Rabu, 24 SEPTEMBER 2025 • 14:37 WIB

Kasus Pemuda Australia yang Meninggal di Bali Dipulangkan dengan Organ Tubuh yang Hilang

Author

Pria asal Australia yang tewas di Bali dan dikembalikan Australia dalam keadaan organ hilang. (Instagram/newsaucom)

INDOZONE.ID - Keluarga seorang pria asal Noosa, Queensland, yang meninggal dunia di Bali awal tahun ini mengungkapkan bahwa jenazahnya dipulangkan ke Australia dalam kondisi tidak lengkap, tanpa jantung di dalam tubuhnya.

Byron Haddow, pria berusia 23 tahun, ditemukan tidak sadarkan diri dan mengambang di kolam sebuah vila pribadi di Bali pada 26 Mei. Ia kemudian dinyatakan meninggal dunia. Namun yang mengejutkan, saat jasadnya tiba di Australia hampir empat minggu kemudian, pihak keluarga baru mengetahui bahwa jantung Byron telah diangkat dan disimpan di Indonesia.

Keluarga mengaku tidak diberi tahu dan tidak memberikan persetujuan atas pengambilan organ tersebut. Penemuan bahwa jantung Byron hilang baru terjadi secara tidak sengaja ketika dilakukan autopsi kedua oleh pihak koroner di Queensland, menjelang pemakamannya. 

Temuan ini memicu kekhawatiran serius mengenai prosedur dan integritas proses pemulangan jenazah warga negara Australia dari Indonesia.

Baca juga:  Kisah Hedviga Golik, Perempuan yang Jasadnya Ditemukan di Apartemen 42 Tahun Setelah Kematiannya

Kematian yang mencurigakan

Kematian Byron yang oleh koroner di Bali dikategorikan sebagai mencurigakan, baru dilaporkan ke polisi empat hari setelah ia meninggal, yakni pada 30 Mei. Saat polisi tiba di lokasi, tempat kejadian sudah dalam kondisi terkontaminasi, sehingga sulit dilakukan penyelidikan.

Awalnya, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Swasta BIMC, tempat surat kematian diterbitkan. Kemudian dipindahkan ke Rumah Duka Bali untuk dipersiapkan proses pemulangan ke Brisbane. Surat kematian menyebutkan bahwa penyebab kematian adalah tenggelam.

Namun, Byron dikenal sebagai perenang yang kuat dan memiliki tinggi 178 cm, sedangkan kedalaman kolam tempat ia ditemukan hanya sekitar 150 cm. Selain itu, pada tubuh Byron ditemukan banyak luka gores dan memar, serta jejak darah di handuk yang digunakan untuk membungkus jenazahnya.

Autopsi ulang

Mencurigai adanya kejanggalan, keluarga di Australia meminta seorang teman di Bali untuk mengatur autopsi, sambil menekankan melalui email bahwa mereka ingin seluruh tubuh Byron dipulangkan.

Pada 30 Mei, jenazah Byron beserta permintaan autopsi "klinis" ditujukan ke RSUP Sanglah (Ngurah General Hospital) di Denpasar. Permintaan itu ditandatangani oleh teman keluarga, dan jenazah diterima oleh ahli forensik Dr. Nola Margaret Gunawan.

Baca juga: Hasil Autopsi Pendaki Brasil Juliana Diungkap: Korban Tewas 20 Menit Usai Jatuh

Namun karena jenazah sebelumnya dibekukan di rumah duka, butuh empat hari agar tubuh mencair dan autopsi bisa dilakukan. Dalam waktu itu pula, polisi provinsi Bali mengirim permintaan kedua agar dilakukan autopsi forensik.

Dr. Gunawan pun melakukan autopsi forensik sesuai hukum Indonesia. Autopsi ini berbeda dari autopsi klinis biasa. Dalam autopsi forensik, tubuh diperiksa lebih rinci untuk mencari penyebab dan cara kematian, dan bisa melibatkan pengambilan organ vital seperti jantung atau otak.

Kami memahami bahwa jenazah bukan sekadar objek biologis. Mereka adalah anggota keluarga, orang yang dicintai,” kata Dr. Gunawan kepada news.com.au.

“Tapi jika ada dua permintaan autopsi, kami harus mengutamakan aspek hukum. Ini berlaku di seluruh dunia.”
Dr. Gunawan mengaku tidak pernah melihat email dari keluarga yang meminta agar tubuh Byron dikembalikan secara utuh. Tapi ia mengatakan bahwa sekalipun ia melihat email itu, keputusannya tidak akan berubah.

“Dari segi rasa hormat, saya pasti akan menjelaskan kepada keluarga dulu. Tapi prosedurnya tetap saya lakukan,” ujarnya.

Untuk autopsi klinis, memang perlu persetujuan keluarga untuk pengambilan organ. Tapi untuk autopsi forensik, sesuai KUHAP Indonesia, tidak diperlukan persetujuan keluarga.”

Ia menyimpulkan bahwa penyebab kematian Byron kemungkinan besar adalah efek gabungan dari keracunan alkohol (ethanol) dan obat antidepresan Duloxetine, yang mungkin membuat Byron tidak bisa menyelamatkan diri dari kolam.

Namun, ia tidak bisa menjelaskan asal-usul luka dan memar di tubuh Byron, atau memastikan apakah kejadian itu kecelakaan, bunuh diri, atau pembunuhan.

Dengan teknologi forensik yang lebih canggih di Brisbane, diharapkan autopsi kedua bisa memberikan temuan baru.

Tanggapan ahli di Australia

Saat ini, kematian Byron masih dalam penyelidikan resmi oleh Pengadilan Koroner Queensland. Belum ada hasil penyebab kematian yang dirilis, namun pihak pengadilan telah memberi tahu keluarga bahwa jantung Byron hilang setelah jenazah dipulangkan.

Dalam pernyataan kepada news.com.au, juru bicara Pengadilan Koroner Queensland membenarkan bahwa kasus Byron telah dirujuk oleh Jaksa Agung Queensland, namun karena penyelidikan masih terbuka, mereka tidak dapat memberikan informasi lebih lanjut.

Dr. Xanthé Mallett, ahli antropologi forensik dan kriminolog dari Central Queensland University, tidak mempermasalahkan pengambilan jantung, tetapi mempertanyakan mengapa organ itu tidak dikembalikan ke tubuh sebelum dipulangkan.

“Semua organ seharusnya diperiksa, ditimbang, dan dikembalikan,” katanya.

“Saya tidak mengerti kenapa jantungnya tidak dikembalikan setelah selesai diperiksa.”

Direktur Bali Funeral Home, Ian Giovanni, berpendapat bahwa rumah sakit seharusnya memberi tahu keluarga soal pengambilan jantung.

“Mungkin itu prosedur standar mereka, tapi seharusnya tetap dijelaskan kepada keluarga. Dan kalau mereka tahu jantungnya tertinggal, mereka seharusnya bertanggung jawab dan segera mengirimkannya kembali,” kata Giovanni.

“Sebaliknya, mereka justru menyerahkannya kepada saya untuk dikirim. Prosesnya sangat rumit. Saya butuh banyak dokumen dan memakan waktu berbulan-bulan.”

Hingga kini, keluarga Haddow masih menunggu hasil autopsi kedua dan penyelidikan Kepolisian Federal Australia (AFP) terkait apa yang sebenarnya terjadi pada Byron di Bali. Mereka yakin kematiannya bukan kecelakaan biasa.

“Penjelasan bahwa dia tenggelam di kolam kecil tidak masuk akal,” kata ibunya, Chantal. “Saya sangat yakin dia dijebak, diberi obat, dirampok, dan semuanya jadi kacau. Itu keyakinan saya.”

Dr. Gunawan, yang kini sedang mengusulkan revisi kebijakan soal retensi organ dalam autopsi forensik di rumah sakit, juga menduga ada kemungkinan tindak kejahatan.

“Saya tidak bisa mengabaikan kemungkinan adanya kejahatan berdasarkan pola luka di tubuhnya. Tapi saya tidak bisa menyimpulkan apakah itu kecelakaan, bunuh diri, atau pembunuhan,” ujarnya.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia menyampaikan bahwa mereka memberikan bantuan konsuler kepada keluarga Byron.

“Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga di masa sulit ini,” demikian pernyataan resmi DFAT.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: News.au.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU