Minggu, 18 JANUARI 2026 • 20:00 WIB

Kisah Mistis Penjual Garam Kasar di Pemakaman Angker, Jalan Pintas Kekayaan yang Berujung Nyawa

Author

Ilustrasi Penjual Garam Kasar. (Foto: Freepik @cookie-studio)

INDOZONE.ID - Awal kisah ini bermula dari Desa Sumber Sewu, sebuah desa terpencil di pinggiran Kota Jombang, Jawa Timur.

Desa kecil yang sebagian besar warganya menggantungkan hidup sebagai petani dengan penghasilan pas-pasan. 

Di salah satu sudut desa berdiri rumah bambu reyot milik Pak Warno dan istrinya, Bu Ida.

Hidup mereka jauh dari kata layak. Untuk sekadar memastikan nasi bisa mengepul setiap malam saja, mereka sering harus berhutang pada tetangga.

Pak Warno bekerja sebagai buruh tani dan kuli panggul di pasar tradisional. Tenaganya diperas sejak pagi hingga petang, namun hasilnya nyaris tak pernah cukup.

Sawah kecil yang dulu menjadi tumpuan hidup terpaksa dijual kepada Juragan Ratno, demi biaya pengobatan Bu Ida yang sempat sakit parah.

Sejak saat itu, Pak Warno kerap dihantui rasa bersalah sebagai suami yang merasa gagal memberi kehidupan yang pantas.

Yuk simak kisah mistis penjual garam kasar dilansir dari YouTube @OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!

Baca juga: Kisah Mistis Rumah Terkutuk, Tempat Perantauan yang Berujung Petaka

Perubahan Aneh dalam Semalam

Suatu malam, Pak Warno pulang dengan wajah lelah namun membawa uang dalam jumlah yang tak biasa.

Tangannya menggenggam lembaran rupiah tebal, jauh lebih banyak dari upah harian yang biasa ia terima.

Kepada Bu Ida, ia berdalih pasar sedang ramai dan ia mendapat lembur tambahan. Meski hatinya diliputi curiga, Bu Ida memilih diam dan bersyukur.

Namun malam itu bukan sekadar keberuntungan biasa. Sejak hari tersebut, hidup Pak Warno berubah drastis. Uang seakan tak pernah habis.

Ia membelikan Bu Ida gelang emas, mengganti rumah bambu menjadi bangunan permanen berlantai keramik, bahkan membeli motor matic baru.

Televisi besar menghiasi ruang tamu, sesuatu yang dulu hanya bisa mereka lihat dari rumah tetangga.

Pak Warno berhenti bekerja sebagai buruh tani. Ia mengaku kini fokus bekerja di pasar pada malam hari hingga menjelang subuh. Anehnya, ia jarang terlihat benar-benar berada di pasar.

Sikap Tertutup dan Kedermawanan yang Aneh

Seiring bertambahnya harta, sifat Pak Warno ikut berubah. Ia menjadi pendiam, tertutup, dan sering mengurung diri di kamar hanya untuk menghitung uang. Namun di luar rumah, ia dikenal sangat dermawan.

Ia mentraktir warga, membantu biaya hajatan, hingga meminjamkan uang dalam jumlah besar kepada Pak Karto, tetangganya yang dikenal gemar berjudi.

Baca juga: Kisah Mistis Mayat Perempuan Bahu Laweyan: Ada. Duka, Mitos, dan Luka yang Tak Pernah Selesai

Ilustrasi Penjual Garam Kasar. (Foto: Freepik @cookie-studio)

Warga desa memujinya sebagai orang sukses yang tidak lupa diri. Tapi Bu Ida merasakan keganjilan yang tak bisa ia jelaskan.

Suatu malam, ia memergoki Pak Warno tertawa sendiri di tengah tumpukan uang. Suaranya aneh, berat, seolah bercampur dengan suara lain yang bukan miliknya.

Malam Menuju Pemakaman Angker

Petaka terjadi pada suatu malam ketika Pak Warno pamit pergi bekerja. Bu Ida merasakan firasat buruk, namun tak mampu menahannya.

Tak lama setelah kepergiannya, sosok yang mirip Pak Warno kembali ke rumah. Wajahnya datar, matanya kosong. Ia hanya berkata ingin mengambil uang makan, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Belakangan terungkap, Pak Warno tidak menuju pasar. Ia berjalan ke arah pemakaman tua di ujung hutan, tempat yang dikenal warga sebagai kawasan angker.

Di sanalah ia menjalankan ritual pesugihan dengan cara menjual garam kasar kepada para penunggu makam. Garam itu menjadi alat transaksi dengan makhluk tak kasat mata demi kekayaan instan.

Ada satu pantangan utama dalam ritual tersebut. Pak Warno tidak boleh bersuara atau berbicara saat menyerahkan garam. Namun malam itu, suara lolongan anjing dari arah hutan membuatnya terkejut. Refleks, ia berteriak.

Detik-detik Nyawa Dipertaruhkan

Teriakan itu menjadi pelanggaran fatal. Tanah di sekitar makam bergerak, sosok-sosok hitam bermata merah muncul dan menyeret tubuh Pak Warno.

Ia tak mampu melawan. Beruntung, azan subuh berkumandang dari kejauhan. Suara suci itu membuat makhluk-makhluk tersebut menghilang.

Warga menemukan Pak Warno pingsan di pemakaman, tubuhnya basah kuyup dan dipenuhi butiran garam kasar. Ia segera dilarikan ke puskesmas dalam kondisi kritis.

Pengakuan Terakhir Pak Warno

Di hadapan Bu Ida, Pak Warno akhirnya mengaku. Selama setahun terakhir, ia melakukan pesugihan jual garam kasar setelah bertemu seseorang misterius di pasar yang memberinya jalan pintas kekayaan. Semua itu ia lakukan agar istrinya bahagia dan tak lagi dipandang rendah.

Namun pelanggaran pantangan membuat nyawanya menjadi jaminan. Dengan napas tersisa, Pak Warno meminta maaf dan memohon keikhlasan. Tak lama kemudian, ia mengembuskan napas terakhir.

Baca juga: Kisah Mistis Tumbal Susuk Nyai Sukandir: Konon Teror yang Turun-Temurun dari Leluhur!

Ilustrasi Penjual Garam Kasar. (Foto: Freepik @cookie-studio)

Pak Warno dimakamkan di pemakaman yang sama, tempat ritual terlarang itu dilakukan.

Sebulan setelahnya, Bu Ida menjual rumah tersebut dan pindah ke Surabaya. Ia memulai hidup baru dengan berjualan nasi pecel. Hidupnya kini sederhana, namun jauh lebih tenang.

Kisah Pak Warno menjadi pengingat bahwa kekayaan yang datang dari jalan gelap selalu menuntut harga mahal.

Rezeki yang jujur mungkin terasa lambat, tapi membawa kedamaian yang tak bisa dibeli dengan emas sebanyak apa pun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU