INDOZONE.ID - Di balik gemerlap kisah kesaktian Jawa kuno, ada satu ajian yang jarang dibicarakan secara sembarangan karena kedalamannya sulit dicerna oleh logika manusia biasa.
Ajian itu dikenal dengan nama Dasa Aksara. Bukan sekadar ilmu kanuragan atau mantra sakti, Dasa Aksara dipercaya sebagai jalan spiritual untuk memahami hakikat hidup dan menyatu dengan kehendak Sang Maha Agung.
Dilansir dari YouTube/Tos Nusantara mencoba membuka tirai ajian ini lewat kisah simbolik yang sarat makna.
Cerita tersebut tidak hanya menampilkan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang penuh ujian, pengorbanan, dan keheningan.
Baca juga: 'Ajian Tugu Manik Jayakusuma': Ilmu Sakti dari Tanah Jawa yang Bisa Bikin Jiwa Abadi
Pencarian Kawruh Sejati di Tengah Kemewahan
Kisah ini bermula di masa kejayaan Majapahit. Tirta Bayu, seorang pemuda yang merupakan anak abdi dalem keraton, hidup dalam lingkungan istana yang serba cukup.
Namun di balik kemapanan itu, ia merasakan kehampaan yang sulit dijelaskan. Harta, jabatan, dan pujian tidak lagi memberi rasa penuh.
Kegelisahan itulah yang mendorong Tirta Bayu meninggalkan istana. Ia memilih jalan sunyi demi mencari Kauruh Sejati, pengetahuan yang diyakini mampu menjawab pertanyaan paling dasar manusia tentang hidup, tujuan, dan makna keberadaan.
Pertemuan dengan Resi Antawira
Perjalanan Tirta Bayu membawanya ke lereng Gunung Pitra, tempat seorang pandita tua bernama Resi Antawira bertapa.
Sang resi dikenal sebagai penjaga ajaran Dasa Aksara. Ia tidak langsung menerima Tirta Bayu sebagai murid.
Resi Antawira menegaskan, aksara bukanlah tulisan mati. Aksara adalah napas, gerak hidup, dan getaran batin.
Jika seseorang hanya mencari kesaktian tanpa welas asih dan kerendahan hati, maka ilmu ini justru akan menjadi beban, bukan penerang.
Makna Ha Sebagai Awal Segalanya
Laku pertama Tirta Bayu dimulai dari aksara Ha. Dalam ajaran Dasa Aksara, Ha melambangkan kehampaan yang berdenyut, asal mula dari segala sesuatu.
Tirta Bayu diajak memahami bahwa sebelum ada bentuk, ada sunyi.
Pada tahap ini, ia belajar diam, mendengarkan napas, dan menyadari bahwa hidup tidak selalu harus diisi dengan ambisi. Dari kehampaan inilah kesadaran sejati lahir.
Na dan Penerimaan Rasa
Tahap berikutnya adalah aksara Na. Tirta Bayu dibimbing memasuki ruang batin bernama Candi Pangrasan. Di sana, ia berhadapan dengan bayangan egonya sendiri.
Na mengajarkan penerimaan. Semua rasa, baik sedih, marah, kecewa, maupun bahagia, harus diterima tanpa penolakan.
Tirta Bayu belajar bahwa rasa yang ditekan justru akan menjadi beban di kemudian hari.
Ca dan Hukum Sebab Akibat
Aksara Ca membawa Tirta Bayu pada pemahaman tentang hukum sebab-akibat. Setiap perbuatan, sekecil apa pun, memiliki konsekuensi.
Di Watu Pangiket Janma, ia menghadapi jejak masa lalunya sendiri. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai pelajaran bahwa hidup selalu memiliki timbangan.
Tidak ada kebaikan yang sia-sia, dan tidak ada keburukan yang benar-benar hilang.
Baca juga: Kisah Orang Pertama Penghuni Tanah Jawa: Sosok Aji Saka yang Melegenda!
Ra dan Pembersihan Ego
Tahapan paling berat terjadi saat mempelajari aksara Ra. Tirta Bayu harus menjalani laku di Alas Wening Geni, sebuah ruang simbolik tempat api batin bekerja.
Di hadapannya berdiri cermin perunggu yang memantulkan jiwanya tanpa topeng. Ra mengajarkan penyucian rasa tanpa pamrih. Ego harus dilebur agar kasih tidak lagi bersyarat.
Ka dan Jalan Kesempurnaan
Setelah ego mulai luluh, Resi Antawira memberikan keris pusaka sebagai lambang aksara Ka. Ka melambangkan kauruh atau ilmu sejati yang membebaskan.
Ilmu bukan untuk menguasai orang lain, melainkan untuk menyempurnakan diri. Pada tahap ini, Tirta Bayu mulai memahami bahwa kesaktian sejati adalah kejernihan batin.
Da Ta dan Sa Sebagai Laku Hidup
Aksara Da mengajarkan daya dan dedikasi. Tirta Bayu harus menguatkan raga dan batin agar seimbang.
Ta melambangkan tapa dan tirakat. Ia menjalani laku sunyi, mengurangi keinginan duniawi, dan menjaga kesadaran dalam setiap gerak.
Sa menjadi pondasi terakhir, kesucian sukma. Tanpa sukma yang bersih, ilmu setinggi apa pun hanya akan runtuh.
Wa dan La Penyatuan dengan Semesta
Tahap akhir adalah Wa dan La, lambang wisesa dan keluhuran. Pada fase ini, Tirta Bayu tidak lagi mengejar kesaktian. Ia justru meleburkan kehendaknya dengan kehendak semesta.
Mantra-mantra kuno Jawa dan Sansekerta dilantunkan bukan untuk pamer kekuatan, melainkan untuk menyelaraskan diri dengan kehidupan.
Dikisahkan, kesaktian batinnya mampu menggerakkan gunung, sebuah simbol bahwa ia telah menaklukkan dirinya sendiri.
Kesaktian Sebagai Simbol Kedewasaan Jiwa
Dalam kisah ini, kesaktian bukan ditampilkan sebagai kekuatan fisik semata. Menggerakkan gunung bukan berarti benar-benar memindahkan tanah dan batu, melainkan kemampuan menggerakkan beban batin yang selama ini mengikat manusia.
Tirta Bayu mencapai tahap di mana hidup dijalani dengan sabar, ikhlas, dan penuh kesadaran.
Baca juga: Ajian Rengkah Gunung: Ilmu Sakti dari Tanah Jawa yang Bisa Bikin Gunung Retak!
Ajian Dasa Aksara bukan ilmu instan. Ia adalah jalan panjang yang menuntut kejujuran pada diri sendiri.
Kisah ini mengingatkan bahwa pengetahuan sejati tidak hanya ditemukan dalam kitab atau mantra, tetapi dalam cara manusia bernapas, bersikap, dan memperlakukan hidup.
Di tengah dunia modern yang serba cepat, ajaran Dasa Aksara terasa relevan. Bahwa sebelum ingin menguasai apa pun, manusia harus lebih dulu mengenal dan menata dirinya sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube