Sabtu, 14 SEPTEMBER 2024 • 14:08 WIB

3 Tradisi Unik Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia, Salah Satunya Nyiram Gong!

Author

Tradisi Unik Maulid Nabi Muhammad SAW.

INDOZONE.ID - Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menjadi momen yang dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Di negeri ini, perayaan tersebut diwarnai oleh beragam tradisi unik yang berbeda di setiap daerah.

Setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, mencerminkan kekayaan budaya serta semangat religius masyarakat setempat.

Berikut adalah tiga tradisi unik Maulid Nabi dari berbagai daerah di Indonesia:

Baca Juga: Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW: Jejak Awal Sang Pembawa Kebenaran

1. Ampyang Maulid di Kudus

Tradisi Ampyang Maulid di Kudus.

Tradisi Ampyang Maulid adalah salah satu perayaan Maulid Nabi yang berlangsung di Desa Loram Kulon dan Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Pertama kali dikenalkan oleh Sultan Hadirin pada tahun 1560-an, Ampyang Maulid menjadi media dakwah Sultan Hadirin dalam menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.

Baca Juga: Menguak Tradisi Jamasan Pusaka 1 Suro di Momen Tahun Baru Islam

Ampyang Maulid selalu diperingati pada tanggal 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam tradisi ini, masyarakat mengarak tandu yang berisi nasi kepel, buah-buahan, dan sayuran.

Baca Juga: Misteri Kerbau Bule Keramat Saat Malam Satu Suro di Surakarta

Gunungan hasil bumi ini diarak dalam sebuah kirab yang disertai doa dari tokoh agama.

Setelah selesai, isi dari gunungan tersebut dibagikan kepada warga sebagai lambang keberkahan.

2. Grebeg Maulid di Solo

Tradisi Grebeg Maulid di Solo.

Di Solo, Jawa Tengah, tradisi Grebeg Maulid menjadi salah satu acara besar dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Grebeg Maulid ini melibatkan dua gunungan yang diarak dan diperebutkan oleh masyarakat.

Baca Juga: 5 Tradisi Unik Suku Madura, Salah Satunya Ritual Ojung Agar Terhindar dari Malapetaka!

Gunungan-gunungan tersebut terbuat dari hasil bumi dan makanan khas yang melambangkan keseimbangan kehidupan.

Gunungan pertama adalah gunungan jaler, yang berisi hasil bumi seperti kacang, wortel, terong, cabai, telur asin, dan makanan dari singkong.

Baca Juga: Di Balik Tradisi Carok Suku Madura: Menyingkap Makna di Balik Duel Berdarah

Sementara itu, gunungan kedua disebut gunungan estri, berisi intip (makanan dari nasi atau beras ketan), serta aneka kue tradisional.

Gunungan dihias meriah dengan perpaduan warna-warni yang semuanya terbuat dari tepung ketan.

Setelah diarak, kedua gunungan ini diperebutkan oleh masyarakat sebagai bentuk mendapatkan berkah.

Baca Juga: Arak-Arakan Lawa Pipi, Tradisi Unik Idul Adha di Maluku Tengah

3. Nyiram Gong di Cirebon

Tradisi Nyiram Gong di Cirebon.

Di Cirebon, Jawa Barat, tradisi Nyiram Gong atau pencucian Gong Sekaten dilakukan di Keraton Kanoman sebagai bagian dari perayaan Maulid Nabi.

Tradisi ini tidak hanya melibatkan pencucian gamelan sekaten yang berusia ratusan tahun, tetapi juga dianggap sebagai ajang mendapatkan berkah.

Banyak warga yang berebut air bekas cucian gamelan dengan harapan mendapatkan kesehatan dan kemakmuran, termasuk sawah yang subur.

Baca Juga: Manten Sapi: Tradisi Unik Menyambut Idul Adha di Pasuruan

Proses Nyiram Gong dimulai dengan penataan gamelan sekaten di atas balok oleh para Nayaga (penabuh gamelan).

Setelah doa dan selawat dipanjatkan oleh keluarga Keraton, Nayaga mulai membasuh gamelan menggunakan air kembang dan air kelapa hijau yang sudah difermentasi.

Baca Juga: Tradisi Unik Saat Idul Adha di Berbagai Negara, Ada Sapi Bergelantungan di Atap Rumah Lho!

Alat gamelan ini kemudian dibersihkan menggunakan tepes (kulit kelapa kering) dan bubuk bata merah.

Ritual ini diyakini sebagai simbol pembersihan diri dan mendapatkan keberkahan.

Baca Juga: Kisah Awal Mula Tradisi Berkurban di Idul Adha, Begini Cerita Lengkapnya!

Tradisi Unik Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ketiga tradisi unik Maulid Nabi ini hanya sebagian kecil dari keragaman budaya di Indonesia dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Setiap daerah memiliki cara yang berbeda-beda, namun semuanya bertujuan untuk merayakan kelahiran Rasulullah SAW dengan penuh syukur dan keberkahan.

Tradisi-tradisi ini tidak hanya memperkaya budaya lokal, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan keberkahan kepada masyarakat yang merayakannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Nasional

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU