Teknologi di Balik Piramida Giza: Benarkah Bangsa Mesir Kuno Menggunakan Cairan untuk Memindahkan Batu Raksasa?
INDOZONE.ID - Piramida Mesir, khususnya Piramida Giza, selama ini dikenal sebagai salah satu keajaiban dunia yang penuh misteri.
Banyak teori bermunculan untuk menjelaskan bagaimana batu-batu raksasa bisa dipindahkan dan disusun dengan presisi tinggi.
Kini, penelitian terbaru membuka kemungkinan bahwa bangsa Mesir kuno memanfaatkan cairan, termasuk air dan pasir basah, untuk mempermudah proses konstruksi.
Baca juga: Benarkah Ada Kota Rahasia di Bawah Piramida Giza? Ini Penjelasan Para Ahli
Temuan Baru soal Teknologi Hidrolik
Berdasarkan The Debrief, Rabu (08/04/2026) penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, para peneliti menemukan indikasi bahwa teknologi hidrolik mungkin digunakan dalam pembangunan piramida.
Mengutip studi yang dimuat dalam jurnal PLoS ONE, struktur di sekitar Piramida Djoser diduga berfungsi sebagai sistem pengelolaan air. Beberapa bagian bahkan disebut berperan seperti bendungan dan fasilitas penyaring air.
Air tersebut diperkirakan dialirkan ke dalam poros piramida untuk membantu mengangkat batu besar menggunakan mekanisme semacam “lift hidrolik”. Dengan bantuan daya apung, batu-batu raksasa bisa dipindahkan secara lebih efisien.
Peran Air dalam Memindahkan Batu
Selain sebagai alat pengangkat, air juga diyakini berperan dalam proses transportasi material.
Mengutip laporan penelitian lain, para ahli menemukan bukti adanya cabang Sungai Nil kuno yang disebut “Cabang Ahramat”. Jalur air ini diduga digunakan untuk mengangkut batu dan material bangunan menuju lokasi piramida.
Keberadaan jalur air ini memperkuat dugaan bahwa bangsa Mesir kuno memanfaatkan kondisi lingkungan, khususnya air, untuk mendukung pembangunan skala besar.
Teori Pasir Basah untuk Kurangi Gesekan
Selain teknologi hidrolik, terdapat teori lain yang tak kalah menarik, yaitu penggunaan pasir basah.
Dalam beberapa penelitian sebelumnya, disebutkan bahwa pasir yang dibasahi dapat mengurangi gesekan saat menarik beban berat.
Baca juga: Piramida Dibangun Alien? Ilmuwan Ungkap Fakta Mengejutkan yang Bikin Teori Konspirasi Goyah
Dengan kondisi ini, batu besar menjadi lebih mudah dipindahkan dibandingkan di atas pasir kering.
Pendekatan sederhana ini menunjukkan bahwa teknologi yang digunakan tidak selalu rumit, tetapi efektif jika memanfaatkan prinsip fisika dasar.
Masih Butuh Penelitian Lanjutan
Meski temuan ini cukup meyakinkan, para peneliti menegaskan bahwa masih diperlukan studi lebih lanjut.
Jumlah air yang tersedia serta cara penggunaannya dalam proses pembangunan belum sepenuhnya dapat dipastikan.
Selain itu, kemungkinan besar bangsa Mesir kuno menggunakan berbagai metode sekaligus, tergantung kondisi dan lokasi.
Baca juga: Kisah Mistis Gunung Padang, Benarkah Jadi Piramida Tertua di Dunia dari Cianjur?
Teknologi di balik pembangunan piramida Mesir terus menjadi topik menarik hingga saat ini. Dari penggunaan air sebagai alat bantu hidrolik hingga pemanfaatan pasir basah untuk mengurangi gesekan, semua teori ini menunjukkan kecerdasan teknik bangsa kuno.
Meski belum sepenuhnya terungkap, temuan-temuan terbaru semakin memperjelas bahwa pembangunan piramida bukan hanya soal tenaga, tetapi juga inovasi dan pemahaman lingkungan yang luar biasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Debrief