Killer.”

Julukan ini muncul karena penampilannya pada tahun 1978 di acara televisi populer The Dating Game, ketika para produser sama sekali tidak mengetahui bahwa ia telah melakukan sejumlah pembunuhan keji.

Kisah hidup Alcala kemudian diangkat ke layar lebar dalam film Netflix tahun 2024 berjudul Woman of the Hour, yang dibintangi dan disutradarai oleh Anna Kendrick. Alcala dinyatakan bersalah atas pembunuhan enam perempuan dan satu anak perempuan dalam rentang waktu 1971 hingga 1979. Namun, pihak berwenang memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa mencapai hingga 130 orang.

Baca juga: Kilas Balik Rodney Alcala: Pembunuh Berantai Keji yang Ikut Acara Kencan di TV

Masa Awal Kehidupan

Alcala lahir dengan nama Rodrigo Jacques Alcala-Buquor di San Antonio, Texas. Saat berusia delapan tahun, keluarganya pindah ke Meksiko. Di sana, ayahnya meninggalkan keluarga, dan sang ibu kemudian membawa Alcala serta saudara-saudaranya pindah ke Los Angeles.

Pada usia 17 tahun, Alcala bergabung dengan Angkatan Darat AS. Namun beberapa tahun kemudian ia diberhentikan menyusul tuduhan pelanggaran seksual dan kondisi mental yang memburuk. Ia kemudian menempuh pendidikan seni rupa dan meraih gelar dari University of California, Los Angeles (UCLA) pada tahun 1968.

Di tahun yang sama, Alcala melakukan tindak kekerasan seksual terhadap seorang anak perempuan berusia delapan tahun bernama Tali Shapiro. Petugas kepolisian yang menemukan korban saat itu tidak berhasil menangkap Alcala. Ketika Alcala meninggal dunia pada 2021, Shapiro mengenang kejadian tersebut dengan mengatakan bahwa ia telah melanjutkan hidupnya dan percaya bahwa Alcala telah menerima akibat dari perbuatannya.

Setelah kejadian itu, Alcala pindah ke New York City dan menggunakan nama samaran John Berger untuk mendaftar di New York University. Pada 1971, ia masuk dalam daftar buronan FBI. Saat bekerja sebagai konselor kamp di New Hampshire, beberapa anak perempuan mengenalinya dari poster buronan di kantor pos, yang akhirnya menyebabkan penangkapannya.

Baca juga: Sosok Thomas Nast, Kartunis Amerika yang Membentuk Wajah Santa Claus

Alcala kemudian dipulangkan ke Los Angeles, dinyatakan bersalah dalam kasus Shapiro, dan menjalani hukuman penjara selama 34 bulan sebelum dibebaskan bersyarat.

Penampilan di The Dating Game

Pada September 1977, Alcala bekerja sebagai penyusun huruf di Los Angeles Times. Pada Maret 1978, polisi sempat memeriksanya sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Hillside Strangler, namun ia dibebaskan karena tidak terbukti terlibat.

Pada September 1978, Alcala tampil sebagai peserta acara The Dating Game, sebuah acara khas era 1970-an yang menampilkan seorang perempuan lajang memilih pasangan kencan dari tiga pria berdasarkan tanya jawab tanpa melihat langsung. Alcala tampil sebagai “Bachelor Number One,” digambarkan sebagai pria tampan berambut panjang dan diperkenalkan sebagai “fotografer sukses.”

Dalam kenyataannya, Alcala kerap menggunakan fotografi untuk mendekati para korbannya dengan dalih memotret mereka. Ia juga mengaku menyukai sepeda motor dan terjun payung.

Cheryl Bradshaw, wanita yang merasa aneh dan nyaris jadi korban

Perempuan yang memilihnya dalam acara tersebut adalah Cheryl Bradshaw, seorang calon aktris dan guru drama. Meski sempat memilih Alcala sebagai pasangan kencan, Bradshaw kemudian membatalkan rencana tersebut.

Aku mulai merasa tidak nyaman. Sikapnya terasa sangat aneh,” kata Bradshaw dalam wawancara tahun 2012. Ia bahkan menghubungi pihak acara keesokan harinya untuk menyampaikan ketidaknyamanannya.

Peserta lain dalam acara itu juga mengaku merasakan kesan yang sama terhadap Alcala, menggambarkannya sebagai sosok yang menyeramkan.

Seorang mantan jaksa pembunuhan, Matt Murphy, mengatakan bahwa tindakan Alcala tampil di acara tersebut mencerminkan sifat narsistik dan arogansi seorang psikopat.

Baca juga: 14 Pembunuh Berantai Zodiak Gemini: Bermuka Dua yang Menyembunyikan Sisi Gelapnya

Para Korban

Pada tahun 1980, Alcala dijatuhi hukuman mati atas penculikan dan pembunuhan Robin Samsoe, seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Namun, Mahkamah Agung California membatalkan putusan tersebut pada 1984 dan memerintahkan sidang ulang. Hukuman mati kembali dijatuhkan pada 1986, lalu kembali dibatalkan pada 2003.

Bukti DNA akhirnya mengaitkan Alcala dengan pembunuhan empat perempuan di California pada tahun 1970-an. Pada 2010, juri memvonisnya bersalah dan menjatuhkan hukuman mati atas pembunuhan Robin Samsoe serta:

  • Jill Barcomb (18 tahun), 1977
  • Georgia Wixted (27 tahun), 1977
  • Charlotte Lamb (32 tahun), 1978
  • Jill Parenteau (21 tahun), 1979
  • Cornelia M. Crilley (23 tahun), 1971
  • Ellen Jane Hover (23 tahun), diduga tahun 1977

Meski demikian, identitas seluruh korban Alcala kemungkinan tidak akan pernah sepenuhnya terungkap. Pihak berwenang memperkirakan ia bisa saja telah menyerang dan membunuh hingga 130 perempuan. Kepolisian di berbagai negara bagian, termasuk Washington, Arizona, New Hampshire, dan Wyoming, juga mengaitkannya dengan sejumlah kasus pembunuhan.

Rodney Alcala meninggal dunia pada usia 77 tahun pada 2021 saat menjalani hukuman mati di California.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Britannica

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU