Senin, 13 OKTOBER 2025 • 18:40 WIB

Kisah Pelet Jundai: Cinta yang Kandas Berujung Kutukan dari Tanah Minang

Author

Ilustrasi Pelet Jundai. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Di Tanah Minang, cinta, dan dendam kadang berjalan beriringan. Cerita tentang Pelet Jundai ini jadi bukti nyata bagaimana rasa sakit hati bisa berubah jadi kekuatan mistis yang mematikan.

Kisah mistis ini bukan cuma menyeramkan, tapi juga penuh pesan tentang karma, cinta, dan kesombongan manusia.

Yuk, simak kisah pelet jundai dilansir dari YouTube/OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!

Baca juga: Kisah Mistis Pelet Tali Gaib: Saat Cinta Lama Jadi Jerat Tak Kasat Mata

Awal Mula: Wahyudi dan Cinta yang Dihina

Wahyudi dulunya cowok ganteng, muda, dan sukses. Banyak cewek yang suka, tapi hatinya cuma untuk satu hal yaitu kesombongan.

Sampai akhirnya datang seorang gadis sederhana bernama Sari, yang berani mengungkapkan perasaannya di depan banyak orang.

Sayangnya, bukannya menghargai, Wahyudi malah menghina dan mempermalukannya habis-habisan di depan warga desa.

“Dasar perempuan kampung! Gak tahu malu!” katanya waktu itu. Tawa teman-temannya pecah, sementara hati Sari retak.

Sejak hari itu, Sari menghilang. Gak ada yang tahu ke mana dia pergi, tapi dari sinilah bencana dimulai.

Kutukan yang Datang Perlahan

Beberapa bulan setelah kejadian itu, hidup Wahyudi mulai berubah. Badannya lemas, wajahnya cepat menua, dan tubuhnya bau busuk seperti bangkai.

Setiap malam, dia cuma bisa menjerit, memanggil nama Sari sambil menggigil di kursi roda tuanya.

“Aku gak bisa tidur kalau gak peluk dia!” katanya berulang-ulang. Ibunya, Bu Rina, sudah keliling cari pengobatan.

Dari dokter sampai ustaz. Tapi hasilnya nihil. Ustaz Malik, orang terakhir yang datang, justru bilang sesuatu yang bikin bulu kuduk berdiri.

“Ini bukan penyakit, Bu. Ini pelet. Pelet Jundai dari Minang.”

Apa Itu Pelet Jundai?

Menurut Ustaz Malik, Pelet Jundai adalah ilmu kuno dari Minangkabau. Ilmu ini digunakan untuk menaklukkan cinta, tapi dengan cara mengikat jiwa korban.

Sekali kena, korban bakal tergila-gila, kehilangan akal, bahkan bisa hidup dalam keadaan setengah mati, tubuhnya rusak, tapi pikirannya masih terikat pada orang yang mempelet.

“Dia hidup, tapi cuma jadi bangkai bernyawa,” kata sang ustaz.

Perjalanan ke Dukun Tua

Bu Rina akhirnya nekat menemui seorang dukun tua bernama Pak Ranggo di Jorong Sungai Tambang. Lelaki renta itu dikenal bisa menangani kasus pelet berbahaya.

"Anakmu kena Pelet Jundai," kata Pak Ranggo datar.

"Yang buat bukan orang biasa. Dia perempuan yang hatinya udah berubah jadi batu,” sambungnya.

Dari Pak Ranggo, Bu Rina tahu kalau pelet itu dibuat dengan campuran rambut korban, tanah kuburan, bunga layu, dan darah perawan.

Ritualnya dilakukan dengan niat dendam. Nah, hanya satu cara untuk memutusnya: pengirim pelet harus memaafkan atau menikahi korban.

Baca juga: Pelet Patok Kuburan: Rawa Pening Jadi Saksi Kutukan Cinta yang Diselimuti Kisah Mistis

Ilustrasi Pelet Jundai. (Foto: Freepik @Freepik)

Rahasia Kelam Masa Lalu

Lewat Pak Idrus, tetua kampung, akhirnya semua terungkap. Sari memang pernah dihina berat oleh Wahyudi.

Karena malu dan kecewa, dia pergi ke hutan Jorong Lubuak, tempat yang katanya jadi markas dukun legendaris: Mak Jundai. Sejak itu, Sari gak pernah kembali dalam bentuk yang sama.

Warga yang dulu mengenalnya bilang, Sari sekarang makin cantik, sukses, tapi ada aura aneh di wajahnya, pucat, dingin, dan menakutkan.

Matanya kosong, seperti gak ada nyawa,” kata salah satu warga.

Pertemuan yang Terlambat

Beberapa tahun kemudian, Bu Rina nekat mengundang Sari ke rumah. Ia berharap, bisa minta maaf agar Wahyudi sembuh. Tapi Sari datang bukan untuk berdamai.

“Aku cuma mau pastiin dia masih memanggil namaku,” katanya sambil tersenyum tipis.

Rina memohon agar Sari melepaskan kutukan itu, tapi Sari malah tertawa keras.

“Dia sudah jadi bangkai, Bu. Aku gak mau sama laki-laki yang sudah mati rasa," ujar Sari.

Sejak malam itu, rumah Wahyudi semakin mencekam. Suara tangisan dan tawa misterius sering terdengar. Semua pembantu kabur, dan Wahyudi makin parah.

Tubuhnya kurus, wajahnya rusak, dan tiap malam ia menggambar wajah Sari dengan darahnya sendiri di dinding.

Akhir yang Tragis

Pada malam purnama, Wahyudi merangkak keluar dari rumahnya, meninggalkan kursi roda. Ia menuju gubuk tua di ujung desa, tempat terakhir di mana Sari dulu pernah tinggal.

“Sari, aku datang!” teriaknya.

Pintu gubuk terbuka, menampakkan sosok Sari yang cantik tapi menyeramkan. Matanya kosong, kulitnya pucat. Ia tersenyum dingin sebelum menutup pintu.

Dari balik pintu terdengar tawa keras dan suara tubuh yang jatuh ke tanah. Setelah itu, sunyi.

Keesokan paginya, warga menemukan tubuh Wahyudi kaku di depan gubuk itu. Di tangannya, tergenggam bunga liar yang sudah layu.

Sementara di dalam gubuk, tak ada siapa pun, hanya aroma melati dan tanah basah yang pekat di udara.

Baca juga: Pelet Daging Giling: Kisah Mistis di Balik Ramainya Warung Bakso

Ilustrasi Pelet Jundai. (Foto: Freepik @Freepik)

Kisah Pelet Jundai ini bukan sekadar horor tentang kutukan cinta. Ini juga pengingat, rasa sombong dan mempermainkan hati orang bisa berujung petaka.

Kadang, yang disakiti gak membalas dengan tangan, tapi dengan doa atau dalam kasus ini, dengan ilmu hitam yang memakan jiwa.

Nah, di Tanah Minang, legenda Pelet Jundai masih dipercaya hingga kini. Kalau kamu menghina cinta yang tulus, jangan heran kalau suatu malam kamu mendengar suara yang memanggil namamu dengan lirih dari balik kabut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU