INDOZONE.ID – Tahun 1981, distrik hiburan paling terkenal di Tokyo, Shinjuku dan Kabukicho, berubah menjadi panggung teror yang membekas hingga hari ini.
Tiga perempuan ditemukan tewas dicekik di love hotel, satu lainnya berhasil selamat dari maut. Si pembunuh masih menjadi teka-teki yang belum terjawab lebih dari empat dekade kemudian.
Kasus Pertama: Hostess A dan Identitas Palsu
19 Maret 1981, seorang perempuan yang dikenal sebagai Hostess A check-in ke kamar 401 Hotel New El Sky bersama seorang pria muda. Keesokan harinya, ia tak kunjung keluar. Saat staf hotel memeriksa, mereka menemukan tubuhnya sudah tak bernyawa. Ia dicekik hingga tewas.
Awalnya, kartu identitas menunjukkan ia adalah seorang hostes lokal berusia 33 tahun. Namun, belakangan diketahui identitas itu palsu. Ia sebenarnya adalah perempuan berusia 45 tahun yang telah meninggalkan keluarganya pada 1975 dan hidup di Kabukicho.
Baca juga: Kisah Rapper Silento: Dulu Viral dan Kaya Raya Lewat Lagu Watch Me, Kini Dipenjara Akibat Pembunuhan
Polisi menduga ia bekerja sebagai pekerja seks sebelum tewas, dan pelaku kemungkinan menjemputnya dari tempat ia bekerja.
Kasus Kedua: Hostess B dan Stoking Kematian
25 April 1981, seorang perempuan lain yang dikenal sebagai Hostess B ditemukan tewas di kamar 203 Hotel Coca Palace. Ia dicekik menggunakan stoking miliknya sendiri. Satu jam sebelumnya, ia terlihat masuk ke hotel bersama seorang pria.
Saat ditemukan, tubuhnya hanya mengenakan yukata. Pakaian lainnya menghilang. Pelaku meninggalkan barang-barang kecil seperti anting, sandal, rokok, dan korek api. Korban diperkirakan berusia sekitar 20 tahun dan diyakini berasal dari Taiwan.
Karena tak berhasil diidentifikasi, polisi merilis sketsa wajah ke publik. Namun hasilnya nihil. Kondisi paru-parunya bersih, namun giginya rusak parah—membuat polisi percaya ia berasal dari daerah pedesaan.
Baca juga: Pembunuhan Pria yang Ditikam di Tanah Abang, Pelaku Berhasil Ditangkap Polisi
Kasus Ketiga: Shoujo A, Sempat Masih Hidup
14 Juni 1981, seorang pria terlihat keluar sendirian dari Hotel Higashioka setelah sebelumnya check-in bersama seorang gadis muda. Karena dua kasus sebelumnya, pegawai hotel merasa curiga dan memeriksa kamar.
Di dalam, mereka menemukan seorang gadis 17 tahun dalam keadaan mengenaskan. Tangan dan kakinya terikat, stoking melilit leher. Ia masih bernapas saat ditemukan, tapi akhirnya meninggal di rumah sakit.
Korban diketahui berasal dari Kota Kawaguchi. Dari hasil autopsi, diketahui bahwa ada kandungan kopi dalam lambungnya. Polisi yakin ia bertemu pelaku di sebuah kedai kopi sebelum dibawa ke hotel.
Upaya Pembunuhan: Korban yang Selamat
25 Juni 1981, seorang hostes berusia 30 tahun yang bekerja di sebuah arcade hampir menjadi korban berikutnya. Saat berada di love hotel bersama seorang pria, ia tiba-tiba dicekik.
Namun ia melawan sekuat tenaga. Pelaku akhirnya kabur sambil membawa dompetnya. Ia menjadi satu-satunya korban yang berhasil selamat.
Pola yang Sama
Semua korban memiliki kesamaan. Ketiganya ditemukan dengan zat stimulan di tubuhnya. Tak ada bekas suntikan, diduga zat itu dimasukkan lewat makanan atau minuman.
Baca juga: Misteri di Pegunungan Ural Rusia: Insiden Dyatlov Pass yang Tak Terpecahkan
Apakah diberikan secara paksa atau sukarela, masih misteri. Dua korban dicekik dengan stoking. Metode yang digunakan pun serupa dengan korban selamat.
Misteri yang Belum Usai
Saksi menggambarkan pelaku sebagai pria muda, tinggi sekitar 160 cm, wajah bulat, berkacamata hitam, berpakaian rapi. Namun, meskipun dilihat langsung oleh beberapa saksi dan korban yang selamat, sketsa wajahnya tidak pernah dibuat. Alasan di balik itu, tak pernah dijelaskan.
Sang pembunuh tak pernah tertangkap. Motifnya tak pernah diketahui. Identitasnya menghilang begitu saja, seperti asap yang larut dalam lampu neon Kabukicho. Tapi bagi sebagian orang, sosoknya masih ada—mengendap di lorong gelap, menunggu, atau mungkin... sudah di antara kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: