Rabu, 28 AGUSTUS 2024 • 14:57 WIB

3 Situs Warisan Indonesia Terancam Punah karena Perubahan Iklim dan Aktivitas Manusia

Author

Tiga situs Indonesia yang disebut akan punah. (Istimewa)

INDOZONE.ID - Indonesia menjadi negara kepulauan yang luas dan terkenal akan keindahan alam dan keragaman budayanya. Negara dengan lebih dari 17.000 pulau ini juga telah berhasil membuat UNESCO mengakui berbagai situs bersejarah dan keajaiban alam yang terdapat di Indonesia.

Tentunya, pengakuan dari UNESCO memperlihatkan besarnya kepentingan pelestarian warisan alam dan budaya serta mengajak masyarakat global untuk turut melestarikannya.

Terdapat 10 warisan dunia UNESCO yang ada di Indonesia, di antaranya Taman Nasional Komodo, Situs Manusia Purba Sangiran, Taman Nasional Ujung Kulon, Sistem Subak Bali, Sumbu Kosmologis Yogyakarta, Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Taman Nasional Lorentz, dan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto.

Sayangnya, perkembangan zaman membuat beberapa situs warisan dunia yang berada di Indonesia tersebut terancam punah.

1. Taman Nasional Komodo

Tiga situs Indonesia yang disebut akan punah. (Istimewa)

Baca Juga: 7 Misteri di Dunia yang Belum Terpecahkan, Ada Situs Dibuat 30 Juta Jam hingga Portal Gaib ke DImensi Lain

Situs pertama yang terancam punah adalah Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Faktor penyebab situs ini punah adalah kepunahan komodo yang menjadi spesies endemik provinsi tersebut sekaligus ikon destinasi di Taman Nasional Komodo.

Perlahan-lahan, komodo dengan status rentan berubah menjadi terancam punah karena perubahan iklim. Khususnya adalah kenaikan suhu global dan permukaan air laut yang membuat habitat komodo terus berkurang.

Selain faktor alam, ada pun faktor perbuatan manusia yang mengakibatkan kepunahan kadal besar ini. Aktivitas manusia dalam mengikis lahan, baik di laut maupun di hutan, juga mengakibatkan komodo kehilangan habitatnya, sehingga keberadaannya terancam punah.

2. Sistem Subak Bali

Di Bali, terdapat keindahan sawah yang berundak-undak dan aktif dikelola oleh masyarakatnya. Dalam pengelolaannya, masyarakat bergotong-royong untuk membuat sistem pengairan sawah tersebut. Sistem tersebut dinamakan Subak, yakni sistem pengairan sawah oleh masyarakat Bali dengan memperhatikan hukum adat setempat.

Ciri khasnya adalah menggabungkan bidang sosial, pertanian, dengan keagamaan yang dianut oleh masyarakat Bali.

Baca Juga: Misteri Jalan Tjampuhan Ubud Bali, Konon Sering Terjadi Kecelakaan Maut!

Keberadaannya terancam punah karena fungsi lahan sawah beralih menjadi kegiatan non-pertanian, sehingga lahan untuk sawah semakin menciut ketersediaannya. Areal persawahan di Bali yang telah beralih fungsi diduga mencapai 1000 ha per tahun. Areal sawah ini menciut dalam waktu yang pesat, terlebih di lokasi yang dekat dengan kota karena adanya penawaran harga penjualan yang tinggi.

Hal ini secara tidak langsung menunjukkan hasil dari usaha pertanian tidak dapat sebanding nilainya dengan besaran harga penjualan lahan pertanian tersebut, sehingga sebagian petani memilih untuk menjual lahan sawahnya.

Faktor lainnya adalah persoalan air yang juga menjadi masalah bagi petani. Pencemaran lingkungan yang terjadi akibat limbah industri, limbah hotel, dan limbah pemukiman menyebabkan kualitas air menurun. Selain itu, ketersediaan air pun menjadi terbatas.

Alasan lain yang turut menyumbang munculnya persoalan air adalah karena pembangunan yang dilakukan untuk menunjang industri pariwisata di Bali, sehingga air sebagai sumber daya yang sangat penting menjadi terbatas, bahkan langka keberadaannya. Hal ini pun dapat menimbulkan konflik akibat persaingan dalam pemanfaatan air bagi bidang pertanian atau non-pertanian.

3. Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto

Tiga situs Indonesia yang disebut akan punah. (Istimewa)

Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat, ini menjadi tambang batubara yang tertua di Indonesia. Operasional terancam terhenti dan keberadaannya terancam punah karena lokasinya rentan terhadap banjir.

Baca Juga: Marcinelle Mining Disaster, Kecelakaan Tambang Paling Mematikan dalam Sejarah Belgia

Selain itu, ketika cuaca panas ekstrem terjadi di lokasi operasionalnya, kekeringan pun menjadi risiko yang mengakibatkan kepunahan tambang tersebut.

Akan tetapi, keberadaan tambang batubara ini sebagai warisan dunia pun kerap kali mendapat kritik dari media-media pengamat lingkungan. WALHI, misalnya, menyatakan situs tambang ini telah menghasilkan perbudakan dalam proses pengelolannya. Dan aktivitas batubara telah mengakibatkan munculnya perubahan iklim.

Ada pula LBH Padang yang turut mengkritisi keberadaan Tambang Batubara Ombilin karena dalam sejarahnya tercatat ribuan pekerja, baik laki-laki dan perempuan, telah diperbudak menjadi buruh paksa untuk mengoperasikan industri tersebut. Perbudakan buruh tersebut tercermin dalam beberapa kegiatan, seperti jam kerja yang panjang, jumlah hari kerja yang tinggi, dan upah yang minim.

Banner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Forestdigest

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU